Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Riwayat Irigasi di Maron Kidul; dari PLTA Jadi Wisata Fun Tubing

Ronald Fernando • Minggu, 29 Januari 2023 | 23:00 WIB
BANGUNAN KUNO: Konstruksi beton bekas gorong-gorong air yang dulu digunakan untuk PLTA Maron Kidul yang juga sering disebut PLTA Mantrean. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
BANGUNAN KUNO: Konstruksi beton bekas gorong-gorong air yang dulu digunakan untuk PLTA Maron Kidul yang juga sering disebut PLTA Mantrean. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
Banyak informasi sejarah tentang sistem irigasi di masa pemerintahan kolonial Belanda. Banyak pintu air (dam) dibangun pada zaman tersebut. Salah satunya, dam air 8 Dusun Pekalen, Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron. Dam itu menjadi saluran irigasi sekaligus pembangkit listrik.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

GEMERICIK air terdengar dari Sungai Pekalen. Air mengalir dari selatan menuju utara. Debit air yang cukup deras kemudian mengaliri tiga pintu air ke arah utara, barat, dan timur. Selanjutnya terdapat beberapa pintu air lagi yang memiliki ukuran lebih kecil mengalir ke seluruh penjuru Desa Maron Kidul. Itulah gambaran singkat penataan irigasi Dam Mantrean Dusun Pekalen, Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron.

Dam yang memiliki sejarah panjang lintas generasi itu layak untuk ditelusuri. Misalnya, penelitian tentang sejarah, fungsi, dan manfaat bangunan tersebut. Dam yang berdiri pada zaman Belanda ini dibangun tahun 1880. Tahun itu bisa dilihat di sebuah bangunan tembok sisi utara kantor Pengairan Korwil Maron.

”Kalau menurut sejarah turun-temurun, dam ini dibangun pada zaman Belanda. Ada tembok yang bertulisan Anno 1880. Dipercaya sebagai tahun berdirinya,” kata Juru Pengairan Dam Pekalen, Satro.

Tembok bertulisan tahun tersebut masih kokoh berdiri. Saat ini fungsinya sama. Yaitu, sebagai tembok penahan tanah (TPT). Persis di sisi barat tembok ada empat ruang yang usianya sama dengan bangunan dam. Dulunya sebagai tempat memantau kondisi debit air. Bangunan ini sudah tidak terpakai dan terbengkalai.

"Dam dengan bangunan di atasnya itu dibangun bersamaan," ujarnya.

Di sekitar bangunan tersebut terdapat saluran air yang dulunya dipakai sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Hal itu dibuktikan dengan adanya puing-puing saluran air. Sebuah saluran air (gorong-gorong, Red) yang berada di sisi sebelah selatan bangunan.

"PLTA dibangun sekitar tahun 1970. Saat itu belum ada listrik masuk desa. Memanfaatkan air dari dam 8. Saat masih aktif bisa menerangi Wilayah Gerongan, Brabe, Maron Kidul, dan Maron Wetan," tambah Satro.

Saat masih muda, dia juga ikut memasang jaringan listrik di sana. Saat itu belum ada listrik di desa. Sayangnya, fungsi PLTA hanya mampu bertahan selama 30 tahun. Pada tahun 2000-an, PLTA berangsur-angsur tidak difungsikan. Komponennya sering rusak sehingga memerlukan biaya operasional tinggi.

Photo
Photo
Tembok kuno yang tertulis Anno 1880. DIperkirakan irigasi itu sudah ada sejak 1880.

"Pernah ada orang kesetrum. Karena dirasa sudah tidak aman lagi, akhirnya tidak difungsikan lagi," bebernya.

Sekretaris Desa Maron Kidul Lukman Hakim mengatakan, PLTA itu tidak berfungsi. Sekarang sudah banyak yang dikubur dan dibongkar. Sementara ruang turbin saat ini sudah  menjadi toilet.

"Tidak ada sejarah yang bisa memastikan PLTA kapan dibangun. Sebab, kami belum memiliki referensi yang jelas. Hanya keterangan sesepuh," tuturnya.

 

Photo
Photo
Derasnya aliran air irigasi setempat kini dimanfaatkan untuk pekalen fun tubing.

Aliran Air Jadi Wisata Fun Tubing

Bagi Desa Maron Kidul, aliran air yang tidak digunakan untuk PLTA menjadi potensi tersendiri. Debit air tinggi. Ada dam yang kondisinya masih bagus. Pemerintah desa setempat menjadikannya wisata Pekalen Fun Tubing. Saat ini telah menjadi wisata alternatif pengunjung yang ramah di kantong.

Sekretaris Desa Maron Kidul Lukman Hakim mengatakan, wisata itu dirintis pada 4 tahun lalu. Menyajikan wisata permainan air yang memacu adrenalin. Namun, ada pendamping yang berpengalaman bagi pengunjung.

"Saat ini kompleks PLTA jadi Wisata Pekalen Fun Tubing. Wisata ini terhitung masih baru. Tahap pengembangan," katanya.

Wisata itu berada di Dusun Pekalen. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer ke timur kantor Desa Maron Kidul. Wisata ini memanfaatkan aliran air dari Dam 8 Pekalen. Pengembangan pun dilakukan secara bertahap oleh pemerintah desa.

Keberadaan wisata mulai dikenal oleh wisatawan. Setiap pekan ada sekitar 50 pengunjung datang untuk berwisata. Mereka biasanya berasal dari warga sekitar Probolinggo.

Karena semakin ramai, pemerintah desa mulai merangkul warga dan pemuda desa untuk turut mengelola wisata desa tersebut. Saat ini, pengelolaan destinasi wisata ini dilakukan oleh badan usaha milik desa (BUMDes)

"Tapi, kalau pengunjung sedang ramai warga dan pemuda desa sering diikutsertakan," kata Kepala Desa Maron Kidul Ridwanto.

Photo
Photo
BANGUNAN KUNO: Konstruksi beton bekas gorong-gorong air yang dulu digunakan untuk PLTA Maron Kidul yang juga sering disebut PLTA Mantrean. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Keberadaan Pekalen Fun Tubing itu diharapkan memiliki dampak bagus bagi warga desa. Terutama, peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah.

Menurut dia, banyak hal yang harus disiapkan pengelola Pekalen Fun Tubing agar terus berkembang. Sarana dan prasarana (sarpras) perlu dibangun secara bertahap. Pengembangan sumber daya manusia juga harus dilakukan agar semakin ahli. Mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung. (ar/far) Editor : Ronald Fernando
#dulu dan kini #hikayat