------------------------------------------------------------------------------------------------------
GUS MUJIB–sapaan akrab K.H. Abdul Mujib Imron–mulai terjun ke dunia politik dengan politik kebangsaan sejak menjabat sebagai ketua PC NU pada periode pertama. Wakil Bupati Pasuruan ini mengawali perjuangan politik kebangsaan dengan turut membidani lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dilatarbelakangi harapan warga nahdliyin yang ingin memiliki sekoci dalam bentuk partai politik pada masa awal reformasi 1998. Hal ini disepakati para alim ulama dengan mendirikan PKB.
Kesepakatan itu disampaikan melalui Nahdlatul Ulama (NU). Mulai dari MWC, PC, PW, hingga PB NU. Ia yang saat itu menjabat sebagai ketua PC NU Kabupaten Pasuruan, aktif turut serta memperjuangkan harapan nahdliyin tersebut. Tetapi, Gus Mujib tidak ikut terjun dalam politik praktis. Lebih memilih istiqamah khidmah di NU. Namun, tetap memperkuat PKB dengan mengambil cuti sementara dari jabatan ketua PC NU pada saat kampanye.
Gus Mujib mengaku pernah diminta para masyayikh untuk menyalonkan diri menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Serta, diminta menjadi pengurus DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, kemudian atas permintaan keluarga, mengundurkan diri karena dirasa kurang aktif di pesantren.
Pada 2004, ia didorong dan direkomendasikan oleh PW NU Jawa Timur untuk mendaftarkan diri sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari daerah pemilihan Jawa Timur. Pendaftaran DPD merupakan independen.
“Alhamdulillah lolos. Mendapat suara hampir 1,5 juta dengan posisi terbanyak kedua di bawah K. H. Mahmud Ali Zain,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini ini.
Pada masa itu, Gus Mujib juga merangkap sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai mana anggota DPR. Ia belajar terkait legislasi berikut produknya. Termasuk cara bersidang.
Dalam kapasitas sebagai anggota MPR, Gus Mujib merupakan satu satunya perwakilan dari seluruh anggota DPD yang masuk pada jajaran pimpinan tim konstitusi, TAP MPR sekaligus Trainer Nasional bersama Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa dan Prof. Mahfud MD (dari Fraksi PKB).
Berkat itu, selain banyak pengalaman, juga banyak mengerti karakteristik dan watak berbagai masyarakat Indonesia. Ia sering melakukan sosialisasi konstitusi dan TAP MPR lainnya di seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan, tak jarang keluar negeri. Baik Asia, Eropa, Amerika, maupun Australia.
Namun, sebagai pengasuh pesantren dan dulu pernah nyantri, Gus Mujib tak lantas melupakan anak didiknya di pesantren. Setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, pulang. Memberikan pengajian kepada para santri dan masyarakat umum. Ia rela pulang setiap minggu karena ada amanat tersebut sekalipun sudah menjadi pejabat negara di Senayan-Jakarta.
Prinsipnya, istiqamah mengasuh pesantren merupakan amanat dari leluhur dan masyayikh. “Selama lima tahun di Jakarta, saya pulang-pergi. Senin pagi menuju Juanda ambil penerbangan pertama dan Kamis sore pulang. Karena Jumat dan Ahad pagi, pengajian sentral santri. Kecuali ada agenda khusus. Saya pulang Jumat sore,” ujarnya.
Gus Mujib mengaku tidak ujuk-ujuk terjun ke dunia politik. Bahkan, bukan kehendak pribadi. Ada satu hal yang menjadi pertimbangan keseriusannya. Yakni, perintah masyayikh, guru, dan ibunya.
Banyak pesantren yang pernah disinggahi untuk menuntut ilmu. Mulai di Sidogiri, Pasuruan; Sarang yang diasuh oleh K.H. Maimoen Zubair dan K.H. Romadhon; di Kudus, Jawa Tengah (Mbah Kiai Arwani); Senori, Tuban (Mbah Kiai Abul Fadhol); Tambak Beras, Jombang; hingga Pandeglang, Banten (Abuya Dimyati).
