MUKHAMAD ROSYIDI, Gadingrejo, Radar Bromo
SETIAP hari menjelang waktu buka puasa, warung yang ada di Jalan Raya Kraton, Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, itu selalu ramai. Pembeli berjubel. Mereka antre membeli es campur lezat di warung itu.
Itulah warung es campur ‘Saparua’ yang dikenal enak dan selalu ramai. Meskipun selalu ramai, pemilik tak merenovasi warungnya menjadi lebih bagus.
Ia mempertahankan bangunan tersebut seperti awal dibangun pada 1979. Saat orang tuanya membuat dan merintis warung itu. Itu artinya, sudah 44 tahun usaha itu berdiri.
"Saya yang neruskan bersama saudara. Jadi ini adalah usaha keluarga," kata Muhammad, anak pertama dari pemilik usaha tersebut.
Warung itu sendiri didirikan kedua orang tuanya, Muhammad Cholil dan Nur Hayati pada 1979 atau 44 tahun lalu. Ibunya yang setiap hari mengelola warung itu. Sementara ayahnya, hanya membantu sekadarnya. Sebab, ia sendiri berjualan es batu keliling.
Salah satu yang dijual di warung itu adalah es campur. Dan yang menarik, sampai saat ini es campur itu selalu laris. "Alhamdulillah masih banyak yang minat sampe sekarang," katanya.
Es campur sendiri bukanlah satu-satunya yang dijual almarhum ibunya sebenarnya. Ibunya juga jualan bakso, nasi campur, dan lainnya.
Namun, memang yang menjadi daya tarik pembeli ternyata es campur. Dan itulah yang membuat es campur tersebut dipertahankan hingga kini.
"Dulu pernah buka usaha lain, kayak jualan bakso, nasi campur, tapi kalah laris. Yang ramai tetap es campur ini," ujar Muhammad.
Sepeninggal orang tuanya, Muhammad yang meneruskan mengelola warung itu bersama saudaranya. Warung kemudian diberi nama Saparua.
Sebagian orang menganggap nama warung itu berasal dari bahasa Madura. Tapi, ternyata tidak. Nama itu diambil dari gabungan nama dua bulan dalam kalender Jawa. Yakni, Sapar dan Ruwah.
"Sapar itu bulan kelahiran saya. Dan, Ruwah adalah berdirinya usaha ini. Tapi, banyak yang mengira berasal dari bahasa Madura," ungkapnya sembari meladeni pembeli.
Es campur khas di warung Saparua memang begitu menggoda. Hanya dengan melihatnya, bisa terbayang kesegarannya.
Berisi sejumlah buah-buahan yang dicampur, ditambah sirup. Mampu menerbitkan selera, terutama di siang yang panas.
"Yang khas di sini adalah manisan nanasnya yang warnanya cokelat ini. Orang-orang kadang ngira-nya kurma, tapi sebenarnya nanas," ujar Kholifah, 33, saudara Muhammad.
Ia menjelaskan, beragam isian ada dalam satu gelas es campur Saparua. Mulai manisan nanas, irisan kelapa, cincau hitam, kolang-kaling, alpukat, jeli hijau atau yang disebut jomble.
Menurut Kholifah, rasa dan resep es campur Saparua tidak pernah berubah sejak pertama kali dibuat. Sama seperti yang dibuat ibunya.
"Kalau buat, takarannya sesuai yang diajarkan ibu. Gulanya juga pakai gula asli. Sejak dulu gak boleh pakai biang gula atau pemanis buatan," terangnya.
Satu gelas es campur Saparua dijual murah, hanya Rp 7.000. Sementara apabila dibungkus, dihargai Rp 13 ribu. Tentunya dengan porsi yang lebih besar.
Selama Ramadan ini, penjualan es campur mengalami kenaikan. Sehari, paling banyak bisa menjual hingga seribu bungkus.
"Apalagi pas bulan puasa ini kan cuacanya panas ya. Jadi banyak pondok dan masjid yang beli buat takjil saat berbuka," ujarnya.
Pembeli yang datang bukan hanya dari sekitar Gadingrejo. Tetapi, ada pula dari Kecamatan Bangil. Seperti Wempi, 40.
Ia mengaku sejak remaja menggemari es campur Saparua. Katanya, es tersebut punya rasa yang khas dan unik dibanding dengan es campur lainnya.
"Ada sesuatu yang beda di dalamnya. Kayak ada yang manis-manis gitu. Memang legendaris dan segernya pas sekali buat buka puasa," ucapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin