------------------------------------------------------------------------------------------------------
TERHITUNG sudah tiga periode Samsul Hidayat menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Ia dipercaya masyarakat menjadi wakil rakyat. Membawa aspirasi rakyat untuk diperjuangkan di gedung parlemen.
“Dulu, cita-cita saya ingin menjadi PNS dan camat. Namun, setelah dewasa dan berumah tangga, saya terjun ke dunia politik. Bergabung dengan PKB dan menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan sejak 2009,” ujarnya.
Bapak dua orang putra ini merupakan seorang santri. Belasan tahun mengeyam pendidikan di Pesantren Al Bahri, Desa Wonosari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Ia diasuh langsung oleh pamannya, Almarhum K.H. Kasmu Cholis Hasan.
Meski lokasi pesantren dengan rumahnya sangat dekat, setiap hari Samsul tetap istiqamah tinggal di pesantren. Sama dengan para santri lainnya. Pendidikannya, mulai SD sampai SMA di sekolah formal. Namun, ketika masih SD, ia merangkap dengan madrasah. Di madrasah masuk sore sepulang dari SD.
“Sekitar 12 tahun, dari kecil saya tinggal di pesantren. Ikut kiai. Belajar ilmu agama seperti santri lainnya. Ngajinya bakda magrib, bada isya, dan bakda subuh,” jelasnya.
Selulus dari SMAN 1 Pandaan, Samsul memperdalam keilmuannya ke jenjang S-1. Kuliah di Institut Agama Islam Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Ditempuh mulai 1994-1998.
Setelah menyandang gelar sarjana, Samsul melanjutkan studinya ke jurusan Manajemen Pendidikan Islam di perguruan tinggi yang sama. “Saat kuliah S-1, saya masih nyantri. Ketika kuliah S-2, saya sudah menikah dan tidak nyantri. Jadi, terhitung 12 tahun. Alhamdulillah istiqamah nyantri di pesantren,” jelasnya.
Sebelum menjadi politisi dan anggota dewan seperti sekarang, Samsul sempat terjun sebagai tenaga pendidik. Bahkan, menjadi kepala sekolah di MI Al Rosyad, Desa Wonosari, Kecamatan Gempol. Profesi ini dijalani selama sekitar delapan tahun. Ia juga tercatat sebagai guru tidak tetap di SMPN 1 Gempol. Mengajar ilmu agama.
“Alhamdulillah, pernah jadi guru dan kepala sekolah. Ini pengalaman luar biasa bagi saya. Sekaligus pengabdian untuk masyarakat,” ujar suami Nur Azizah ini.
Pada 2004, Samsul memutuskan berhenti menjadi guru tidak tetap. Karena memutuskan terjun ke dunia politik. Nyaleg dari PKB. Namun, kala itu takdir belum berpihak padanya. Ia gagal menjadi anggota dewan. Namun, ia dipercaya majadi sekretatis Desa Wonosari.
“Karena pernah menjadi sekdes, sebagian orang yang kenal dengan saya, kalau ketemu panggil saya dengan sebutan Pak Carik. Meski sudah menjadi anggota dewan,” katanya, tersenyum.
Lima tahun kemudian, pada 2009, saat akan diangkat menjadi PNS, Samsul mengundurkan diri. Bersamaan dengan pemilihan umum legislatif. Saat itu, ia kembali nyaleg dari PKB. Syukur berhasil. Ia terpilih sebagai anggota DPRD.
“Keputusan saya terjun ke dunia politik karena dorongan kuat dari kiai sekaligus paman saya. Juga kiai lainnya di Gempol,” ujarnya.
Meski sudah tiga periode menjadi anggota dewan, kehidupan pesantren sangat memengaruhinya dalam dunia politik. Termasuk pesan-pesan dari kiai, selalu diingat. Salah satunya, di manapun dan kerja apapun, harus bermanfaat bagi orang lain. Termasuk di parpol.
Pengalaman menjadi seorang santri, sangat memengaruhi kepribadian dan langkah serta kebijakan Samsul. Di partai, katanya, lebih gampang untuk mencari kemanfaatan. Tentu juga untuk kepentingan masyarakat.
“Tetap selalu sederhana, unggah ungguh, dan nilai-nilai pesantren lainnya masih terbawah hingga sekarang. Masih memengaruhi. Baik dalam langkah dan kebijakan-kebijakan politik. Tentunya konsen pada masyarakat, terutama lembaga pendidikan,” ujarnya.
Samsul pun mendapatkan dukungan dari kolega, relasi, terutama keluarga. Istrinya juga alumnus pesantren. Dari Ponpes Ngalah, Kecamatan Purwosari. Bahkan, kini putra pertamanya juga mondok di Ponpes Al Beer, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan.
“Suka dan duka menjadi politisi ada. Itu wajar. Menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Paling penting tidak terlalu banyak berharap. Sebaliknya, harus dijalani dengan ikhlas,” katanya.
Sebagai anggota dewan, banyak pengalaman yang telah didapat. Pada peride pertama pada 2009-2014. Ia menjadi anggota Komisi A Bidang Pemerintahan, serta sempat menjadi ketua komisi B dan ketua Bapemperda.
Pada periode kedua 2014-2019, menjadi anggota komisi II dan ketua Bapemperda. Kini, diperiode ketiga, 2019-2024, dipercaya sebagai sekretaris komisi II dan ketua Fraksi PKB. (zal/rud/*) Editor : Ronald Fernando