Asri namun menyimpan pesona magis. Inilah yang dirasakan jika wisatawan saat berkunjung ke air terjun Madakaripura. Pemandangan dan suasana lingkungan sekitar membuat pengunjung terhipnotis.
Tak heran jika pengunjung sampai lupa waktu saat berwisata. Air terjun tertinggi kedua di Jawa ini tak hanya mengakar kuat pada wisata. Tapi juga dianggap suci oleh warga setempat.
Masuk pintu gerbang, pengunjung disambut dengan patung Patih Gajah Mada. Duduk bersila dengan menyilangkan kedua tangannya. Seakan-akan mengenalkan bahwa wilayah itu adalah tempat suci yang pernah disinggahi oleh pemersatu nusantara ini. Sosok kharismatik mahapatih dipercaya beristirahat di tempat ini.
Juru kunci Air Terjun Madakaripura, Satrip mengatakan bahwa masyarakat memang mempercayai jika air terjun menjadi tempat suci yang disakralkan. Tidak heran jika pengunjung harus menjaga sopan santun saat berkunjung. Sebab jika melanggar, penjaga wilayah tersebut bisa marah.
"Sampai saat ini memang mengakar kuat legenda Patih Gajah Mada yang bersemedi dan moksa di gua air terjun," katanya.
Konon, Madakaripura adalah nama daerah perdikan yang dimiliki oleh Gajah Mada. Daerah perdikan ini diberikan kepada Gajah Mada oleh Hayam Wuruk, yang saat itu berkuasa sebagai raja Majapahit. Diperkirakan diberikan setelah peristiwa Perang Bubat. Daerah tersebut disebut sebagai tempat Gajah Mada beristirahat.
Dalam Pararaton disebutkan Gajah Mada mundur dari jabatannya setelah Perang Bubat untuk Mukti Palapa yang diartikan “menikmati masa istirahat”. Ungkapan Mukti Palapa dalam konteks tersebut berbeda dengan ungkapan serupa, Amukti Palapa, yang terkenal dan dimaknai sebagai Sumpah Palapa. Sumpah Palapa terjadi pada masa sebelumnya, yaitu saat ibu Hayam Wuruk, Tribhuwanatunggadewi berkuasa.
"Masih erat kaitannya dengan daerah perdikan pada zaman kerajaan Majapahit. Selebihnya banyak legenda lainnya yang sampai saat ini masih kami percayai," ungkapnya.
Tempat moksa patih gajah mada berada di rongga gua air terjun. Jika dari pintu masuk akses jalan menuju air terjun berupa jalan setapak. Sepanjang 1,3 kilometer jalan setapak harus ditempuh. Melewati bibir sungai merupakan aliran dari air terjun Madakaripura.
Setelah berjalan sejauh satu kilometer, pengunjung disambut dengan suara gemericik air yang mengucur dari atas tebing. Beberapa langkah kemudian pengunjung melintasi jalan setapak yang berada ditengai ngarai. Sisi kanan dan kiri berupa tebing yang cukup tinggi.
Pada sisi sebelah kiri terdapat kucuran air yang menyerupai tirai menyambut pengunjung. Melewati jalan setapak di tengah ngarai, pengunjung harus berhati-hati. Sebab jalan yang mayoritas berlantai batu begitu licin. Berjalan setapak demi setapak hingga menaiki bukit setinggi 3 meter. Dan air terjun Madakaripura dapat dilihat dengan jelas.
Memiliki ketinggian sekitar 200 meter dan luas kurang lebih 25 meter, bentuk air terjun melingkar. Sebelum menuju air terjun utama, wisatawan akan melihat 4 air terjun. Di mana, salah satunya berbentuk seperti sebuah rongga. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, rongga tersebut adalah tempat moksa Gajah Mada.
"Dahulu Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di lokasi air terjun ini. Lokasi persemedian Patih Gajah Mada di gua yang berada di air terjun utama," bebernya.
Jadi Tempat Mendak Tirta Yadnya Kasada
Bukan hanya sekadar tempat wisata. Air terjun Madakaripura juga dianggap sakral. Bahkan digunakan untuk tempat ritual Mendak Tirta atau pengambilan air suci untuk Yadnya Kasada.
Seperti perayaan Yadnya Kasada tahun ke 1944 Saka. Ritual Mendak Tirta digelar di air terjun ini dan diikuti ratusan masyarakat Tengger yang ada di lingkungan Bromo Tengger Semeru. Air terjun Madakaripura dipercaya masyarakat Tengger sebagai salah satu tempat ritual Mendak Tirta yang dianggap keramat.
Saat itu rombongan masyarakat Tengger berbondong-bondong menuju titik untuk pengambilan air suci di mata air terjun Madakaripura. Beberapa sesaji hasil bumi yang dibawa untuk berikan doa di tempat suci air terjun Madakaripura. Tujuannya untuk minta izin ke Sang Pencipta untuk mengambil air suci di lokasi tersebut.
Selain Madakaripura, ada empat tempat pengambilan air suci. Di antaranya sumber mata air Watu Klosot di Senduro, Lumajang; sumber mata air Widodaren Pasuruan; mata air Rondo Kuning Lumajang dan mata air Arjuno Malang.
Bambang Suprapto selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo mengatakan, air suci yang diambil dari empat sumber mata air berbeda itu digunakan sebagai kelengkapan upacara Yadnya Kasada. “Air suci terjun Madakaripura merupakan daerah keramat yang diketahui sebagai tempat pertapaan Patih Gajah Mada. Gajah Mada diakui sebagai leluhur suku Tengger, dan dikenal sebagai penguasa nusantara,” kata Bambang. (achmad arianto/fun) Editor : Jawanto Arifin