Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Buah Catur Buatan Warga Parerejo Ini Dipasarkan hingga India

Jawanto Arifin • Kamis, 15 Juni 2023 | 19:43 WIB
SAMPAI LUAR NEGERI: Ahmad Kosim, 54, menunjukkan buah catur produksi home industry miliknya. Buah catur itu dipasarkan ke sejumlah kota besar di dalam negeri, juga ke sejumlah negara di luar negeri. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)
SAMPAI LUAR NEGERI: Ahmad Kosim, 54, menunjukkan buah catur produksi home industry miliknya. Buah catur itu dipasarkan ke sejumlah kota besar di dalam negeri, juga ke sejumlah negara di luar negeri. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)
Dari Dusun Blimbing di Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, buah catur itu terjual hingga keluar negeri. Perajinnya yaitu Ahmad Kosim, 54, merupakan satu-satunya perajin buah catur di desanya.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi, Radar Bromo

Sudah 15 tahun lamanya Ahmad Kosim menekuni kerajinan catur. Dia khusus memproduksi buah catur. Tentu saja, Kosim tidak sendirian membuat buah catur itu. Dia mempekerjakan 15 karyawan untuk membantunya memproduksi buah catur itu. Semuanya adalah warga sekitar

Meski kini berkembang, Kosim memulai usahanya itu sendirian. Pada tahun 2008, bapak dua anak itu membuat sendiri buah catur di rumahnya. Hanya dibantu anggota keluarganya.

Awalnya, dia bekerja pada seorang perajin catur di Desa Sentul, Kecamatan Purwodadi. Saat itu, dia belajar secara otodidak membuat buah catur. Setelah mahir, Kosim memutuskan untuk memproduksi sendiri buah catur di rumahnya.

“Keluarga mendukung saya untuk memproduksi catur sendiri di rumah. Karena itu, akhirnya saya memutuskan untuk mandiri sampai sekarang,” tutur suami dari Ayatin ini.

Kosim pun mulai sibuk membeli bahan baku untuk membuat buah catur. Yaitu, kayu mentaos dan sawo yang dibelinya dari sekitaran Pasuruan.

Kayu ini dipilih karena teksturnya tidak terlalu keras. Selain itu, mudah dibentuk dan harganya murah atau terjangkau.

Bahan baku lainnya adalah cat. Lalu kain beludru yang ditempelkan pada bagian bawah buah catur setelah sudah jadi.



Sementara, peralatan yang dipakai di antaranya mesin pemotong, bubut untuk kayu, peralatan pahat, gergaji potong. Lalu, semprotan cat dan kompresor angin.

“Proses pembuatan dari bahan baku mentah hingga jadi, bisa dilakukan dalam sehari. Ada yang dikerjakan di rumah saya. Ada juga yang dikerjakan di rumahnya oleh karyawan saya. Setelah dapat banyak, disetorkan ke saya,” bebernya.

Untuk buah catur yang diproduksinya, satu setnya ada lima model. Isinya tidak selalu sama. Menyesuaikan dengan permintaan pemesan.

Sementara untuk papan caturnya, Kosim tidak membuatnya sendiri. Dia mendatangkan dari perajin asal Malang yang sekaligus menjadi mitranya selama ini.

“Untuk papan caturnya saya beli dari perajin lain. Kemudian keluarnya, saya jual satu set papan catur dan buahnya dengan harga sekitar Rp 120 ribu,” ucapnya.

Dalam sehari, puluhan set buah catur diproduksi. Pemasarannya antara lain ke Jakarta, Surabaya, Semarang, Bali, Blitar, Malang, Gresik, dan lain-lain. Bahkan, produknya itu dikirim sampai keluar negeri. Seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan India.

“Saya mengirim barang langsung ke distributor dan toko-toko. Dalam jumlah besar, sekali kirim bisa 200 sampai 300 set. Pembeli yang datang langsung ke rumah juga ada. Tetap saya layani,” cetusnya.

Dalam sebulan, omzet dari usahanya memproduksi buah catur rata-rata Rp 75 juta. Kadangkala bisa sampai lebih atau di bawahnya.



Dari sini, Kosim bisa memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari keluarganya. Termasuk ditabung. Bahkan, bisa bisa membayar 15 karyawan.

“Modal terbesar itu untuk beli bahan baku dan membayar gaji karyawan. Sisanya baru ditabung dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga,” ujarnya.

Selama 15 tahun itu, home industry miliknya terus berkembang dan eksis. Kosim pun berniat terus menekuninya. Selain menjadi usahanya, juga bisa membayar karyawan di lingkungan sekitar rumahnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#buah catur #UMKM Pasuruan