Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Figo Dennis Saputrananto Memperkuat Timnas U-16, Begini Reaksi Warga

Jawanto Arifin • Minggu, 14 Agustus 2022 | 14:07 WIB
NOBAR: Warga nonton bareng ketika Timnas U-16 melawan Vietnam di depan rumah Figo. (Arif Mashudi/Radar Bromo)
NOBAR: Warga nonton bareng ketika Timnas U-16 melawan Vietnam di depan rumah Figo. (Arif Mashudi/Radar Bromo)
“INDONESIA, Indonesia, Indonesia.” Teriakan warga mengiringi kemenangan Timnas U-16 melawan Vietnam terdengar malam itu. Euforia warga itu terasa sekali saat nonton bareng (nobar) di Jalan KH Mansyur 104 Kota Probolinggo. Tepat di depan rumah Figo. Seperti apa?

Sepanjang jalan KH. Mansyur Kota Probolinggo, ditutup total sejak Jumat (12/8) sore. Bukan karena akan ada resepsi pernikahan yang biasanya memanfaatkan badan jalan.

Warga akan mengadakan acara nontong bareng alias nobar pertandingan final sepak bola piala AFF. Jumat malam itu, final mempertemukan kesebelasan Vietnam dengan Timnas U-16.

Hamparan alas duduk pun disiapkan untuk warga nobar. Mereka antusias sekali. Wajar, sebab salah satu pemain timnas U-16 adalah warga asli Kota Probolinggo. Tinggal di Jalan KH Mansyur 104, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan.

Dia tidak lain Figo Dennis Saputrananto, pemain dengan nomor punggung 7. Warga KH Mansyur tentu saja ingin melihat aksi gelandang serang Timnas Indonesia itu.

Jumat malam, ratusan warga pun memadati hampir sepanjang jalan KH. Mansyur. Mulai anak-anak, orang dewasa sampai emak-emak pun, antusias nobar pertandingan final itu.

Berbagai ekspresi khas suporter Indonesia pun dipertunjukkan. Ada anak-anak yang membawa jeriken dan bambu kecil untuk penabuhnya. Ada juga penonton yang membawa bendera merah putih. Layaknya di lapangan sepak bola.



Gol, gol. Dan teriakan nyaring terdengar di sepanjang Jalan KH. Mansyur. Warga yang nobar berdiri sambil ramai-ramai berteriak bareng menyebut nama Figo. “Figo, Figo.”

Anak-anak yang membawa jeriken, langsung menabuhkan bambu ke jeriken. Sementara orang dewasa yang membawa bendera merah putih, langsung mengibar-ngibarkan bendera itu.

Sang merah putih pun berkibar diiringi gebukan alat musik perkusi yang ala kadarnya. Tepat setelah Timnas Indonesia U-16 menyarangkan gol ke gawang Vietnam, sebelum babak pertama selesai.

Setelah itu, ketegangan di wajah warga yang ikut nobar pun sangat terasa. Meski tidak menonton pertandingan langsung di lapangan, atmosfer pertandingan yang berlangsung mendebarkan terasa di sepanjang Jalan KH. Mansyur.

Sesekali penonton teriak, saat pemain Indonesia hampir mencetak gol. Ada juga yang protes geregetan saat pemain Indonesia dihadang pemain Vietnam.

Ketegangan makin terasa saat pertandingan memasuki injury time babak kedua. Intensitas permainan semakin tinggi dan memanas.

Dwi Ria, salah satu penonton mengatakan, dirinya penggemar Figo. Kebetulan, dia tetangga Figo yang tinggal tidak jauh dari rumah Figo.



Sejak kecil Figo memang sangat suka dengan sepak bola. Bahkan, bakatnya sudah terlihat sejak kecil. Tidak heran jika kemudian Figo berhasil menjadi salah satu pemain Timnas Indonesia U-16.

”Mainnya Figo dalam pertandingan final lawan Vietnam juga bagus. Senang Indonesia menang,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Sabtu (13/8).

Jhoni saudara Figo yang ikut nobar mengatakan, Figo sejak kecil memang suka sepak bola. Bakatnya bermain sepak bola bahkan bisa dilihat sejak kecil.

”Figo itu jarang di rumah, karena kesehariannya lebih banyak di lapangan. Dukungan dari keluarga sangat luar biasa. Termasuk acara nobar ini disuport oleh keluarga,” ungkapnya.

Meski demikian, orang tua Figo pasangan suami istri (pasutri) Ananto-Nova Sabtyarini tidak hadir saat nobar. Mereka hadir langsung di stadion Sleman Yogjakarta, menyaksikan Figo bertanding memperkuat skuad Timnas U-16.

Ananto ayah Figo pun mengaku sangat bersyukur dengan kemenangan Timnas U-16 di Final. Apalagi, Figo memperkuat kesebelasan itu.

“Bangga dan bersyukut sekali. Karena dia membawa nama Indonesia. Sekaligus mengharumkan nama daerah,” terangnya saat dihubungi lewat telepon.



Sebelulm pertandingan piala AFF berlangsung, Jawa Pos Radar Bromo pernah berkunjung ke rumah Figo. Saat itu, Figo didampingi Ananto, sang ayah. Duduk dibangku kelas 2 SMA, Figo memiliki tinggi 171 sentimeter dengan berat 58 kilogram.

Ananto sang ayah menceritakan, bakat sepak bola Figo sudah terlihat sejak kecil. Dia sangat suka bermain bola. Karena itu saat Figo berusia sekitar 4 tahun, Ananto memutuskan untuk memasukkan putra keduanya itu ke sekolah sepak bola (SSB) Super Kids yang bermarkas di Kota Probolinggo.

”Bakatnya sudah kelihatan dari kecil. Kebetulan saya juga melatih di SSB Super Kids. Selain itu, kakak Figo juga pemain di Persipro U-16. Bisa disebut keluarga bola,” katanya.

Ananto yang menjabat Kasubag Kewilayahan dan Kerja Sama di Bagian Pemerintahan Pemkot Probolinggo menambahkan, sejak TK sampai lulus SD, Figo terus melatih bakatnya. Hingga akhirnya, saat berusia 10 tahun dia sempat dipinjam ISA (Imran Soccer Akademi) Jakarta. Kemudian mengikuti kegiatan event Danone selama 1 tahun.

Dari situ, bakat dan kemampuan Figo dalam sepak bola terus berkembang. Hingga akhirnya, lulus SD dia masuk di Rick Nelson Academy Lawang Malang. Posisi yang digemari Figo adalah gelandang serang. Bahkan, beberapa kali dia diplot menjadi playmaker tiap kali bermain.

”Selama di Rick Nelson Academy, Figo dilatih oleh FX Yanuar. FX Yanuar adalah mantan pemain Persela dan Arema. Dari sini perkembangannya sangat cepat, akhirnya mendapat panggilan seleksi Timnas,” terangnya.

Bakat Figo akhirnya terpantau pemandu bakat timnas PSSI. Hingga dia diminta untuk ikut seleksi dan terpilih sebagai pemain inti Timnas U-16.



Figo sendiri mengaku banyak belajar di Rick Nelson Academy Lawang Malang, sekitar 3 tahun lamanya. Paling kuat motivasi dari pelatih dan orang tua. Pelatihnya sering mengingatkan jangan cepat puas dan terus belajar. Kemudian, orang tua selalu berpesan untuk tetap rendah hati dan tetap menjaga ibadah.

”Saya ingin menjadi pemain sepak bola profesional yang membanggakan orang tua dan negara,” tutur putra kedua dari tiga bersaudara itu. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin
#piala aff #figo #timnas u-16 #nobar