Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Hafidz Rangkul Pemuda melalui Majelis Salawat

Jawanto Arifin • Sabtu, 23 April 2022 | 17:09 WIB
ALA ANAK MUDA: Gaya Gus Hafidz saat santai. (Gus Hafidz for Jawa Pos Radar Bromo)
ALA ANAK MUDA: Gaya Gus Hafidz saat santai. (Gus Hafidz for Jawa Pos Radar Bromo)
EKSISTENSI Majelis Ta’lim dan Salawat Syubbanul Muslimin sudah tidak perlu dipertanyakan. Melalui majelis ini, Pengasuh Pesantren Nurul Qodim, Desa Kalikajar, Kecamatan Painton, Gus Hafidzul Hakim Noer, berusaha merangkul para milenial dalam berdakwah.

Mendirikan majelis taklim yang berbasis pemuda memang butuh perjuangan. Terlebih ketika melihat perilaku mereka jauh dari kata Islami. Minum minuman keras (miras) dan adu jotos antarkelompok atau tawuran pemuda, sering ditemui.

Berawal dari keprihatinan itu, Gus Hafidz berusaha menyelam. Merangkul mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Dakwah itu benar-benar dimulai ketika dirinya pulang dari nyantri di Pondok Rubath Tarim, Hadramaut, Yaman, 2005.

Photo
Photo
BERBAUR: Gus Hafidz bersama sejumlah jamaahnya yang mayoritas pemuda. (Foto: Gus Hafidz for Jawa Pos Radar Bromo)

“Saat pulang kondisi lingkungan sekitar sangat memprihatinkan. Bahkan, di sini tidak aman seperti dulu. Sering terjadi tawuran,” ujar alumni Pondok Lirboyo Kediri dan Nurul Qur’an Kraksaan tersebut.

Memikirkan para pemuda, kata Gus Hafidz, selaras dengan sejumlah makolah ulama Arab dan Presiden Pertama RI Bung Karno.



“Beri aku seribu orang dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air dan aku akan mengguncang dunia.”

Sementara pepatah Arab mengatakan; “Syubanul yaom, rijalul ghad (pemuda di masa sekarang ini pemimpin di masa depan). “Juga ada yang mengatakan, Inna fi yadi syubban amrol ummah, wa fi aqdamihim hayataha (sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya suatu umat),” ujarnya.

Dari sanalah ia mencoba setidaknya dapat menyentuh para pemuda. Kemudian, mengajak secara perlahan menuju kehidupan yang lebih baik. Mulanya ada 40 pemuda di sekitar pondok pesantrennya yang didekati.

Gus Hafidz menyebutkan, ada tiga konsep dakwah yang dilakukan. Yakni, mengenalkan, mencintai, dan mendoktrin atau mengarahkan. Tiga fase dakwah ini secara berurutan dilakukan olehnya.

“Bukan menggunakan dakwah yang mengajak ke masjid kemudian sedikit-sedikit kafir. Tapi, pertama kami kenalkan dulu, setelah mengenal, buat mereka mencitai. Yang terakhir baru kami arahkan,” ujar kiai muda yang berulang tahun setiap 20 Januari tersebut.

Ia bersyukur dengan metode dakwah yang diterapkan banyak pemuda yang menerima. Majelis taklim dan salawat dipilihnya juga lantaran mudah diterima oleh para pemuda.

“Para personel majelis juga membuat atau menciptakan lirik lagu-lagu yang menarik. Dapat disukai pemuda dan dapat menggugah hati mereka. Seperti lagu Ibu Aku Rindu yang sering dibawakan. Banyak dari para pemuda saat di majelis menangis. Tergugah hatinya dengan lagu. Berbeda lagi ketika dakwahnya moro, ayo kalian tidak boleh durhaka terhadap ibu. Akan lebih sulit masuk ke dalam hati,” katanya.



Melakukan dakwah terhadap pada pemuda, menurutnya, tidak lain mengikuti arus. Namun, tidak terbawa arus. Sering dirinya ikut kumpul dengan sejumlah pemuda di kafe-kafe. Berkumpul dengan berbagai komunitas motor.

“Saya mencoba untuk menjadi mereka. Kumpul dengan anak Vespa dan anak yang suka nongkrong di kafe, ya cukup sering,” katanya.

Misinya, mengajak pemuda lebih baik kala itu, tidak mudah. Komentar miring dari masyarakat, para kiai pun berdatangan. Tetapi, semua itu tak membuatnya patah arang.

“Alhamdulillah setelah terlihat hasilnya, mulai banyak majelis selawat lainnya bermunculan. Jadi tidak mudah berdakwah bersama pemuda. Harus kuat-kuat,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, jamaahnya terus bertambah. Ibarat virus, jamaahnya terus menular dari satu desa ke desa lain. Hingga pada akhirnya mencapai sekitar 15 ribu jamaah.

Majelisnya juga sering diundang ke sejumlah negara. Di antaranya, Malaysia dan Singapura. Bahkan, pernah salawatan di Guangzhou, China, Hongkong, dan Taiwan.

Sejak 2016, Gus Hafidz juga konsen berdakwah di media sosial. Bahkan, kini bersama majelis salawatnya sangat populer. Mulai dari pengikut YouTube sebanyak 2,6 juta, akun Instagram-nya 974 ribu pengikut, dan akun lainnya seperti facebook dan TikTok.

“Kami juga memiliki Syubban Lovers, ada di 152 kabupaten/kota. Pengurus Syubban kami ada 400 orang. Kami juga ada tim medis dan tim lainnya,” ujarnya. (agus faiz musleh/rud) Editor : Jawanto Arifin
#gus hafidz #pesantren nurul qodim