Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pohon Randu di Pemakaman Jrebeng Lor yang Tak Pernah Ditebang

Jawanto Arifin • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 19:50 WIB
MENYIMPAN MISTIS: Pohon randu yang berada di TPU Jrebeng Lor. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
MENYIMPAN MISTIS: Pohon randu yang berada di TPU Jrebeng Lor. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
TEMPAT pemakaman umum (TPU) umumnya identik dengan pohon kamboja. Namun, TPU di Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, identik dengan pohon randu. Randu itu tidak hanya jadi tetenger jalan, juga tetenger TPU.

Warga Kelurahan Jrebeng Lor dan sekitarnya lebih mengenal TPU di Jrebeng Lor dengan sebutan Kuburan Jrebeng atau Kuburan Randu. Sebab, memang berdiri sebuah pohon randu dengan ukuran besar di sana.

Daun pohon randu itu pun cukup lebat. Seolah menjadi peneduh di TPU itu. Walaupun saat ini, sudah jauh berbeda karena sebagian pohon randu tumbang tahun lalu.

Photo
Photo
SEJAK 1942: Pohon randu di TPU Jrebeng Lor ini sudah ada sejak zaman Jepang. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Tidak banyak yang tahu bahwa TPU itu sebenarnya bernama TPU Ki Demang. Nama Ki Demang dipakai sebagai nama TPU, sebab memang ada makan Ki Demang di sana. Makam Ki Demang ini adalah makam pertama di sana. Lokasinya tepat di bawah pohon randu.

Farid Nasution, 39, salah satu pengurus Pokdarwis Jrebeng Lor mengatakan, Ki Demang adalah orang yang memimpin wilayah Jrebeng Lor saat itu. Namun, siapa nama asli dari Ki Demang, saat ini tidak ada yang tahu.



Ki Demang meninggal sekitar tahun 1942 dan dimakamkan di TPU Jrebeng Lor saat ini. Tepat di bawah pohon randu yang sudah ada di sana.

Sejak saat itu, pohon randu itu tidak pernah ditebang. Bahkan, cabang dan rantingnya juga tidak pernah dirapikan. Dibiarkan tumbuh begitu saja. Karena itu, ukuran pohon randu itu memang besar. Sebelum tahun lalu sebagian pohon tumbang.

“Memang dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang berani menebang dan mengambil rantingnya. Sebab, pernah ada yang menebang rantingnya, lalu yang bersangkutan kena musibah. Meninggal beberapa hari kemudian,” katanya.

Photo
Photo
DIDATANGI PEZIARAH: Makam Ki Demang yang ada di dekat pohon randu. Ki Demang dipercaya pernah memimpin wilayah Jrebeng Lor saat itu. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Hal-hal seperti itu, menurut Farid, memang tidak kasat mata. Boleh percaya dan boleh juga tidak. Namun, warga setempat memang tidak ada yang berani memotong pohon itu.

“Dulu saat pembangunan pagar makam, rantingnya juga dipotong untuk kayu bakar. Kayu tersebut untuk membakar bata yang nantinya akan dibuat pagar. Namun tidak bisa. Bata yang dibuat tidak kunjung matang. Untuk hal seperti ini memang antara percaya atau tidak,” katanya.



Arpuyas, 60, warga RT 3/RW 4, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, menjelaskan, pohon randu itu ada sejak zaman Jepang. Sekitar tahun 1942.

“Untuk tahunnya, saya lupa. Yang jelas ada sejak zaman Jepang. Yang cerita buyut atau embahnya ayah. Tapi, tahun berapa tidak jelas. Beliau yang cerita sudah meninggal,” terangnya.

Di sana berdasarkan cerita buyutnya, juga ada dua makam yang sudah lama ada. Yaitu, makam Ki Demang dan satu lagi tokoh agama di zaman Ki Demang.

“Namun yang paling tua adalah makam Ki Demang itu. Hanya saja, karena sudah terlalu lama jadi tidak ada yang tahu nama aslinya. Orang-orang tua yang tahu ceritanya sudah meninggal semua. Sepengetahuan kami, Ki Demang itulah yang babat alas di sini dulunya,” katanya, Jumat (30/9) sore.

 

Sering Terjadi Kecelakaan

Warga Jrebeng Lor dan sekitarnya bukan hanya tidak berani menebang pohon randu di TPU Ki Demang. Jalan Sunan Ampel di sepanjang makam itu juga dianggap angker. Sebab, sering terjadi kecelakaan di sana.

Secara fisik, memang posisi jalan di tempat itu menikung tajam. Jalan di sana seolah mengitari TPU. Lalu menikung tajam di pojok TPU, jika dari arah utara atau Jam-jaman.

Sementara dari arah selatan atau SMPN 4, tikungan tajam ini tepat berada beberapa meter sebelum makam. Atau di depan rumah warga.



Dengan posisi seperti itu, pandangan pengguna jalan memang terhalang tikungan. Tidak heran bila kemudian sering terjadi kecelakaan.

Namun, berdasarkan cerita warga sekitar, mereka yang kecelakaan di jalan itu rata-rata mengaku kaget. Sebab, tiba-tiba ada sosok yang menyeberang jalan.

“Dulu pernah ada pengendara motor kecelakaan tunggal dan meninggal. Pengendara ini jatuh jungkir, seolah nabrak benda di depannya. Katanya sih menabrak ular yang hendak menyeberang ke sisi barat asta (kuburan),” terang Farid Nasution, 39, salah satu pengurus Pokdarwis Jrebeng Lor.

Ada juga pengendara motor yang jatuh di sana. Pengendara itu lantas dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Sampai di rumah sakit, pengendara itu meninggal. “Informasinya jatuh karena diganggu ular yang menyeberang itu,” tandasnya.

Untuk mengurangi jatuh korban, warga pun rutin menggelar sedekah melalui acara selamatan desa. Bahkan, di hari-hari tertentu banyak warga yang tirakat di tempat itu. Tepatnya di makam Ki Demang dan pohon randu. Seperti saat malam Suro, Jumat Legi, dan sebagainya.

Mereka yang datang pun tidak hanya dari Probolinggo. Yang paling sering adalah warga dari Lumajang, Bondowoso, dan Surabaya.

Agar lokasi itu tidak begitu angker, Pokdarwis Jrebeng Lor pun membuat taman randu di sekitar TPU. Namun, Farid mengaku tidak asal memuat taman. Dia berdoa lebih dulu sebelum membuat taman itu.



“Ya semacam meminta izin di makam Ki Demang. Dan waktu itu saya diminta membuat sendang. Sehingga dibantu warga sekitar kami membuat sendang. Baru kemudian membuat taman randu,” katanya. (rizky putra dinasti/hn) Editor : Jawanto Arifin
#tpu jrebeng lor #pohon randu