Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pemarit Tangkap Kurban Suci di Kawah Bromo saat Yadnya Kasada

Ronald Fernando • Jumat, 17 Juni 2022 | 15:40 WIB
BERTARUH NYAWA: Para pemarit saat berupaya menangkap kurban yang dilempar ke kawah Bromo di perayaan Kasada lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
BERTARUH NYAWA: Para pemarit saat berupaya menangkap kurban yang dilempar ke kawah Bromo di perayaan Kasada lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
Digelar setahun sekali, perayaan Yadnya Kasada memberikan berkah tersendiri bagi sejumlah warga. Di antaranya, para pemarit yang berebut kurban suci saat kegiatan nglabuh di kawah Bromo. Setidaknya, 300 lebih pemarit bertaruh nyawa demi mendapatkan kurban suci yang dilabuhkan warga Hindu Tengger.

 

RIZKY PUTRA DINASTI, Sukapura, Radar Bromo

Berada beberapa meter di bawah bibir kawah Bromo sungguh bukan main-main risikonya. Lebih lagi, matahari belum menunjukan sinarnya. Suasana gelap, hitam pekat, disertai aroma belerang. Belum lagi jalan lereng terjal yang langsung ke dalam kawah. Membuat siapa saja keder berada di dekat lereng kawah Bromo.

Namun, dibalik itu semua, ada ratusan warga yang mempertaruhkan nyawanya demi mendapat rezeki pada acara setahun sekali itu, yakni Yadnya Kasada. Mereka adalah para pemarit yang berebut menangkap kurban suci saat seluruh warga Hindu Tengger nglabuh sesaji.

Bahkan, para pemarit itu rela menunggu dan menginap di puncak lereng dengan suhu begitu dingin. Hanya bermodalkan baju tebal, jas hujan plastik, dan tongkat menyerupai gala penangkap, para pemarit itu rela  tidur keleleran di lereng kawah gunung.

Kamis (16/6) pagi misalnya, suhu di lereng kawah begitu dingin. Bahkan, rambut wartawan Jawa Pos Radar Bromo langsung dipenuhi butiran es saat sampai di lereng. Lebih lagi kondisi saat itu sempat gerimis.

Para pemarit itu juga harus cekatan mengejar dan menangkap sesaji yang dilabuhkan warga ke kawah Bromo. Mulai dari hasil bumi dan olahan hasil bumi. Termasuk uang, ayam, kambing, serta sapi.



Ratusan pemarit itu juga harus cekatan memilih jalan  yang aman dari tebing yang curam untuk menangkap sesaji yang dilabuhkan warga. Tak sedikit dari mereka yang saling berebut. Lebih lagi, ketika kurban suci hendak dilemparkan dengan nilai cukup tinggi. Seperti ayam, kambing, dan sapi.

Mahari, perempuan 54 asal Desa/Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan misalnya, sudah 15 tahun menjadi pemarit. Menurut perempuan tiga anak itu, dirinya sudah biasa menjadi pemarit. Bahkan, anak-anaknya juga membantunya.

“Ini (kegiatan pemarit) hanya dilakukan setahun sekali pada saat Kasada. Saat ini saja ada sekitar 300 lebih pemarit dari sejumlah daerah, baik Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, dan Kabupaten Malang. Tak sedikit yang membentuk kelompok kecil-kecilan. Nanti hasilnya dijadikan satu dan dibagi sama rata,” terangnya.

Mahari sendiri sudah dua hari berada di lereng Bromo. Cuaca sangat dingin tahun ini dibandingkan dengan Kasada tahun sebelumnya.

“Saya berangkat Selasa (14/6) pukul 04.00. Lalu menginap di sini. Ini paling pulang pukul 12.00 atau jam satu siang. Biasanya masuk siang sudah jarang warga yang datang nglabuh,” katanya.

Tahun ini, Mahari berhasil menangkap beragam kurban suci yang dilabuhkan warga. Mulai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, bumbu dapur serta hasil olahan bumi. Mulai dari kopi, teh, susu, makanan ringan, dan sebagainya. Termasuk ada yang mendapatkan kue, ayam, kambing, dan sapi.

“Semua barang yang didapat ini, kalau bisa dijual ya dijual. Kalau tidak ya dikonsumsi sendiri,” tuturnya.



Namun, di usianya yang tak lagi muda, saat ini ia kalah cepat dengan yang jauh lebih muda. Terutama laki-laki yang lebih cekatan. Karena itu, pemarit perempuan seperti dirinya jarang dapat kurban suci seperti ayam dan kambing.

“Jadi itu kan dilempar. Ayam ini saat dilempar kan terbang dan ada yang kabur biasanya. Jadi laki-laki yang lebih gesit biasanya dapat,” terangnya.

Mustofa, 43, pemarit asal Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo, mengatakan, aksi para pemarit memang berisiko. Namun, biasanya para pemarit sudah terbiasa dengan medan yang ada, jadi tidak terlalu khawatir.

“Kami sudah biasa. Apalagi seperti saya yang sudah 15 tahun lebih. Yang penting hati-hati. Kalau tidak terbiasa dengan bau belerang misalnya, bisa pusing. Kalau tidak waspada, bisa jatuh dan bahkan mati,” tuturnya.

Lepas dari semua itu, Yadnya Kasada memberikan berkah tersendiri bagi para pemarit. Apalagi, para pemarit biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah.

“Saya bekerja sebagai buruh tani. Kasada ini menjadi berkah tersendiri bagi kami,” tuturnya.

Sebab, kurban suci yang dilabuh beragam. Ada yang melabuhkan kambing dan sapi. Biasanya, kambing dan sapi akan jadi keroyokan. Karena keroyokan, nantinya juga dibagi rata.



“Kambing dan sapi ini tidak dilempar. Tapi diletakan di depan. Pemarit yang lokasinya berada di paling depan, itu yang ketiban untung,” tandasnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#tengger #yadnya kasada #gunung bromo