Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kota Pasuruan Punya Mobil Damkar Antik Berusia 50 Tahun Lebih

Jawanto Arifin • Kamis, 30 Maret 2023 | 18:21 WIB
ANTIK: Mobil Damkar keluaran Isuzu tahun 1961 milik Pemkot Pasuruan yang berusia 50 tahun lebih. (Foto: Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
ANTIK: Mobil Damkar keluaran Isuzu tahun 1961 milik Pemkot Pasuruan yang berusia 50 tahun lebih. (Foto: Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
Kota Pasuruan punya mobil pemadam kebakaran (damkar) antik. Usianya lebih dari separo abad. Sebelum direstorasi, mobil keluaran 1961 itu bahkan sempat menjadi incaran kolektor.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Empat fire truck berjejer di garasi halaman Mako BPBD Kota Pasuruan. Semua tangkinya selalu terisi penuh. Setiap hari, armada tersebut disiagakan. Kalau-kalau ada insiden kebakaran sewaktu-waktu.

Tak terkecuali salah satu fire truck yang penampilannya paling nyeleneh dari yang lain. Mobil pemadam kebakaran itu memang cukup tua. Keluaran Isuzu tahun 1961. Sudah lebih dari setengah abad. Dan menjadi satu-satunya armada pemadam kebakaran paling tua yang dimiliki Pemkot Pasuruan.

Bahkan, keberadaannya cukup jarang ditemui alias langka. Kondisinya kurang lebih seperti penggalan lirik lagu Iwan Fals; barang antik yang harganya selangit. Tak mengherankan bila selama ini armada tersebut banyak diincar kolektor.

“Kalau di Jatim, ini yang tertua. Yang kedua di Jember, keluaran 1970-an,” kata Samsul Hadi, kepala pelaksana BPBD Kota Pasuruan.

Sebelum direstorasi, fire truck itu memang tak terawat. Bodinya tak karuan. Banyak yang keropos dimakan waktu. Mesinnya apalagi. Bisa nyala saja sudah untung-untungan. Tapi, lebih sering macet. Pompa airnya tak berfungsi.

Namun, kondisi itu tidak memengaruhi beberapa kolektor yang datang. Mereka berani mematok harga tinggi. Meski sebenarnya, kata Samsul, jika aset itu dilepas perkiraan harganya hanya belasan hingga puluhan juta rupiah.

“Kalau dilelang pasti nilainya menyusut. Tapi, tetap kami pertahankan,” katanya.



Keinginannya untuk merestorasi armada itu sempat tertunda dua tahun. Kebutuhan anggaran yang cukup besar untuk mengatasi pandemi Covid-19 waktu itu, tak memungkinkan bagi pemerintah untuk sekadar memikirkan mobil tua. Baru pada 2022, restorasi itu terealisasi.

“Tempat restorasinya juga cukup jarang kalau ukuran mobil tua. Kami membawanya ke Klaten,” jelasnya.

Menurut Samsul, armada itu akan dijadikan kenangan tersendiri bagi perjalanan pemadam kebakaran di Kota Pasuruan. Apalagi kondisinya cukup langka. Berbeda dengan fire truck keluaran terbaru. Semuanya build up. Karoserinya utuh dari pabrikan.

“Jadi bukan karoseri lokalan. Semua dari pabriknya di Jepang,” bebernya.

Yang paling unik adalah mekanisme untuk membunyikan sirine. Tidak sekali pencet tombol langsung mengeluarkan suara ribut seperti sirine saat ini. Petugas di zamannya, harus membunyikan secara manual. Mereka harus memutar mesin sepanjang perjalanan menuju lokasi kebakaran.

Bahkan, armada itu juga dilengkapi dengan lonceng. Karenanya, dulu orang menyebut mobil pemadam kebakaran itu dengan istilah mobil kloneng. Karena mengindentifikasi bunyi loncengnya.

“Memang nggak semudah mobil damkar zaman sekarang,” ungkap Samsul.

Setelah direstorasi, hampir semua fungsi mobil tersebut bisa dioperasikan. Bahkan, petugas memulangkannya dari Klaten dengan mengendarai sepanjang jalan. Namun, laju kecepatannya memang tidak sebandel dulu. Maksimal 80 kilometer per jam.



“Tapi, untuk memenuhi respons time bila terjadi kebakaran masih bisa diandalkan,” kata Samsul.

Dia mengatakan, mobil itu dioperasikan bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran. Khususnya di wilayah kota. Jarak tempuhnya rata-rata 10 hingga 15 menit tiba di lokasi. “Kapasitasnya juga tidak kalah, bisa menampung 3 ribu liter,” ujarnya.

Nuryanto, salah satu pensiunan pemadam kebakaran cukup mengerti perjalanan sejarah armada tersebut. Armada itu merupakan hibah dari pemerintah pusat. Fire truck itu didesain sebagai armada yang tangguh.

Terlihat dari bahan platnya yang terbuat dari baja tebal. Sehingga tahan bocor dalam waktu yang lama. “Sehingga untuk merawatnya memang butuh penjiwaan untuk mencintai armada damkar tersebut,” jelas Nuryanto.

Bila dibanding armada damkar keluaran terbaru, mobil itu juga memiliki bodi yang lebih rendah. Namun, lebih lebar. Sehingga, lebih mudah dalam bermanuver. Kelebihan yang lain yaitu memiliki monitor yang bisa dipakai menyiramkan air dalam kondisi mobil berjalan.

Sebelum di bawah naungan BPBD, armada damkar itu berpindah-pindah tempat. Pernah di bawah sekretariat daerah. Kemudian, menjadi tanggung jawab PDAM, Dinas PU, Bakesbang, hingga berakhir di Mako BPBD.

Sudah banyak insiden kebakaran yang dipadamkan mobil tersebut. Armada yang kini dinamai The Legend itu pernah dilibatkan untuk membantu kebakaran di beberapa daerah. Seperti Mojokerto dan Sidoarjo.

“Jadi dulu tidak hanya diturunkan untuk menangani kebakaran di Kabupaten dan Kota Pasuruan saja,” tutur mantan Komandan PMK tersebut.



Selain menjadi armada pemadam kebakaran, The Legend rencananya dijadikan ikon pemadam kebakaran Kota Pasuruan. Dalam beberapa kesempatan, mobil itu pernah diturunkan dalam ajang show of force. Termasuk ketika peringatan HUT Damkar ke-104 di Tuban belum lama ini.

“Kalau secara fungsi mungkin jauh dari yang baru-baru. Tetapi, ada yang lebih tidak ternilai. Armada ini menyimpan memori perjalanan sejarah pemadam kebakaran di masa lalu,” tandas Samsul. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kota pasuruan #mobil antik #mobil damkar