Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sepotong Kenangan di Kue Matahari alias Kembang Goyang

Ronald Fernando • Senin, 9 Mei 2022 | 15:30 WIB
BUATAN SENDIRI: Habiba menunjukan kue matahari hasil buatannya. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
BUATAN SENDIRI: Habiba menunjukan kue matahari hasil buatannya. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
Kue matahari dikenal sebagai salah satu kue khas Lebaran yang rasanya gurih. Saat ini, kue Matahari makin jarang disuguhkan, terutama di perkotaan. Namun, di daerah pinggiran di Kabupaten Pasuruan, masih ada yang membuat kue ini. Tidak sekadar karena rasanya yang gurih, tapi juga untuk mengingat masa lalu.

 

MUKHAMAD ROSYIDI, Gondangwetan, Radar Bromo

 

"Kres kres," suara gigitan kue matahari begitu menggugah selera. Hari itu, Habibatur Rohma, 31, sedang membuat jajanan lawas tersebut. Kue itu lantas dia suguhkan pada tamu-tamunya selama Lebaran.

Saat Lebaran, warga Desa Lajuk, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, itu memang sering membuat kue yang juga dikenal dengan nama kembang goyang itu. Sebab, cara membuatnya mudah. Dia pun membuat sendiri kue tersebut.

Lebih dari itu, Habiba mengenal kue matahari sejak kecil. Setiap Lebaran, emaknya selalu membuat kue matahari. Dia pun menjadikan hal itu sebagai tradisi Lebaran di rumahnya. Selain rasanya enak, baginya kue matahari adalah cara untuk mengenang Lebaran di masa lalu.

"Saya sekarang ikut suami. Makanya buat sendiri. Kalau dulu di rumah, pasti dibuatin emak," kata ibu dua anak itu.

Habiba mendapat resep kue matahari dari emaknya. Caranya pun mudah. Hanya memerlukan beberapa bahan dan cetakan khusus. Prosesnya pun cepat.



"Tidak lama. Bahannya sudah disiapkan oleh suami. Jadi saya langsung saja membuatnya," terangnya.

Meski gampang, membuat kue matahari juga harus telaten. Sebab, salah mencampurkan bahan saja akan membuat hasilnya tidak enak. Padahal, kue yang kebanyakan berwarna kuning itu gurih dan renyah. Aroma dan cita rasanya memikat siapa saja yang melihat.

Habiba sendiri membuatnya dengan sangat cekatan. Pertama, dia mencampur dan mengaduk semua bahan. Ada tepung terigu, tepung kanji, tepung beras, telur, dan air kapur.

"Ini saya buat dengan rasa gurih. Tapi biasanya ada yang buat dengan rasa manis. Tergantung selera saja sih," katanya.

Setelah adonan menyatu, dia pun menyiapkan wajah untuk menggoreng. Setelah memastikan minyak goreng di wajan panas, sebuah cetakan berbentuk bidang diangkatnya. Lalu, dimasukkan ke dalam adonan.

"Jangan sampai menutup atasnya. Jadi cetakannya disisakan atasnya. Ini untuk bisa melepas ketika digoreng," terangnya.

Cetakan yang dipakai Habibah hanya satu. Jadi, dia menggoreng satu per satu kue matahari itu. Namun, ada juga cetakan yang langsung berisi empat. "Adanya yang ini mau bagaimana lagi," tuturnya.



Dengan cekatan, dia menggoreng adonan di cetakan satu per satu. Tidak sampai setengah jam, sudah separo adonan digoreng. Selama menggoreng, Habiba terus mengontrol api dari kompor agar panasnya pas. "Kalau kepanasan bisa gosong. Makanya panasnya harus pas," terangnya.

Setelah semua adonan digoreng, kue dibiarkan selama beberapa saat. Agar kering dan minyaknya hilang. Baru kemudian dimasukkan ke toples. "Ini sudah jadi. Tinggal nanti dimakan saja," katanya tertawa.

Bukan hanya kue matahari yang biasa dibuat wanita kelahiran 1991 itu. Dia juga biasa membuat beberapa kue tradisional yang lain. Seperti semprit dan kue kacang.

Setiap Lebaran, dia pun biasa diminta tolong saudara-saudaranya untuk membuat kue khas Lebaran yang makin jarang itu. Termasuk bibi dan adik iparnya.

"Bibi yang di Malang minta dibuatkan semprit, sudah saya buatkan. Adik suami juga minta dibuatkan. Sudah saya buatkan juga," lanjutnya.

Menurutnya, belakangan masyarakat memang dimanjakan dengan kue-kue buatan pabrik di pasaran. Warga cenderung membeli kue yang praktis. Seperti wafer, nastar, dan kue kering lainnya.

Tapi bagi Habibah, menyiapkan kue Lebaran dengan membuat sendiri ada kebahagian lebih. Apalagi, tamu yang disuguhi suka dengan kue buatannya.



"Kalau dibilang praktis ya memang praktis. Tapi kalau buat sendiri dan orang suka, itu kayak ada kepuasan tersendiri. Terus juga kan sudah jarang yang buat. Jarang yang jual juga. Kadang ditanya beli di mana? Ya saya jawab buat sendiri," tuturnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#penganan jadul #kue jadul #kue matahari