FAHRIZAL FIRMANI, Kedopok, Radar Bromo
Senyum semringah terlihat dari bibir Steve Delphi Basori. Berulang kali ia melihat piagam penghargaan miliknya dengan bangga. Maklum, ia baru saja meraih juara pertama Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Jogjakarta, pekan lalu.
Steve memang menyukai matematika sejak kecil. Saat masih di TK B, ia sudah mengikuti les sempoa. Saat ada soal susah, ia selalu penasaran untuk mengerjakan. Ia tidak akan berhenti mencoba hingga menemukan jawabannya.
Saat kelas 4 SD, pihak sekolah menyeleksi siswa yang unggul dalam mata pelajaran matematika untuk mengikuti kelas olimpiade sains. Ada 17 orang yang ikut seleksi untuk matematika. Usai mengikuti tes tiga kali, Steve dinyatakan lulus.
Ia langsung diberi bimbingan untuk mengikuti OSN tingkat Kota Probolinggo pada tahun 2021. Selama tiga bulan mulai Maret hingga Mei, ia mengikuti bimbingan di sekolah. Karena pandemi, bimbingan berlanjut di rumah.
"Saya berhasil menjadi juara pertama dalam OSN tingkat kota itu. Alhamdulillah, kompetisi pertama langsung menjadi juara pertama," katanya.
Dari sini, setiap kali ada kompetisi matematika, Steve selalu diikutkan oleh pihak sekolah. Selain meraih juara OSN pada 2021, dia telah meraih gelar juara sembilan kali. Sejak 2021 hingga 2023.
Antara lain, juara pertama OSN tingkat Kota Probolinggo pada 2022. Lalu, peringkat tiga Olimpiade Matematika Detik MSC 26 tingkat Provinsi Jawa Timur pada 2022. Dan peringkat tiga di Olimpiade Matematika yang dilaksanakan di Universitas Islam Malang (Unisma).
Kemudian, juara pertama Olimpiade Matematika Optima di SMP Taruna dra Zulaeha Leces tahun 2022 tingkat Kota/Kabupaten Probolinggo. Juara pertama di kompetisi yang sama pada tahun 2023, kembali diraihnya.
Berikutnya, dia meraih juara pertama di kompetisi Sainstarium 2022 dan Olimpiade Matematika Osaka Plus 2023. Terakhir ia meraih juara pertama Olimpiade Matematika dan Sains (Omnas) mulai tingkat kota hingga nasional.
"Omnas tingkat kota diraih pada November lalu. Tingkat provinsi diselenggarakan Januari lalu. Sementara tingkat nasional awal bulan ini," jelas Steve.
Bungsu dari dua bersaudara ini menceritakan, pada Omnas tingkat Kota Probolinggo, ada lima orang termasuk dirinya dari SD Sukabumi 2 yang mengikuti kompetisi ini. Total pesertanya 23 anak.
Soalnya meliputi aljabar, geometri, dan logika matematika. Semuanya berupa pilihan ganda sebanyak 25 soal. Mereka harus menyelesaikan dalam waktu 60 menit.
Sementara tingkat Provinsi Jawa Timur diikuti oleh 360 peserta dengan 30 soal yang harus dikerjakan dalam 60 menit. Sebanyak 25 soal di antaranya berupa pilihan ganda dan lima soal berupa uraian.
Lalu Omnas tingkat nasional, diikuti 841 perserta. Ada 15 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 90 menit. Berupa 10 soal isian singkat dan lima uraian. Tema soal sama seperti Omnas tingkat Provinsi Jawa Timur.
"Bimbingan dilakukan rutin sepekan sekali setiap Rabu sore pukul 15.00 sampai 17.00. Namun, mendekati kompetisi, bimbingan lebih diintensifkan dua kali dalam sepekan," jelas Steve.
Siswa yang baru saja diterima di SMPN 5 ini menyebut, ia lebih suka soal uraian daripada pilihan ganda. Sebab, ia bisa menjelaskan cara hitung dan rumus yang digunakan. Apalagi bobot nilainya tinggi. Sedangkan pilihan ganda kadang tidak ada jawabannya.
"Pernah saya tanya ke penguji, katanya memang ada satu atau dua soal yang tidak ada jawabanya. Mungkin karena pembuat soalnya kurang hati-hati," sebut putra dari pasutri Basori dan Sulistiana Ningsih ini.
Steve mengaku, kunci suksesnya yaitu rajin latihan. Ia sering mencari rumus cepat di Google. Jika hasilnya berbeda, maka ia akan menanyakan rumus tersebut pada guru pembimbingnya.
"Saya ingin terus meraih sukses di kompetisi matematika. Harapannya bisa menjadi programmer. Karena memang suka berhitung," tuturnya.
Sulistiana Ningsih, ibu dari Steve pun mengaku selalu mendukung dan memfasilitasi Steve agar selalu meraih prestasi. Sejak kecil, Steve sudah diikutkan les sempoa, renang, dan musik. Ia tidak memaksa apa yang menjadi pilihan Steve.
"Anak saya ini juga ikut program Tahfiz. Dia sudah hafal 3 juz. Mungkin ini salah satu penyebab dia mudah dalam menghafal. Sebab, terbiasa menghafal Alquran," terang Ningsih.
Riana, kasek SDN Sukabumi 2 menuturkan, memang ada olimpiade MIPA sebagai ekstrakurikuler pilihan siswa di sekolahnya sejak tahun ajaran 2020/2021. Dan sebelum mengikuti kelas ini, mereka diseleksi. Sehingga, yang ikut memang benar-benar yang berbakat. Yang mengikuti mulai kelas IV sampai kelas V.
"Selain mendapatkan bimbingan sekolah, anak yang ikut ekstra olimpiade MIPA ini juga mendapat bimbingan pribadi. Saya harap Steve tetap sering ke sekolah untuk sharing ilmu walau sudah lulus," sebutnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin