ACHMAD ARIANTO, Tiris, Radar Bromo
PAGI itu, Andika, warga Dusun Paras, Desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, terlihat sibuk. Menata sejumlah pipa paralon. Menggunakan meteran, sejumlah paralon diukur.
Setelah merasa ukuran sesuai dengan yang diinginkan, digergaji. Pipa ini menjadi bahan dasar untuk membuat kaligrafi yang unik.
Pria 33 tahun ini merupakan seorang guru honorer di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tiris. Saat libur atau ketika ada waktu senggang, sering memanfaatkan waktunya untuk membuat kaligrafi berbahan baku pipa PVC.
Dari tangannya, telah tercipta puluhan karya kaligrafi yang unik. Memiliki nilai seni cukup tinggi. “Membuat kaligrafi ini saya lakukan saat ada waktu senggang. Tetapi, kok malah ketagihan. Hampir setiap akhir pekan saya membuat pola,” katanya.
Keterampilan membuat kerajinan ini diperolehnya sekitar setahun lalu. Bermula saat sedang berwisata religi di Surabaya. Melihat jejeran kaligrafi yang sudah diberi bingkai. Tampak begitu indah. Di dalamnya dihiasi beberapa lampu.
Ternyata, karya unik itu berbahan dasar pipa paralon yang dijadikan lembaran. Setelah rata, tulisan kaligrafi ditempel, lantas diukir menggunakan bor khusus.
Penjelasan singkat dari pedagang itu, membuatnya penasaran. Andika mencari sejumlah reverensi. Baik dari bahan bacaan cetak, maupun online. Ia juga mencari tanyangan proses pembuatan karya tersebut di YouTube.
“Karena tertarik dan hasilnya juga bagus, saya begitu penasaran. Saya mencari sumber bacaan dan tayangan, lah kok ketemu. Akhirnya, saya coba membuatnya,” ujarnya, sambil tersenyum.
Berbekal pengetahuan dasar dan tekad yang kuat, ia belajar secara otodidak. Untuk mengasah keterampilannya, Andika langsung membuat pola di paralon yang melengkung. Beberapa kali mencoba, gagal.
Pola yang sudah dibuat selalu pecah. Tidak hanya itu, saat mengebor permukaan pipa, sering tidak sesuai dan keluar dari pola. Sehingga harus mengulang dari awal.
“Saya memang sudah mempersiapkan untuk tahap belajar saya harus punya bor. Dan, beberapa pipa bekas sisa renovasi rumah,” katanya.
Setelah mencoba belasan kali dengan media pipa paralon, akhirnya mulai mahir. Secara perlahan mulai serius dengan keterampilannya. Kemudian, mencoba menggunakan pipa PVC ukuran 4 dim. Pipa ini dipilih karena mudah dibentuk.
Pipa dibentuk dan pola diukir. Andika mengombinasikannya dengan lampu warna-warni, sehingga tampilan lebih menarik dan dapat digunakan sebagai lampu hiasan.
“Hasil karya saya pajang di toko depan rumah. Kok banyak yang nanya dan memesan ingin dibuatkan. Dari situlah, kemudian saya melayani pesanan lampu hias dengan berbahan pipa PVC,” bebernya.
Merasa telah memiliki kemampuan membuat pola dan terampil mengukir, Andika mencoba membuat kaligrafi dengan media pipa PVC yang dijadikan lembaran. Bahan yang digunakan sama dengan pipa sebelumnya. Berukuran 4 dim. Hanya saja perlu proses lanjutan untuk membuat pipa menjadi lembaran.
Ia menjelaskan, perlu alat dan teknik khusus untuk mengubah pipa yang awalnya berbentuk tabung menjadi lembaran. Mulanya, pipa yang sudah diukur dibelah secara memanjang di bagian tengah. Kemudian, dipanaskan dan perlahan diratakan.
Setelah permukaan terlihat rata, perlu ada proses memanaskan pipa tahap kedua. Pipa yang masih dalam kondisi panas, dipres menggunakan media datar sebagai pemberat. Agar ratanya lebih maksimal.
“Bagian bawah ditempatkan pada permukaan datar. Sementara, bagian atas diberi pemberat yang juga datar. Kalau ukuran pipa kecil, saya cukup menggunakan keramik. Kalau besar, saya menggunakan potongan kayu diberi pemberat,” jelasnya.
Setelah dipres sekitar 30 menit, media sudah siap diukir. Setelah diukir, tahap selanjutnya bisa diwarnai, sesuai selera. Atau, bahkan dibuat motif natural dengan cara membakar permukaan hingga tampak hangus dan sedikit retak.
Pada tahap finishing, pipa dapat diberi lampu dan bingkai, sehingga tampak lebih menarik. “Banyak yang tertarik dan pesan untuk dibuatkan kaligrafi, khususnya yang motif natural. Tidak hanya kaligrafi, media ini juga bisa dipola sesuai keinginan dan pesanan,” ujarnya. (rud) Editor : Jawanto Arifin