Memakai sarung seolah menjadi sebuah fashion baru di tengah masyarakat. Kini, sarung tidak hanya dipakai di lingkungan pesantren ataupun tempat-tempat pengajian. Banyak dijumpai pemakai sarung di tempat-tempat umum. Termasuk di mal.
Bahkan, Presiden RI Joko Widodo, telah menetapkan 3 Maret sebagai hari sarung di Indonesia. Tak heran, bila busana ini semakin diminati. Banyak yang semakin tak canggung memakai sarung.
Hobi mengoleksi dan bersarung juga kian menjangkiti masyarakat. Terutama kalangan santri ataupun para gus. Salah satunya Muhammad Imam Haromain, 38, pengasuh Pesantren Darut Tauhid Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Gus Romi -sapaan Muhammad Imam Haromain,- mengatakan, sarung merupakan identitas diri sebagai seorang santri. Apalagi, bagi mereka yang hidup di kalangan pesantren. Memakai sarung sudah mengakar dalam diri.
“Meski dalam perkembangannya, penggunaan sarung semakin luas. Bukan melulu dipakai oleh kalangan santri,” katanya.
Sarung memang identik dengan busana santri. Karenanya, alumni Pesantren Sidogiri, ini awalnya menganggap sarung hanyalah sebagai keharusan yang dipakai santri. Namun, belakangan muncul fashion dalam pengenaan sarung.
“Kalau dulu hanya punya 5 hingga 10 sarung, kini ada ratusan koleksi sarung yang saya miliki,” ungkapnya.
Sarung yang dimilikinya beragam corak, merek, bahkan jenisnya. Dari sisi jenis, tidak hanya sarung berlubang besar seperti umumnya sarung. Karena, ada jenis assojjar atau sarung seperti sewek dengan ikatan yang menjadi salah satu koleksinya.
Ada juga jenis sarung pens yang menyerupai celana. Di lengkapi dengan saku. Jenis lain yang dimiliki adalah sarung jogger. Sarung jenis ini mirip sarung pens. Namun, lebih berbentuk koloran.
“Selain sarung yang umum dimiliki banyak orang, jenis sarung juga beragam. Ini menunjukkan sarung semakin menjadi tren yang bisa membuat penggunanya fashionable. Tidak lagi disebut kuno saat menggunakan sarung,” jelasnya.
Gus Romi mengaku semakin menyukai sarung sejak sekitar 2006. Sejak saat itu gemar berburu sarung ke sejumlah daerah. Terutama sarung yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Seperti Bali, Lombok, Riau, Pontianak, bahkan pernah berburu hingga negeri Jiran, Malaysia. “Setiap daerah cenderung memiliki corak berbeda. Keunikan itu yang membuat saya tertarik untuk berburu sarung," jelasnya.
Ia pun memiliki pengalaman unik ketika berburu sarung. Yakni, ketika hunting di Pontianak. Ada satu sarung yang menyita perhatiannya. Ternyata sarung ini juga dilirik orang lain. “Kami berebut. Akhirnya saya berhasil mendapatkannya setelah berani membayar lebih tinggi,” katanya.
Sejauh ini, Gus Romi telah mengoleksi sekitar 200 sarung. Harganya berfariasi. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Tidak semuanya saya beli. Ada juga yang peninggalan orang tua. Sengaja saya simpan sampai saat ini,” akunya.
Hobi serupa juga menjankiti Pengurus Pesantren Riyadul Ulum, Gus Mudzakir. Menurutnya, sarung awalnya sekadar pakaian biasa. Namun, belakangan lebih menjadi hobi. Apalagi, setelah mengenal sarung merek Lar Gurda.
“Saya memang senang memakai ataupun mengoleksi sarung batik Lar Gurda. Ada puluhan sarung yang saya miliki," ungkapnya.
Ketua Ponpes K.H.A. Wahid Hasyim Bangil Akhmad Wildan Amrullah, juga demikian. Menurutnya, sarung merupakan identitas nusantara. Penggunaannya perlu dilestarikan. “Saya merasa lebih luwes ketika menggunakan sarung,” katanya.
Ia memiliki banyak sarung. Sekitar 40 sarung. Meski rata-rata sarung kelas menengah ke bawah. “Kalau sarung premium berharga jutaan rupiah, saya lebih senang memberikannya kepada tokoh agama ataupun ulama. Biar mendapat barokah dari ibadah yang mereka lakukan,” ujarnya. (one/rud) Editor : Jawanto Arifin