------------------------------------------------------------------------------------------------------
IWAN ANDRIK, BANGIL, Radar Bromo
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kerutan di wajahnya memang menunjukkan usianya tak lagi muda. Tenaganya pun tak seperti saat remaja. Namun, jangan Tanya semangatnya dalam menulis kitab. Tetap membara laksana remaja sedang mekar-mekarnya.
Itulah kesan saat bertemu Muhammad Faiz Abdul Razzaq, 85. Ustadz Faiz-sapaannya, bukan sekedar seniman kaligrafi yang karyanya mendunia. Dia juga seorang penulis kitab. Bahkan, sudah banyak kitab yang ditulisnya dan dicetak untuk kebutuhan ummat.
“Usia saya memang sudah menua. Tapi, semangat saya masih membara. Saya tetap menulis sampai saat ini,” kata Ustadz Faiz saat ditemui di rumahnya, Perum Permata Asri, Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil.
Sejak kecil, Ustadz Faiz memang mahir menulis Arab. Kemahirannya itu diturunkan dari abahnya, Almarhum KH. Abdul Razzaq Muhlie. Abahnya sendiri memang seorang penulis kitab. Sering mendapat pesanan penulisan kitab dari para nabhan atau orang yang dimuliakan.
Faiz kecil kala itu sering dimintai tolong oleh abahnya untuk mengantar pesanan yang sudah selesai. Hingga suatu hari, ia dimintai tolong untuk membantu abahnya menulis kitab pesanan seorang Arab.
Sebagai hadiah, ia dijanjikan akan diberi jam tangan. Iming-iming itu membuatnya tergiur. Faiz pun mengerjakan dengan sepenuh hati kala itu. Siapa yang menyangka, karya tulisannya itu tak hanya membuatnya dipuji karena bagus. Tapi juga, membuatnya bisa mendapat arloji seperti yang dijanjikan abahnya.
Sejak saat itu, Faiz pun makin sering diminta bantuan abahnya menulis kitab. Dia pun tak lagi diminta sekedar mengantar tulisan. Ia juga membantu abahnya menyelesaikan kitab. Bahkan, lebih cepat. Jika abahnya mampu menyelesaikan dua halaman, ia bisa menyelesaikan empat halaman kitab.
“Sejak sekitar usia 14 tahun saya mulai membantu abah untuk menulis kitab,” kenangnya.
Dia masih ingat. Kala itu ada kitab karangan Bisri Mustofa bertajuk margining keanteban yang ditulisnya ulang. Tulisan yang semula kurang bagus, ditulis ulang olehnya agar bagus untuk kemudian dicetak. Bukan hanya karangan Bisri Mustofa, karena banyak kitab lainnya yang ditulisnya ulang dalam bahasa Arab.
“Pagi sekolah, pulangnya nulis kitab. Itu sudah menjadi kebiasaan saya waktu itu,” bebernya.
Bahkan ketika usianya 19 tahun, ia mendapatkan bos nabhan dari Arab Saudi sendiri. Ia menuliskan kitab-kitab untuk bosnya tersebut. Hal itu membuat abahnya bangga dengan kemampuannya.
Karena kemampuannya itu, Ustad Faiz yang kemudian mondok di Ponpes Kulliyatul Muallimin Gontor, sempat mendapat pengalaman unik saat mondok. Ia yang memang sering mengoreksi tulisan Alquran ataupun kitab-kitab, dilaporkan oleh kakak tingkatnya ke kiai di pondok.
Alasannya, Ustad Faiz dianggap melakukan hal tak patut. Yaitu, mencoret-coret kitab. Kiai pun datang dan langsung mengecek kitab yang dicoret-coretnya.
Namun, bukanlah amukan yang didapat. Melainkan sebuah rangkulan. Karena sang kiai sadar bahwa Faiz saat itu sedang memperbaiki tulisan.
Sejak itu pula, ia mendapat perlakuan istimewa. Salah satunya saat makan. Ia tak lagi harus antre berlama-lama seperti santri lainnya saat jam makam.
Ia juga mendapat percepatan kenaikan kelas. Dari yang semula tingkat satu, langsung melompat ke tingkat tiga. “Berawal dari situ pula, saya mulai dipercaya untuk menulis kitab,” kenangnya.
Sejumlah kisah menarik pun terus dialaminya selama mondok. Kemahirannya menulis kitab membuatnya kembali naik tingkat. Dia naik kelas 5 dengan cepat. Bahkan, ia sempat hendak dijadikan menantu oleh kiainya.
Ustaf Faiz juga sempat mendapat panggilan ke Kairo pada 1959 untuk kuliah dengan beasiswa. Namun, karena merasa tak mampu menanggung biaya hidup yang mahal, akhirnya peluang itu tak diambilnya.
Gagal ke Mesir, Ustadz Faiz lantas merantau ke Jakarta. Saat itu ia bertemu dengan seseorang yang suka dengan tulisannya. Orang tersebut mengajaknya untuk kerjasama. Menyusun kamus, Arab-Indonesia.
Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan bos yang memintanya untuk membuat tulisan kitab. Ratusan kitab pun mampu dibuatnya sejak 1962 hingga 1969. Seperti kitab Ahlaq Lilbanin, Khulason Nurul Yakin dan kitab-kitab lain beserta cover-covernya.
“Saya juga sempat menulis Alquran Istiqlal pada era Bapak Soeharto bersama tim yang diselesaikan selama lima tahun,” ungkap suami dari Hj. Hanifah tersebut.
Hingga kemudian, ia memilih untuk pindah ke Bangil pada akhir 1969. Selain menulis kitab, ia juga menjadi tenaga pengajar di beberapa ponpes. Seperti di Ponpes Persis, Asem Bagus, hingga Sidogiri dan beberapa ponpes lainnya.
Kemampuan Ustadz Faiz menulis tulisan Arab yang indah, tidak hanya untuk kitab. Ia juga dipercaya menghiasi masjid dengan kaligrafi. Seperti masjid Al Falah, Istiqlal di Jakarta, dan masjid Polda Jatim. Bahkan pernah dia menuliskan tulisan arab pada Kiswah untuk Kakbah pada 1981.
Meski tampak sukses, Ustadz Faiz juga pernah merasakan hidup yang kelam. Ketika ia dan orang tuanya tinggal di Bogor untuk ikut bos, dia harus tinggal di sebuah rumah yang berada di pinggir sungai.
Naskah yang dibuat hilang. Sehingga membuat mereka harus bekerja dari awal membuat tulisan lagi. “Pernah diputus kerja, hingga kami tidak punya apa-apa. Sampai akhirnya, menemukan bos baru yang bisa membantu kehidupan kami dari tulisan yang kami buat,” tutur bapak tujuh anak ini. (hn) Editor : Ronald Fernando