GEDUNG sekolah di Jalan Balai Kota itu masih utuh. Padahal, usianya telah hampir 200 tahun. Bila dilihat sekilas, gaya arsitektur gedung tersebut mampu berbicara tentang betapa usianya yang memang sudah tua. Salah satu gedung sekolah peninggalan penjajah Belanda di Kota Pasuruan.
Tidak banyak catatan yang ditemukan dalam dokumen-dokumen lama mengenai gedung yang kini ditempati SMPN 1 Pasuruan tersebut. Begitu pula dengan potretnya di masa lalu. Pengamat sejarah Budiman Suharjono mengatakan, gedung itu dibangun pada medio 1826 hingga 1833. Fungsi bangunan itu sama sekali tak berubah. Sejak kali pertama berdiri, gedung itu memang dibangun untuk sebuah sekolah.
Bangunan tersebut terdiri atas tiga gedung. Yaitu, gedung utama dengan teras yang cukup lega. Pintu dan daun jendelanya superjumbo. Bahkan, tingginya hampir mencapai langit-langit. Ada empat pintu utama dalam gedung utama tersebut. Sekarang menjadi ruang kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ruang guru, dan tata usaha.
Sementara dua gedung lain masih difungsikan sebagai ruang kelas. Yang pertama berada di sisi utara. Ada tiga ruangan untuk belajar mengajar kelas IX. Sedangkan gedung kelas di sisi belakang lebih banyak. Kini menjadi ruang kelas IX dan sebagian untuk kelas VIII.
Kala itu, pemerintah kolonial Belanda membangun lima gedung sekolah sekaligus. Salah satunya ada di Pasoeroean. Selebihnya, tersebar di Batavia, Tegal, Pekalongan, dan Riau. ”Sekolah ini biasa disebut Europeesche Lagere School atau disingkat E.L.S. dengan masa belajar 7 tahun,” terang Budiman.
Pemerhati sejarah yang tinggal di Gadingrejo, Kota Pasuruan, itu menambahkan, dalam dokumen berbahasa Belanda yang ditemukan, penyebutan nama sekolah tersebut berganti-ganti dari waktu ke waktu. Pada 1879, misalnya, sekolah tersebut diubah menjadi Meisjes School. Atau, sekolah khusus ”Nonik-Nonik Belanda”.
Kemudian, pada 1923, hingga awal masa kemerdekaan bangsa, sekolah itu disebut dengan nama 2de Europeesche School.
”Jadi, diperkirakan hingga masa pendudukan Jepang sekolah ini masih dikhususkan untuk anak-anak putri Belanda,” jelas Budiman. (tom/far)
Belum Dijadikan Cagar Budaya
Gedung itu menjadi bangunan sekolah tertua di Kota Pasuruan yang masih bertahan hingga sekarang. Meski begitu, bangunan tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya.
”Semoga ke depan bangunan sekolah negeri tertua ini mendapat perhatian dari pemerintah. Supaya bangunan utama yang sudah berusia 189 tahun ini bisa menjadi salah satu ikon heritage building yang perlu dirawat dan dijaga keasliannya,” pungkas Budiman. (tom/far) Editor : Ronald Fernando