Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Profil Yudha Triwidya Sasongko, Sekda Kabupaten Pasuruan yang Baru

Jawanto Arifin • Selasa, 30 Agustus 2022 | 16:19 WIB
HARI PERTAMA: Sejumlah agenda harus dikerjakan Yudha Triwidya Sasongko saat memulai hari pertama sebagai Sekda Kabupaten Pasuruan di kantornya, Senin (29/8). (M Busthomi/Radar Bromo)
HARI PERTAMA: Sejumlah agenda harus dikerjakan Yudha Triwidya Sasongko saat memulai hari pertama sebagai Sekda Kabupaten Pasuruan di kantornya, Senin (29/8). (M Busthomi/Radar Bromo)
Sekda Kabupaten Pasuruan resmi dilantik 27 Agustus lalu. Jabatan tertinggi di lingkungan pemerintah daerah itu kini ditempati Yudha Triwidya Sasongko. Sederet posisi pernah dijabat Yudha sebelumnya. Namun, selama berkarir di lingkungan birokrasi, ia pantang meminta jabatan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

DI hari pertama ngantor dengan jabatan barunya, Senin (29/8) Yudha sudah disibukkan dengan sejumlah agenda. Salah satunya, rapat koordinasi organisasi perangkat yang dipimpin Bupati dan Wakil Bupati. Mereka membahas evaluasi tugas sekaligus rencana program ke depan.

Yudha sendiri mengaku tengah memulai adaptasi dengan lingkungan kerjanya yang baru. Ia sadar tugas dan tanggung jawabnya kini lebih besar.

“Tetap perlu adaptasi. Karena selama ini ngurus satu bidang pekerjaan, sekarang mengurus banyak hal. Mudah-mudahan nggak butuh waktu lama,” katanya.

Di lingkungan pemerintah daerah, sekda merupakan jabatan strategis. Tapi, sekaligus berat. Sekda mempunyai peran penting. Antara lain menata birokrasi dengan mewujudkan pelayanan prima, supaya harapan masyarakat untuk hidup lebih baik tercapai.

Selain itu, akuntabilitas kinerja perlu mendapat perhatian penuh demi terwujudnya pemerintah yang lebih berdaya guna, bersih, dan bertanggung jawab. Sekda juga wajib mengoordinasikan seluruh jajaran perangkat daerah untuk menyukseskan program-program kerja yang telah disusun.

“Yang tidak kalah penting, juga bagaimana menerjemahkan arahan pimpinan supaya program-program bisa berjalan,” katanya.



Kuncinya ialah komunikasi. Apalagi, di usianya yang kini 48 tahun, dia harus membawahi tak sedikit pejabat yang notabene lebih tua. Rasa pekewuh sudah pasti ada.

Tetapi, Yudha beranggapan hal itu tak akan berpengaruh pada tugasnya. Semua itu harus dijalani dengan profesional dan proporsional. Apalagi, Yudha selama ini sudah menjalin hubungan baik dengan seluruh kepala organisasi perangkat daerah.

“Tidak lantas dengan jabatan ini saya merasa menjadi lebih tua. Yang senior harus tetap dihormati. Insyaallah mereka pun tetap akan men-support. Tapi, kalau menyangkut pekerjaan, kuncinya profesional dan proporsional,” katanya.

Sebelum diangkat menjadi sekda, sederet jabatan sudah pernah ditempati Yudha. Ayah tiga anak itu memulai karirnya di pemerintahan sejak 1998. Tepatnya setelah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Empat tahun kuliah merupakan waktu yang cukup untuk menempa kemampuan dan mental sebagai kader pemerintah. Yudha kemudian memasuki dunia birokrasi dengan ikatan kedinasan.

Ia ditempatkan sebagai staf pada bagian Kesejahteraan Rakyat. Dua tahun kemudian, Yudha menjabat kasubbag diklat sebelum bergeser posisi menjadi kasubbag protokol.

Pada 2002, Yudha berdinas di Kantor Kecamatan Purwodadi. Ia menjabat kasi pemerintahan, lalu sekretaris camat. Selanjutnya, Yudha mendapat promosi jabatan. Ia tiga kali menjadi camat di wilayah yang lekat dengan kultur Madura. Antara lain, Grati, Lekok, dan Rembang.



“Di mana pun penempatannya, kami harus menyesuaikan dengan kultur masyarakatnya. Sehingga bisa mudah diterima,” kata Yudha.

Di Rembang, ia hanya 10 bulan menjabat camat. Sebab, saat itu Yudha mendapat tugas baru. Yakni, membawahi BPBD yang saat itu merupakan instansi baru. Tugasnya cukup berat. Bukan soal penanganan kebencanaan. Tetapi, minimnya fasilitas yang bisa digunakan.

“Karena memang baru merintis ya, struktural hanya lima orang. Ruangan tanpa kursi dan kendaraan operasional juga belum ada. Artinya, belum standar seperti sekarang,” ungkapnya.

Ia baru naik ke jabatan eselon dua pada 2015 sebagai kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik. Hingga beberapa tahun terakhir, Yudha terhitung sudah menempati empat jabatan eselon dua.

Keluar dari kantor Bakesbangpol, ia menjabat sebagai kepala Satpol PP, kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dan terakhir, kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Meski terbilang kenyang pengalaman, Yudha mengaku masih harus banyak belajar. Menurutnya, pengalaman, kematangan, sebentar atau lamanya menempati suatu jabatan itu relatif. Setiap abdi negara punya peluang dan kesempatan yang sama untuk menempati sebuah jabatan.

“Yang terpenting, kalau sudah ditugaskan, maka harus sebaik mungkin dijalankan. Karena jabatan itu amanah, artinya ada kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Maka jangan sampai meminta. Apa yang diberikan itulah yang harus dilaksanakan,” kata Yudha. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pemkab pasuruan #sekda kabupaten pasuruan