Rasanya tidak ada anak yang tak kenal dengan ucapan, ‘hompimpa alaium gambreng’ di era 1970-an sampai awal 2000. Meski demikian, tak banyak yang mengetahui artinya.
Khairul Umam, 25, salah satu pegiat permainan tradisional di Kabupaten Probolinggo menjelaskan, hompimpa alaium gambreng berasal dari bahasa Sansekerta. Kata ini memiliki arti positif yakni,”dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain.”
“Mungkin cukup banyak yang tidak tahu dengan makna dan artinya,” kata penggagas Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa di Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan tersebut. Sebuah komunitas yang memberikan edukasi melalui permainan tradisional.
Disebut Umam, kalimat hompimpa alaium gambreng mengajarkan bahwa hidup yang sedang kita jalani berasal dari Tuhan dan di masa yang tidak tahu kapan, kita akan kembali kepada Tuhan.
“Saat kita menunjukkan telapak tangan atau punggung tangan, kita tidak tahu apakah kita akan menang atau kalah. Dari sanalah kita belajar untuk menerima dengan lapang dada hasil dari apa yang telah kita pilih,” katanya.
Selain sebagai simbol ketuhanan, Hompimpa juga memiliki nilai tentang musyawarah dalam permainan anak-anak. “Kalimat hompimpa alaium gambreng merupakan sebuah mantra untuk menentukan siapa yang menang dan kalah sebelum memulai permainan. Namun, tidak hanya itu maknanya,” terang pria yang baru menikah tersebut.
Kalimat hompimpa alaium gambreng biasanya digunakan dalam permainan dengan jumlah pemain minimal tiga orang. “Tujuannya untuk menentukan siapa yang menang dan kalah sebelum memulai permainan,” terangnya.
Kalimat ini juga digunakan untuk menentukan siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan. Contoh penggunaan hompimpa ini yaitu pada permainan kucing-kucingan, petak umpet, gobak sodor, dan lainnya.
“Kalau sendirian kan lucu. Jadi harus ada lawannya. Minimal tiga orang,” katanya sembari tertawa.
Memang sulit menelusuri bagaimana kalimat ini bisa dijadikan kalimat pembuka dalam permainan tradisional. Namun, dipercaya ini adalah cara nenek moyang kita untuk mendekatkan anak-anak kepada Yang Mahakuasa.
“Banyak yang meyakini seperti itu. Lagi pula, nenek moyang kita dikenal kental dengan teologi atau ketuhanan,” ujarnya.
Terlepas dari makna hompimpa, Umam menyebutkan, permain tradisional perlu dilestarikan. Salah satunya, melalui komunitas yang dibentuknya.
Komunitasnya sendiri disebutnya terinspirasi dari kegiatan Komunitas Kampung Lali Gadget (KLG), Sidoarjo. Komunitas yang bergerak di bidang yang sama.
“Permainan tradisional ini dimaksudkan agar nilai sosial kemasyarakatan di kalangan anak-anak tetap terjaga. Sehingga bisa terus guyub dan emosi sebagai mahluk sosial bisa terbangun,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin