------------------------------------------------------------------------------------------------------
RIZKY PUTRA DINASTI, Tongas, Radar Bromo
-----------------------------------------------------------------------------------------------
“SAYA sudah menikah dua kali dan yang kini kali ketiga saya. Istri pertama namanya Sumiati juga,” kata Samsul Mukmin mengawali pembicaraan saat ditemui di rumah ibunya yang ada di Desa Dungun, Tongas, Senin (6/2) siang.
Sumiati meninggal akibat sakit sekitar 10 tahun lalu. Pernikahan Mukmin–panggilan akrabnya–dengan almarhum Sumiati belum dikaruniai anak. Setelah Sumiati meninggal, beberapa tahun kemudian Samsul Mukmin menikah lagi dengan Endang Rustini. Bersama Endang, dia memiliki dua anak.
Mukmin sejatinya bahagia di pernikahan keduanya. Dia membangun mahligai rumah tangga dan tinggal di Tongas Wetan. Di sana mereka bahkan memiliki sebuah rumah. Tapi, lagi-lagi Mukmin harus kehilangan. Endang, istri keduanya, sakit komplikasi dan masuk rumah sakit setelah dua tahun melahirkan anak keduanya. Seminggu setelahnya Endang meninggal.
“Saat itu saya sangat tertekan. Sebab, anak saya baru dua tahun yang nomor dua,” terangnya.
Semenjak itu, Mukmin hanya ingin fokus pada kedua anaknya yang masih berusia 17 tahun dan satu lagi masih berusia 6 tahun. Ia bertekad untuk membesarkan kedua anaknya meski tanpa sosok seorang ibu. Tak ada bayangan dia ingin menikah lagi.
Tapi, banyak kerabatnya yang menyarankan agar Mukmin menikah lagi. “Bahkan, setahun setelah istri saya meninggal, teman akrab saya memberitahukan jika di Desa Bayeman ada perempuan yang juga menjanda setelah ditinggal suaminya. Perempuan itu ditinggal suaminya selisih 5 bulan setelah istri saya meninggal,” katanya. Saat itu, dia bilang jika tidak mau mencari perempuan lain dulu.
Siapa sangka, wanita yang hendak dikenalkan teman akrabnya itu, ternyata malah menjadi jodohnya. Dialah Sumiati. Nama yang sama persis dengan almarhum istri pertamanya dahulu.
Setelah sempat menolak, empat tahun kemudian Mukmin diminta datang ke suatu tempat oleh temannya. Rupanya temannya tersebut hendak mengenalkan dirinya kepada Sumiati yang juga telah menjanda hampir lima tahun.
“Akhirnya saya mikir, ini ada apa. Kok rupanya teman saya ini hendak mengenalkan ke orang yang sama?” ucap Mukmin mengenang.
Singkatnya, Mukmin memberanikan diri untuk datang ke rumah Sumiati. Dia masih ingat, ketika itu Mukmin canggung. Sebab, Mukmin hanyalah seorang penjual kerupuk keliling yang saban hari harus nyetor ke juraganya. Sementara Sumiati yang memiliki satu anak itu bekerja di salah satu pabrik garmen.
“Jujur waktu itu saya tidak pede (percaya diri), tapi saya beranikan diri. Alhamdulillah, ketika membangun komunikasi selama lima bulan kenal, lancar. Bahkan, Sumiati ini mau menerima saya apa adanya,” ujarnya.
Gayung bersambut. Saat Mukmin meminta izin kepada anaknya serta anak Sumiati, semuanya sepakat. “Anak Sumiati selisih setahun dengan anak pertama saya. Anak-anak setuju. Sehingga kami memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius,” bebernya.
Begitu tahu dia mau menikah, kabar itu disambut bahagia kawannya yang menjodohkan. Nah, dari sang kawan inilah tercetus ide untuk memberi mahar linggis atau benda yang kokoh dan kuat.
“Menurut teman saya, hal itu digunakan sebagai syarat agar pernikahan kami langgeng dan kokoh. Sebab, saya menjadi duda dua kali. Sementara istri saya janda sekali akibat sakit dan meninggal,” katanya.
Sebelum memberikan mahar linggis, Mukmin pamit dahulu ke Sumiati, calon istrinya. “Alhamdulillah istri saya mengerti dan dia tidak meminta mahar lainnya. Malah saya yang memaksa agar memakai mahar lain. Akhirnya dia juga minta uang. Itu pun hanya Rp 100 ribu. Istri saya ini benar-benar mengerti keadaan saya,” katanya.
Selang dua hari sebelum akad nikah di KUA, Mukmin hunting mahar. Dia lalu membeli sebuah linggis baru seharga Rp 50 ribu di Pasar Grati. Linggis inilah yang juga dibawa ke kantor KUA.
Menariknya, kata Mukmin, saat dia menikah di KUA Tongas, mudin sempat menanyakan apa maharnya. Ketika ia menjawab sebatang linggis, mudin tersebut heran. Bahkan, menanyakan sampai empat kali.
“Pak mudinnya itu tanya sampai empat kali. Terus bilang ke saya. Ini baru pertama, Pak. Jika memang benar, ambil sekarang linggisnya dan langsung saya nikahkan. Akhirnya saya pulang ambil linggis dan langsung menikah,” bebernya.
Menurut Mukmin, mahar dengan menggunakan linggis itu merupakan bagian yang memiliki arti sangat dalam untuk pernikahannya. Ia menginginkan pernikahannya langgeng dan kokoh seperti linggis. “Memang semua itu ada maknanya. Bukan karena saya ingin viral. Saya HP saja tidak punya,” beber Mukmin.
Setelah akad nikah, mereka pulang. Dalam perjalanan pulang, uang mahar Rp 100 ribu ditaruh di masjid oleh istrinya. “Dia (Sumiati, red) bilang, Mas...uang mahar tadi saya kasihkan amalan di masjid ya? Dan saya bilang iya ndak papa, itu kan sudah jadi uang milik kamu,” ucap Mukmin.
Demi menjaga perasaan kedua belah pihak, maka Mukmin memutuskan untuk tinggal di rumah ibunya yang ada di Desa Dungun. “Jadi jika harus tinggal di rumah saya yang ada di Tongas Wetan. Saya mungkin enak, tapi istri kan tidak enak. Jika saya yang ikut ke Bayeman, istri mungkin enak, tapi saya kan kurang enak. Sehingga, kami memutuskan untuk tinggal di sini (Desa Dungun),” beber Mukmin.
Bagaimana dengan anak-anak mereka? “Sekarang anak saya yang pertama mondok. Anak saya yang kedua tinggal bersama saya di Dungun dan kadang di Tongas Wetan besama dengan neneknya,” tandasnya.
Mukmin berjanji jika linggis yang jadi mahar nantinya tidak akan dipinjamkan kepada siapapun tanpa seizin istrinya. Sebab, sudah menjadi hak istrinya. Mereka juga berencana akan memberikan pigura dan akan dipajang di dinding. Layaknya pajangan benda pusaka seperti keris. (fun) Editor : Ronald Fernando