Sebelum aktif di politik, Gus Mujib juga merupakan aktivis NU. Ia aktif di NU bermula pada 1992. Masuk pada jajaran A’wan yang kemudian menjadi pengurus LBM MWC NU Wonorejo.
Pada 1994, Gus Mujib menjadi Ketua RMI Kabupaten Pasuruan dan K.H. Mahmud sebagai sekretaris hingga karir beliau meningkat menjadi Wakil Ketua RMI Jawa Timur pada 1999. Pada 1994, juga menjabat sebagai sekretaris LBM PC NU hingga naik pada posisi Ketua LBM PC NU Kabupaten Pasuruan menggantikan K.H. Jafar Shodiq.
Tidak hanya berhenti di tingkat cabang, ia juga masuk sebagai anggota LBM PW NU Jatim pada 2000. Pada 1996, masuk jajaran Wakil Ketua PC NU Kabupaten Pasuruan. Hinga akhirnya menjadi Ketua PC NU Kabupaten Pasuruan pada 1997. Menggantikan K.H. Abdullah Nashor yang saat itu meninggal dunia.
Pada 2001, melalui Konferensi PC NU di PP Terpadu Al-Yasini, Gus Mujib terpilih lagi menjadi ketua PC NU Kabupaten Pasuruan Periode 2001-2006. Pada 2002, PP Terpadu Al Yasini berkesempatan menjadi tuan rumah Konferwil PW NU Jawa Timur. Hal ini merupakan bentuk khidmah Gus Mujib kepada NU.
Sebagai ketua, Gus Mujib tetap takzim kepada para ulama sepuh. Bahkan, dalam rapat-rapat PC NU, sering menjemput para kiai. Seperti K.H. Abdul Ghofur Kholil (Rois), Kiai Jafar Shodiq, dan Kiai Badri Moyo. Hal itu dilakoni dengan penuh khidmat dan tulus sebagaimana dilakukan pada periode pertama.
Dalam perjalanan, Gus Mujib sering memanfaatkan untuk mengaji, meminta arahan, dan sesekali meminta ijazah doa kepada masyayikh yang diantar.
Riwayat organisasinya memang sudah tidak diragukan. Pada 2006-2011 menjabat sebagai wakil rois PC NU Kabupaten Pasuruan. Pada 2012, ia diminta gurunya sekaligus Rois Syuria terpilih (K.H. Abdurrohman Syakur) menjadi ketua Lembaga Pendidikan Maarif.
Waktu itu, timbul komitmen membantu Bupati Pasuruan Gus H. Irsyad Yusuf menjelang Pilkada. Membuat draf peraturan daerah tentang penyelenggaraan pendidikan. Hal itu dilakukan berbekal dair pengalaman selama menjadi DPD.
Syukur bisa semuanya sepakat. Baik NU, Muhammadiyah, dan Dewan Pendidikan. Bersama itu, diputuskanlah menjadi Perda Nomor 4/2014. Yang akhirnya menjadi dasar wajibnya pelajar sekolah dasar dan menengah harus mengikuti pendidikan madrasah diniyah dan TPQ hingga muncullah jargon Wak Muqidin (Wayahe Kumpul Bangun TPQ lan Madin)
Perda ini pula mendorong arah pembangunan Kabupaten Pasuruan 2018-2023 tahun pertama yang berbentuk pembangunan berbasis keluarga dan karakter (akhlak mulia).
Selama menjadi pejabat, Gus Mujib terus berkomitmen memperjuangkan kepentingan santri dan masyarakat luas. Pada prinsipnya, apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakat luas pasti akan diperjuangkan.
Ia mengatakan, komitmen Bupati bersama Gus Mujib dengan membuat Program Wak Muqidin dan beasiswa untuk guru madin juga ditambah untuk guru TPQ, TK, dan RA. Ini bagian dari dukungan kebijakan dan program bagi santri dan pesantren.
Sebagaimana diketahui bahwa periode ini Gus Mujib diminta Gus Irsyad Yusuf selaku ketua DPC PKB Pasuruan untuk menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB Pasuruan. (sid/rud/*)