------------------------------------------------------------------------------------------------------
CITA-citanya itu tidak lepas dari profesi sang ayah, Kiai Ahmad Yusuf Cholil, yang juga seorang guru. Layaknya anak-anak lain, Gus Ipul juga memiliki keinginan untuk meneruskan perjuangan ayahnya menjadi guru. Namun Gus Ipul memiliki pemikiran sedikit berbeda.
“Saya dulu ingin sekali menjadi guru madrasah. Saya melihat guru madrasah adalah pekerjaan yang sangat mulia sekali,” ucap Gus Ipul.
Untuk mewujudkan cita-citanya, Gus Ipul menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang. Dia lalu melanjutkan SMP Islam Pasuruan dan berjenjang pada pendidikan SMA.
Setelah menamatkan pendidikan SMA, sang paman, K.H. Abdurrahman Wahid atau yang terkenal dengan panggilan Gus Dur mendatangi ayah Gus Ipul. Gus Dur meminta supaya Gus Ipul ikut ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan menimba ilmu kehidupan di ibu kota.
Ajakan Gus Dur sempat bertepuk sebelah tangan. Sebab Gus Ipul terang-terangan menolak untuk hidup di Jakarta. Saat itu, dia masih berkeras mewujudkan keinginannya menjadi guru madrasah. Namun Gus Dur juga tidak patah arang. Dia bahkan meminta kepada orang tua Gus Ipul sampai tiga kali.
Baru setelah itu, ayahanda Gus Ipul, Ahmad Yusuf Cholil memintanya secara khusus supaya ikut Gus Dur ke Jakarta. Meski berat hati, Gus Ipul akhirnya harus meninggalkan keluarganya demi menjalankan perintah sang ayah. Saat itu juga, dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya menjadi guru madrasah.
Gus Ipul lalu melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nasional. Sembari kuliah, Gus Ipul juga menyelami ilmu dari ketokohan Gus Dur yang pada masa itu menjabat sebagai Ketua Umum PB NU. Inilah titimangsa terpenting dalam perjalanan hidupnya sebelum mengenal dunia politik.
Dalam organisasi, Gus Ipul mengawali debutnya ketika bergabung dengan GP Ansor. Tahun 1999, Gus Ipul dipercaya untuk menggantikan posisi ketua umum karena pimpinan kala itu, Iqbal Assegaf wafat. Selang setahun, Gus Ipul kembali dikukuhkan sebagai ketua umum GP Ansor. Keaktifannya di NU tidak lepas dari darah yang mengalir di tubuhnya. Ia merupakan cicit dari salah satu pendiri NU, yakni K.H. Bisri Syansuri, Rais ‘Aam PBNU 1971-1980.
Gus Ipul juga pernah menjadi anggota DPR Fraksi PDI-P. Bahkan ia disebut-sebut sebagai lambang aliansi Gus Dur dengan Megawati Soekarnoputri. Gus Ipul kemudian memutuskan untuk hengkang dari Senayan setelah berlabuh ke PKB pada 2001. Pada muktamar PKB tahun 2002, Gus Ipul terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKB mengalahkan kandidat-kandidat kuat lain.
Di masa Presidan Susilo Bambang Yudhoyono, suami dari Fatma Saifullah Yusuf ini mendapat amanah baru sebagai Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI. Di sisi lain, pria kelahiran Purwosari, Pasuruan ini tetap menjabat sebagai petahana Ketua Umum GP Ansor untuk periode 2005-2010.
Saat usianya menginjak 44 tahun, Gus Ipul mendampingi Soekarwo maju dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Duet keduanya langgeng hingga menuntaskan jabatan selama dua periode.
Setelah kembali menjadi petani, sejumlah kiai mendorongnya untuk maju dalam Pilwali Kota Pasuruan 2020. Bagi Gus Ipul, amanah memang bisa dimana saja. “Jadi kalau diberi amanah itu ya jangan maunya yang besar-besar, yang kecil nggak mau. Tidak boleh dipahami seperti itu,” katanya.
Menurutnya, amanah bukan sekedar soal besar atau kecilnya sebuah posisi dan kedudukan. Tetapi soal kepercayaan yang diberikan. Karena itu, dia berusaha memegang amanah itu sebaik mungkin. Termasuk ketika memimpin kota dengan anggaran yang sangat terbatas seperti sekarang.
“Semua perlu kerja keras dan kemauan. Seperti yang kami lakukan sekarang adalah memberikan sentuhan-sentuhan yang bisa membawa perubahan terhadap Kota Pasuruan,” katanya.
Praktis, keinginannya menjadi guru madrasah memang harus dipendam. Namun, Gus Ipul tidak serta merta abai dengan segala persoalan yang berkaitan dengan madrasah. Baik saat menjadi Wakil Gubernur maupun Wali Kota Pasuruan saat ini. Lahir dari keluarga santri membuatnya memiliki perhatian khusus terhadap dunia pendidikan agama. Salah satunya, dengan meningkatkan honor guru madin yang menjadi salah satu terobosannya tahun ini.
“Ini juga kami lakukan karena melihat penting dan mulianya peran guru madin,” kata Sekjen PBNU tersebut.
Apalagi mereka yang akan membidani lahirnya santri-santri yang akan memimpin bangsa di masa mendatang. Karena itu, Gus Ipul berpesan agar para santri tidak hanya piawai dalam mengaji atau mengamalkan ilmu agama. Menurut dia, santri juga mesti terlibat aktif dalam pembangunan.
“Jadi pintar ngaji itu tetap yang utama. Namun sebenarnya ada tiga hal yang juga penting dimiliki santri. Yakni ilmu pengetahuan, takwa dan teknologi. Kalau tiga hal ini dikuasai, maka pembangunan kedepan akan jauh lebih pesat dan besar manfaatnya untuk kemaslahatan,” pungkasnya. (tom/fun) Editor : Ronald Fernando