Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Adrianus Yordan Setiawan Pembuat Kostum Karnaval asal Probolinggo

Ronald Fernando • Jumat, 25 November 2022 | 20:15 WIB
SELALU BARU: Yordan Setiawan  dan dua kostum karnaval kreasinya. (Fahrizal Firmani/ Radar Bromo)
SELALU BARU: Yordan Setiawan  dan dua kostum karnaval kreasinya. (Fahrizal Firmani/ Radar Bromo)
Di usia masih muda, Adrianus Yordan Setiawan, 30, warga Jalan Kalimas, Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, sudah membuat puluhan kostum untuk karnaval. Kostumnya yang selalu up to date setiap bulannya membuat karyanya menjadi pilihan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

FAHRIZAL FIRMANI, Radar Bromo, Kademangan

------------------------------------------------------------------------------------------------------

KOSTUM kerajaan itu terpasang pada manekin yang dipampang di dekat meja rias. Satu kostum berwarna cokelat dan kostum lainnya berwarna hijau. Kostum itu dilengkapi dengan mahkota dan ornamen di bagian depannya.

Begitulah salah satu koleksi kostum karnaval yang dimiliki Adrianus Yordan Setiawan. Kostum yang dia buat sendiri itu sering disewa oleh masyarakat dan instansi saat ada festival kebudayaan.

Odjan -sapaan akrab Adrianus Yordan Setiawan- mengungkapkan, ia tidak sengaja terjun dalam pembuatan kostum karnaval. Kebetulan sejak SD hingga menamatkan SMA, ia tidak pernah diizinkan untuk mengikuti karnaval di sekolahnya.

Dan saat kuliah pada 2013, ada audisi Bayuangga Batik Carnaval (BBC). Ia tertarik, apalagi ini kesempatan pertamanya untuk mengikuti karnaval. Tanpa pikir panjang, ia ikut mendaftar menjadi peserta.

“Namun sayangnya, BBC cuma jalan 2,5 tahun. Cuma saya tidak patah semangat. Saya ikut Jember Fashion Carnaval pada 2016 untuk menambah ilmu,” ungkapnya.

Waktu itu, ia mengambil tema kostum devil reog. Sebab, memang temanya saat itu tentang reog. Namun, ia tetap menggunakan batik Probolinggo untuk dasar kostumnya. Dan hasilnya, kostumnya itu masuk dalam 10 besar best model.

Usai mengikuti Jember Fashion Carnaval, ia pun pulang ke Kota Probolinggo. Kebetulan saat itu belum ada yang menyewakan kostum karnaval. Maka, ia pun memutuskan untuk menjadikannya peluang usaha pada 2017.

Saat pertama menjalankan usaha ini, ia membanderol tarif sewa Rp 25 ribu per kostum dan make up Rp 15 ribu. Tarif ini bertahan selama tiga tahun.

Yang menyedihkan, kostumnya itu kerap tidak kembali setelah disewa. Sebab, penyewanya memang tidak dimintai KTP saat itu. Sehingga, dia pun tidak tahu harus menagih ke mana.

“Waktu sewa saya tidak memakai KTP karena saya pikir yang penting dapat nama dulu, sekalian cari penghasilan. Ternyata malah disalahgunakan oleh orang tidak bertanggung jawab,” jelas lulusan AMIK Taruna Leces ini.

Bahkan,  pernah kostumnya tidak kembali selama tiga tahun saat disewa untuk festival desa. Ternyata, diketahui kostumnya sudah berpindah tangan. Selain itu, kostumnya pernah hancur karena kena hujan saat digunakan untuk festival.

Saat ini, ia menyewakan kostumnya Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun, saat ada kegiatan Agustusan, nilainya bisa naik lipat dua. Dan saat ada acara khusus, seperti Semipro atau disewa oleh dinas atau dewan, tarifnya bisa mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

“Sekarang kalau mau nyewa, saya minta KTP. Selain itu, saya minta uang dua kali lipat dari nilai sewa. Misalnya sewa kostum Rp 400 ribu, ya saya minta Rp 800 ribu. Nanti kelebihannya saya kembalikan saat kostum selesai disewa,” jelas kelahiran Juni 1992 ini.

Kini Odjan memiliki 35 kostum karnaval berbagai tema. Mulai dari kostum kerajaan, tema daun dan bunga, kostum karakter, hingga kostum adat suku. Selain itu, ada pula kostum tari sebanyak 100 buah.

Kelebihan kostum yang dimilikinya dibandingkan orang lain adalah banyak pilihan model dengan warna yang berbeda-beda. Kostumnya juga ringan. Bahkan, setiap bulan selalu ada saja kostum baru.

“Setiap bulan saya selalu membuat kostum baru. Kostum lama biasanya saya jual ke luar kota. Ya, biar modelnya tidak monoton dan masyarakat yang menyewa tetap memilih saya,” katanya.

Menurutnya, selama ini pembuatan kostum memakan waktu beragam. Bisa satu minggu sampai satu bulan tergantung kesulitan motif.

Yang membuat lama adalah ukiran pada pelengkap kostum, seperti mahkota atau sabuk. Bahannya dari matras agar awet. Sementara untuk dasar kostum dari kain yang dibuat all size.

“Saya ada keinginan untuk mengembangkan kostum saya dengan menambah properti lain. Misal kostum kerajaan yang ada saat ini dilengkapi dengan kostum dayang-dayang dan kereta kerajaan,” sebut lulusan manajemen informatika ini. (*) Editor : Ronald Fernando
#kostum karnaval