------------------------------------------------------------------------------------------------------
FAHRIZAL FIRMANI, Mayangan, Radar Bromo
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hampir di semua jalan protokol di Kota Probolinggo dilengkapi trotoar. Namun, memang ukurannya lumyang tinggi. Sehingga, pejalan kaki harus naik turun saat memanfaatkannya. Kecuali trotoar di depan kantor Satpol PP dan Damkar, kondisinya rendah atau hampir sama dengan jalan raya.
Sayangnya, sejumlah trotoar saat ini dalam kondisi rusak. Seperti di Jalan Soekarno Hatta, tepat di seberang jalan Taman Manula.
Di titik lainnya, trotoar malah eralih fungsi. Seperti di Jalan Suroyo atau perempatan Flora. Trotoar di lokasi ini sering dijadikan tempat berjualan PKL makanan minuman (mamin). Utamanya saat malam hari. Jarang digunakan bagi pejalan kaki. Padahal sebenarnya masih ada pejalan kaki yang memanfaatkan trotoar itu.
Seperti Breni Raharjo, warga Perum Grand Citarum, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Dia suka memanfaatkan trotoar saat jalan bersama keluarga di akhir pekan.
Paling sering di sisi timur Jalan Suroyo. Karena trotoarnya ramah disabilitas. Permukaannya tidak terlalu tinggi seperti di lokasi lain.
Biasanya, dia memanfaatkan trotoar untuk jalan-jalan ke Alun alun kota. Sementara untuk trotoar di lokasi lain, ia jarang memanfaatkannya karena permukaannya tinggi. Sebab, menyulitkan saat ia jalan-jalan dengan anak dan istrinya.
"Kebetulan anak saya ini disabiltas. Kemana-mana harus pakai kursi roda. Jadi saat jalan-jalan di akhir pekan, yang bisa digunakan ya di sisi timur Suroyo. Sisanya tidak ramah disabiltas karena permukaannya tinggi," ungkapnya.
Breni berharap seluruh trotoar dibuat ramah disabilitas. Sebab, masyarakat Kota Probolinggo itu beragam. Ia tidak ingin karena trotoar tidak ramah, banyak warga menggunakan badan jalan yang justru membahayakan bagi mereka.
"Tidak hanya kaum disabilitas. Saya lihat banyak warga yang malah lebih suka jalan di badan jalan. Mungkin karena trotoarnya naik turun. Kan ini membahayakan. Semoga ke depannya semakin ramah," kata Breni.
Lain lagi dengan Eko Arisandi, warga Perumahan Kopian Timur, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan. Dia jarang memanfaatkan trotoar. Sebab saat bepergian ia lebih sering menggunakan motor. Bahkan, saat akhir pekan jalan-jalan dengan keluarga.
Ia melihat kondisi trotoar memang tidak sesuai fungsi. Banyak trotoar malah dijadikan lokasi berjualan bagi PKL. Akibatnya trotoar jadi rusak dan tidak terawat. Dia berharap ke depannya trotoar bisa berfungsi semestinya.
"Andaipun direvitalisasi, kalau warga Kota Probolinggo tidak menjaga ya percuma. Bakal rusak lagi seperti yang ada. Contohnya sekarang, semestinya untuk pejalan kaki tapi malah jadi lokasi berjualan," jelas Eko.
Anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo, Heri Poniman mengatakan, keberadaan trotoar belum maksimal. Fraksi gerindra sudah mendorong Pemkot Probolinggo agar trotoar diremajakan. Namun, alasannya selalu terbentur anggaran. Apalagi APBD saat ini banyak terserap untuk pembangunan rumah sakit baru, RSUD Ar Rozy.
Menurutnya banyaknya trotoar yang rusak ini disebabkan anggaran perawatan yang tidak maksimal. Apalagi tahun ini, tidak ada anggaran perbaikan atau perawatan trotoar. Sebab, anggaran masih banyak digunakan untuk menyelesaikan pembangunanan RSUD Ar Rozy.
"Tugas dari Satpol PP agar bisa menertibkan PKL yang berjualan menggunakan trotoar. Sehingga trotoar bisa berfungsi semestinya. Masyarakat Kota Probolinggo juga harus menjaga fasilitas umum," kata Poniman.
Agus Riyanto, ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo menambahkan, trotoar memang jarang difungsikan sebagai jalur pedestrian. Namun, keberadaan trotoar tetap penting untuk akses pejalan kaki. Apalagi trotoar bisa memudahkan bagi kendaraan yang keluar masuk dari areal pertokoan. Seperti di Jalan dr. Soetomo.
Cuma memang, saat ini trotoar sudah mulai rusak akibat terkena akar pohon. Dewan mendorong trotoar bisa direvitalisasi seperti di Malioboro. Di sana, trotoar bisa berdampingan dengan pohon. Agar akar tidak merusak trotoar, di sana ada semacam penghalang yang dipasang di sekitar pohon.
"Trotoar ke depannya harus bisa ramah disabilitas. Sebab, pengguna jalur pedestrian ini bukan hanya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani. Namun adapula tunanetra atau tuna daksa," sebut politisi dari fraksi PDI-P ini.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo, Rahmadeta Antariksa menerangkan, selama ini trotoar rusak karena akar pohon. Saat ini, Pemkot sedang melakukan konsep untuk peremajaannya. Sehingga, perbaikan tidak sekedar mengganti trotoar menjadi baru.
Pihaknya akan menyiapkan tempat khusus untuk pohon dengan menggunakan dilatasi pondasi. Dimana, pohon akan ditanam dengan kedalaman sekitar satu meter. Selanjutnya, pondasi ini akan ditutup menggunakan besi atau dikenal dengan sebutan iron cast.
Dengan begitu, akar pohon bisa merambat ke bawah. Jadi tidak mengganggu trotoar. Dan trotoar tidak akan rusak. Selain itu pohon juga bisa terlindungi dengan baik. Konsep ini sudah dibahas beberapa kali dengan dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-Perkim).
"Kalau hanya semata diperbaiki fisiknya oleh PUPR-Perkim sementara DLH mengurusi tanaman saja, ya tetap tidak akan berubah. Usai diperbaiki, kondisinya akan kembali rusak seperti sekarang. Saat ini masih kami konsep,” pungkas Deta. (hn) Editor : Ronald Fernando