Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Fuad Tanamkan Rasa Gotong Royong dan Jaga Akhlak

Ronald Fernando • Jumat, 22 April 2022 | 17:21 WIB
JAGA MORAL: Gus Fuad, terus berusaha memberikan contoh dalam menjaga kebersihan dan akhlak. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
JAGA MORAL: Gus Fuad, terus berusaha memberikan contoh dalam menjaga kebersihan dan akhlak. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
Gus Muhammad Mubarridul Fuadi, terlahir sebagai putra seorang guru di Pesantren Al Falah Lebak, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Kiai Mahin Manaf. Tetapi, kini ia membantu membesarkan pesantren milik mertuanya, Gus Halim.

 

AWAKMU oleh anak e kiai duduk dadi gus. Tapi, ngeladeni Kiai Halim (K.H Abdul Halim Jasim). Tapi, ngabdi lan ngeladeni pondok. (Kamu jadi menantunya kiai bukan untuk jadi gus. Tapi, mengabdi dan meladeni pondok).”

Kalimat itu masih diingat betul oleh Gus Muhammad Mubarridul Fuadi. Itu merupakan pesan ayahnya, Kiai Mahin Manaf.

Pesan itu disampaikan ayahnya sebelum, Gus Fuad menikah dengan putri Gus Halim. Karena pesan itu, meski kini menjadi menantu kiai, ia tetap memposisikan diri sebagai santri. Selalu tawadu  kepada mertuanya. “Saya di sini untuk mengabdi dan melayani kiai. Ini pesan abah saya,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Sapaan "gus" sebenarnya melekat pada dirinya sejak kecil. Tetapi, Gus Fuad tidak lantas besar kepala. Tetap menjadi pria rendah hati dan berpenampilan sesuai dengan zamannya. “Inilah saya. Saya penampilan apa adanya,” ujar pria yang pernah nyantri di Pesantren Al Yasini, Pasuruan ini.

Semasa kecil, Gus Fuad dibebaskan memilih sekolah dan jurusan yang hendak dijalaninya. Ia pernah mengenyam pendidikan formal hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Tapi, juga dibarengi dengan pendidikan nonformal.



Di Al Yasini, Gus Fuad nyanti selama tiga tahun. Selulus SLTA, melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Alfalah Ploso, Kediri. Di sana, ia nyantri sekitar 10 tahun mulai 2005-2015.

“Di Al Yasini dulu saya jarang pulang. Waktu teman-teman pondok pulang, saya menetap di pondok. Biasanya bersih-bersih. Nyapu dan mengepel lantai,” katanya.

Kebiasaan itu terbawa hingga kini. Dalam membantu mengasuh santri di Pesantren Roudlotun Nursalim, ia menekankan santrinya cinta kebersihan. Bahkan, tak jarang turun langsung memberi contoh para santri ketika bersih-berih. Sepeti turun ke got atau membersihkan WC.

“Anak-anak biasanya jijik. Mereka mengambil sampah dengan alat seperti ranting dan lainnya. Melihat itu, langsung saya contohkan. Saya ambil dengan tangan untuk memberikan contoh,” katanya.

Bukan hanya kebersihan, Gus Fuad juga memupuk rasa gotong royong. Dalam setiap kegiatan di pesantren, para santri dilibatkan. Baik dalam pembangunan pesantren, atau kegiatan lainnya.

“Kami tanamkan gotong royong. Ketika mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, akan merasa kangen dan ingin kembali,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting adalah penekanan terhadap akhlak. Mengingat zaman sekarang dekgradasi akhlak begitu memprihatinkan. Antara yang muda dengan yang tua, seakan tidak ada bedanya. Karena itu, menjunjung tinggi akhlak sejak dini harus kembali dihidupkan.



“Hal ini berawal dari keprihatinan melihat kondisi zaman. Tirulah akhlak guru-guru dan para ulama. Seperti Mbah Yai Jasim, Mbah Hamid, Gus Dur, dan lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, keteladan kepada para ulama sangat penting. Mereka ilmunya bersanat langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah ajaran ahlussunnah waljamaah. “Saya ingat pesan guru saya, Gus Kautsar. Katanya, kami sebagai santri jangan segan menunjukan diri. Jangan malu untuk menunjukan kalau santri dan kita ini, NU,” ujarnya. (m. rosyidi/rud) Editor : Ronald Fernando
#Pesantren Roudlotun Nursalim Gondangwetan #gus Muhammad mubarridul fuadi #pesantren al falah lebak #kecamatan winongan