RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo
Usia Aprilia Tri Setyawati terbilang muda. Tahun ini, warga Dusun Jembrung, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan itu genap berusia 31 tahun. Namun, berkat kerja keras dan keuletannya, dia sukses menjadi desainer dan produsen tas.
Tentu saja, usaha yang dirintis ibu satu anak itu tidaklah mudah. Istri dari Brigadir Polisi Dodik Ari Candra itu memulai dari nol. Pada 2010, dia mulai merintis usahanya. Dia membuka toko tas dengan nama “Rumah Tas Lucu”.
“Ini semua berawal dari hobi suka berjualan dan mengoleksi tas. Alhamdulillah bisa berkembang seperti sekarang,” kata alumni SMPN 1 Gempol dan SMAN 1 Pandaan tersebut.
Saat merintis usaha di tahun 2010, ia masih bekerja sebagai staf tata usaha (TU) di SMAN 1 Pandaan. Sembari itu, dia berjualan tas online dari Bandung.
Tidak berjualan sendiri, dia juga memiliki reseller. Lama-lama, jumlah reseler yang dimilikinya makin banyak. Hingga akhirnya, Aprilia memiliki ide untuk membuat tas sendiri. Dia pun coba-coba mendesain tas, sekaligus memproduksinya.
“Karena pelanggan dan orderannya sama banyaknya, akhirnya mencoba desain dan produksi tas sendiri di rumah. Waktu itu dibantu satu orang karyawan. Ternyata bisa,” tuturnya.
Bahkan, usahanya terus berkembang. Aprilia akhirnya memutuskan serius menekuni usahanya. Hanya dua tahun menjadi staf TU, dia pun mengundurkan diri. Kemudian fokus mendesain dan memproduksi tas sendiri.
“Sekarang karyawan saya ada puluhan dari awalnya hanya satu orang. Reseler ada ratusan, tersebar dari Sabang hingga Merauke,” ucap anak bungsu dari tiga bersaudara putri pasutri almarhum Alim dan Ninik Suhartini.
Yang menarik, penggarapan tas dikerjakan oleh sejumlah UMKM yang ada di sejumlah kota di Jatim. Seperti Lamongan, Jombang dan lain-lain.
Untuk bahan utama membuat tas, Aprilia menggunakan produk dari Cina. Yakni, kulit sintetis dan aneka jenis aksesoris lain. Sementara desain atau model juga dibuatnya sendiri.
“Desain, model, bahan, aksesoris semuanya dari saya. Yang garap UMKM. Jadi berbuat dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya tersenyum.
Meski bahannya impor, harga tas buatannya sangat terjangkau. Paling mahal Rp 50 ribu dan termurah hanya Rp 15 ribu. Tergantung ukuran dan model. Semua tas produksinya diperuntukkan kaum hawa.
“Meskipun produk lokal, tetap berkualitas lo. Kualitas ini terus kami perhatikan dan kami jaga. Juga ada ciri tersendiri tas-tas produksi saya sebagai pembeda dengan yang lain,” tuturnya.
Aprilia pun memasarkan tasnya secara hibrid. Baik offline, juga online. Untuk offline idia memaksimalkan pemasaran langsung di dua toko yang dimilikinya. Yakni di Jembrung, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol dekat rumahnya. Satu toko cabang lainnya ada di Kota Malang.
Sedangkan secara online, ia pilih via media sosial. Mulai website, whatsapp, dan lain-lain. “Pemasaran lewat offline dan online sudah ada tim sendiri yang menghandelnya,” ucap Tia sapaan akrabnya.
Dengan kerja kerasnya itu, pemasaran tasnya kini sudah sampai ke seluruh daerah di Indonesia. Tepatnya sudah menjangkau Sabang hingga ke Merauke.
“Masih dalam negeri saja pemasarannya, ke luar negeri belum. Usaha ini sudah menjadi penghasilan utama dan akan terus saya geluti,” ujarnya. (hn) Editor : Ronald Fernando