ARIF MASHUDI, Mayangan, Radar Bromo
DI sela-sela kesibukan jam pelayanan di Poli Spesialis Bedah Saraf, dr. Abdi Saputro, Sp.BS masih sempat menemui Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (3/5). Belum sebulan dia bertugas lagi di RSUD dr. Mohamad Saleh setelah menyelesaikan sekolah spesialis bedah saraf pada akhir Januari 2023.
Setelah visite pasien yang baru menjalani bedah saraf di ICU, dokter kelahiran Blitar, 1 Mei 1988 itu menceritakan perjuangannya hingga berhasil menyelesaikan sekolah spesialis di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Abdi sendiri lulusan fakultas kedokteran Universitas Brawijaya pada 2012. Selepas itu, dirinya bertugas dan mengabdi di RSUD dr. Mohamad Saleh.
Saat itu, dia bertugas sebagai dokter jaga di IGD. Selama menjadi dokter jaga itulah, dia melihat banyak pasien IGD yang butuh penanganan bedah saraf. Namun, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis bedah saraf.
Karena itu, ujung-ujungnya mereka pasti selalu dirujuk ke rumah sakit rujukan. Bisa ke rumah sakit di Malang, Surabaya atau Jember.
”Saya awal bertugas dan mengabdi ya di RSUD dr. Mohamad Saleh ini. Pernah pindah tugas di Puskesmas Jati dan Ketapang. Sampai akhirnya kembali lagi ke rumah sakit ini,” tutur bapak dua anak itu.
Selama mengabdi di RSUD dr. Mohamad Saleh itu, banyak dorongan pada dirinya untuk melanjutkan sekolah. Lalu atas rekom dan support Pemkot Probolinggo, dia pun mendapat kesempatan melanjutkan sekolah spesialis. Bahkan, dr. Abraar HS. Kuddah saat itu mengenalkan padanya guru-guru yang ada di sekolah spesialis di Universitas Diponegoro Semarang.
“Waktu itu dokter Abraar juga mendorong saya untuk melanjutkan sekolah spesialis. Karena hampir tiap hari ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit yang ada pelayanan bedah saraf. Dari situ, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah spesialis bedah saraf,” terang suami dr. Ajeng Sekar Putih Ningrum itu.
Sekitar 5,5 tahun lamanya, Abdi harus berjuang menyelesaikan sekolah spesialis bedah saraf. Hingga akhirnya pada Desember 2022, dia lulus dan diwisuda pada akhir Januari 2023.
Banyak perjuangan yang harus dia laluinya bersama keluarganya selama sekolah spesialis. Termasuk istrinya yang banyak berkorban.
”Selama saya sekolah, istri menjadi tulang punggung keluarga. Sukanya, cita-cita mencapai menjadi dokter spesialis dan melayani masyarakat Probolinggo akhirnya tercapai,” ungkap dokter yang kini tinggal di Jl. Semeru 9, Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Karena merasa mendapat support dan dorongan dari Pemkot, Abdi pun memutuskan untuk mengabdi di RSUD dr. Mohamad Saleh. Dirinya pun ingin, ilmu yang dimilikinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Khususnya warga Kota Probolinggo. Sehingga, pasien yang perlu mendapat penanganan bedah saraf tidak lagi harus dirujuk ke rumah sakit lain.
”Alhamdulillah sudah ada tiga pasien bedah saraf yang ditangani di rumah sakit ini. Satu pasien harus menjalani operasi bedah saraf pada Selasa (2/5) malam, karena mengalami pendarahan pada saraf otak. Alhamdulilah setelah operasi kondisi pasien sudah membaik,” tambahnya.
Namun, pelayanan bedah saraf di RSUD dr. Mohamad Saleh baru digratiskan pada pasien yang terkover asuransi dan jasa raharja. Dirinya berharap, ke depan BPJS Kesehatan juga dapat mengkover pelayanan bedah saraf gratis di rumah sakit.
”Layanan untuk pasien BPJS masih berproses, semoga ke depan bisa terkover. Kemudian alat kesehatan untuk bedah saraf semakin lengkap. Sehingga, tindakan cakupan kasus bedah saraf dapat ditangani lebih luas,” terangnya.
Sementara itu, dr. Abraar HS. Kuddah selaku Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh menegaskan, pihaknya memang berkomitmen meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Khususnya warga Kota Probolinggo. Adanya dokter spesialis bedah saraf di RSUD tentu sebuah hal yang sangat baik.
”Namun, memang pelayanan gratis (bedah saraf) belum bisa dilakukan karena belum dicover bpjs. Kami akan upayakan BPJS kesehatan segera dapat mengkover pasien untuk pelayanan bedah saraf di RSUD. Karena di rumah sakit lain seperti Surabaya dam Malang, pasien BPJS dapat terkover layanan bedah saraf,” tegasnya.
Terpisah, Wali Kota Probolinggo, Hadi Zaenal Abidin mengatakan, kini di RSUD dr. Mohamad Saleh ada poli bedah saraf setelah memiliki dokter spesialis bedah saraf. Dan hal itu menurutnya, butuh proses panjang.
Pemkot sendiri berkomitmen meningkatkan pelayanan kesehatan. Dan dengan adanya dua rumah sakit daerah, nantinya kolaborasi bisa dilakukan dalam peningkatan spesialistik.
RSUD dr Mohamad Saleh akan dikhususkan pada peningkatan penanganan spesialis. Sedangkan RSUD Ar-Rozy lebih pada penanganan kesehatan secara umum.
”Harapannya, ke depan pelayanan kesehatan dapat ditangani di RSUD dr. Mohamad Saleh, tidak perlu dirujuk ke rumah sakit lain. Ke depan akan kami sempurnakan spesialis lainnya. Semua kebutuhan alkes dokter spesialis akan dipenuhi dan disempurnakan,” ungkapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin