MUKHAMAD ROSYIDI, Kejayan, Radar Bromo
SUASANA sedang ramai, Rabu (15/2) pagi itu di Ponpes Besuk. Beberapa santri laki-laki berpakaian putih, bersarung, dan berkopiah mondar-mandir. Ada juga santri yang tengah bercengkrama. Tertawa dan bercanda, namun ada juga yang tangis-tangisan.
Hari itu memang hari saat para wali santri mengunjungi anak-anak mereka atau dikenal dengan sebutan "ngirim" anak di pondok. Tak heran, suasana ponpes asuhan KH Abdullah Zaini itu terlihat lebih ramai dari biasanya.
Gus Nabil, putra dari KH Abdullah Zaini menerima Jawa Pos Radar Bromo saat berkunjung ke kediaman para pengasuh. Tepat di bagian paling barat ponpes. Tak lama kemudian, Kiai Abdullah keluar.
"Pengasuh Besuk ini adalah cicit dari pendiri pondok. Yakni, KH Ali Murtadho. Bukan saya saja, ada 14 orang yang disebut majelis keluarga," kata kiai yang telah berusia 68 tahun itu.
Sambil menerangkan perihal ponpes yang diasuhnya, ia kemudian menunjuk sebuah bangunan di depan rumahnya. Kira-kira jaraknya sekitar 10 meter.
Bangunan itu khas bangunan kuno. Terbuat dari kayu dan beratapkan genting. Kokoh, bercat kecokelatan warna khas kayu. Menurutnya, bangunan itu adalah satu-satunya bangunan peninggalan pendiri yang masih ada di areal ponpes.
"Ini bangunan peninggalan beliau (KH Ali Murtadlo, Red). Masih kami pertahankan," katanya.
Bangunan yang usianya hampir sama dengan ponpes itu sudah direnovasi. Namun, mempertahankan bentuk aslinya. Bahkan, bangunan itu masih dimanfaatkan. Dijadikan asrama atau kamar santri putra.
“Sudah direnovasi ini, sekitar 50 persen. Tapi tanpa menghilangkan kekhasan bangunan,” terang Kiai Abdullah.
Ada seratus lebih santri yang berkamar di bangunan itu. Terbagi di delapan kamar yang ada di dalamnya.
"Kalau tidur ya ndak cukup. Asrama hanya digunakan menyimpan barang. Di pondok kan gitu. Saya juga gitu dulu," terangnya sembari mengenang masa lalu di Ponpes Lirboyo, tempat Kiai Abdullah mondok.
Kiai Abdullah sendiri merupakan generasi keempat dari pendiri ponpes. Ia menyebut Kiai Ali Murtadho sebagai eyang. Menurutnya, Ponpes Besuk didirikan pada 1881 Masehi. Usianya mencapai 142 tahun, hampir satu setengah abad.
Awal mula ponpes berdiri, tak ada kurikulum paten untuk pengajaran para santri. Apalagi, saat Kiai Ali Murtadho mendirikan pondok belum ada madrasah. Ia fokus berdakwah keliling.
Di areal ponpes sendiri, saat itu hanya ada dua bangunan berdiri. Yaitu, masjid berukuran 6 x 6 meter dan asrama putra di depan rumahnya itu.
"Jadi belum ada santri. Baru ramai santri itu saat pondok diasuh oleh Kiai Ahmad Djufri. Saat itu sekitar 30 santrinya. Saya ingat betul itu. Jadi kalau awal-awal mungkin ya kurang dari itu," ucapnya.
KH Ali Murtadho sendiri, menjadi pengasuh pada 1881-1921. Pada 1921-1942 digantikan KH Subadar. Lalu pada 1942-1947 beralih ke KH Masyhadi. Dia inilah pengasuh yang ditembak Belanda. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Ponpes Besuk di Desa Sladi, Kejayan.
Sepeninggal KH Masyhadi, Ponpes Besuk diasuh KH Ahmad Djufri selama 34 tahun. Yakni pada 1947-1981. Setelah itu, Ponpes Besuk diasuh oleh KH Ahmad Subadar. Dan kini, diasuh oleh KH Abdullah Zaini.
Sejak diasuh KH Ahmad Djufri, Ponpes Besuk mempunyai klasikal sekolah. Mulai dari ibtidaiyah dan mualimin. Bahkan, zaman itu, di Ponpes Besuk sudah ada pelajaran bahasa Inggris.
"Lalu sejak KH Ahmad Subadar, semuanya diubah. Pondok murni salaf hingga kini. Lalu mualimin dipecah jadi dua. Yaitu Tsanawiyah dan Aliyah. Khusus Aliyah ini tidak full tiga tahun. Tapi dua tahun materi dan satu tahun pengabdian," ungkapnya.
Meskipun murni salaf hingga kini, bangunan di Ponpes Besuk sudah bergaya modern. Bangunan-bangunan asrama dan sekolah telah bertingkat. Pembangunan pesat dilakukan. Bahkan, kini ada asrama khusus santri di bawah usia 15 tahun. Bangunan itu ada di selatan jalan.
"Pondok ini pesat setelah diasuh KH Ahmad Subadar. Banyak perubahan dan santrinya tambah banyak. Hingga sekarang santri kami ada sekitar tiga ribuan. Yang banyak santri putri," terangnya.
Karena murni salaf, pembelajaran di ponpes full untuk pendalaman ilmu agama. Menurut Kiai Abdullah, pihaknya mempertahankan salaf tak lain menjaga amanah dari para pendahulu.
Ia tak mau ikut-ikutan mengubah ponpes menjadi pondok modern. Meskipun memang diakuinya, tak ada jeleknya berubah.
"Dalam sehari, pembelajaran bisa sampai malam. Ini kami lakukan setiap hari. Ada juga Tahfidul Quran yang kami ajarkan," ungkapnya.
Mempertahankan pendidikan salaf, tak berarti tidak diminati masyarakat. Terbukti ada 20 cabang lembaga ibtidaiyah di Pasuruan dan dua yayasan di Kalimantan. Khusus untuk ibtidaiyah cabang, ada pelajaran wajib yang harus diberikan kepada para santri. Sedangkan dua yayasan di luar pulau Jawa, tidak.
Ke depan, pihaknya bakal mendirikan Ma’had Aly. Yaitu perguruan tinggi yang pembelajarannya tetap mempertahankan kekhasan salaf. "Ke depan ini. Kalau sekarang masih belum," tuturnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin