Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saat Gedung Kuno Harmonie Jadi Pertunjukan Musik Jazz dan Kenalkan UKM

Ronald Fernando • Senin, 28 Maret 2022 | 21:00 WIB
KENALKAN BRAND: Salah satu UMKM peserta pameran saat digelar konser musik Jazz Harmonie di gedung Societiet de Harmonie Kota Pasuruan, Sabtu (26/3) malam. (MUHAMAD BUSTHOMI/JAWA POS RADAR BROMO)
KENALKAN BRAND: Salah satu UMKM peserta pameran saat digelar konser musik Jazz Harmonie di gedung Societiet de Harmonie Kota Pasuruan, Sabtu (26/3) malam. (MUHAMAD BUSTHOMI/JAWA POS RADAR BROMO)
Untuk pertama kalinya di masa pemerintahan Republik, Societiet de Harmonie di Kota Pasuruan dijadikan lokasi konser musik. Belum lama ini, Jazz Harmonie digelar dengan latar belakang bangunan peninggalan kolonial Belanda itu. Konser digelar terbatas dan gratis. Setiap penonton ‘dipaksa’ membeli produk UMKM agar mendapat jatah kursi di depan panggung.

 

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

SEDERET tenda sudah berdiri di sepanjang Jalan Pahlawan sejak Sabtu (26/3) siang. Mulai di depan gedung P3GI, hingga ke depan Taman Kota. Semua menawarkan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) asal Kota Pasuruan. Antara lain produk logam, kerajinan, konfeksi, hingga makanan-minuman.

Selepas magrib, beberapa tamu mulai datang untuk menonton konser Jazz Harmonie di area Societiet de Harmonie yang kini menjadi SMK Untung Suropati. Hampir semua pemilik stan UMKM menawarkan produk mereka. Tak terkecuali Gusti Cahyani Awali.

Pelaku UMKM busana muslim dan kaus khas Pasuruan asal Bugul Kidul itu tidak hanya sibuk menawarkan produknya. Ia juga membagikan pamflet yang berisi katalog produk buatannya. Di antaranya baju koko yang sudah diekspor hingga Amerika Serikat.

“Karena saya memang baru pertama kali ini ikut pameran,” kata Gusti.

Gusti sudah menyiapkan sekitar 200 pieces produknya di stan itu sejak pukul 10.00. “Yang paling banyak saya bawa baju koko. Ada juga gamis wanita dan kaus bertemakan Pasuruan,” kata lelaki 38 tahun itu.



“Alhamdulillah semua produk ada yang terjual,” ungkapnya.

Namun, Gusti mengatakan, targetnya mengikuti pameran bukan semata menjual produk. Dia lebih memanfaatkan momentum itu untuk mengenalkan brand produknya secara lebih luas. Terutama di kalangan Pasuruan sendiri.

Apalagi, pameran yang berbarengan dengan konser musik itu dihadiri undangan khusus. Banyak orang penting di Pasuruan yang datang. Seperti pejabat, pegiat, tokoh masyarakat, hingga akademisi.

“Makanya saya bagikan pamflet supaya mereka bisa kenal dengan brand kami,” ujarnya.

Salah satu pengunjung tampak antusias usai menerima pamflet dari owner Kaffah Store itu. “Ada nomor teleponnya ya, nanti saya hubungi kalau mau pesan,” kata seorang di antara mereka.

Semakin malam, semakin banyak tamu undangan yang datang. Dedy Setiawan yang datang sekitar pukul 19.00 bahkan tergopoh ketika seremonial acara hendak dimulai. Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf sudah siap menyampaikan sambutan. Sementara Dedy yang sudah puas mengelilingi stan UMKM segera mengambil tempat duduk.

“Konsepnya sangat menarik, mengolaborasikan pameran produk UMKM dengan konser musik,” kata Dedy.



Selama ini, hampir tidak pernah ada event yang digelar dengan konsep semacam itu. Kalau pameran ya pameran saja. Kalau konser ya konser saja. Jadi, terpisah. Tetapi dalam Jazz Harmonie, setiap tamu undangan ‘dipaksa’ membeli produk UMKM. Bila tidak, jangan harap bisa mendapat kursi di depan panggung.

Sebab, dengan membeli produk UMKM itulah para tamu undangan bisa mendapatkan tiket memasuki area konser. “Jadi, penekanannya agar tamu yang hadir ini mengenal dan membeli produk lokal,” ungkap Dedy yang hadir sebagai Ketua Pasuruan Inspiratif.

Di antara performa artis pembuka, penampilan Sodiq cukup mengejutkan sejumlah penonton. Sebab, orang mengenal pria asal Durensewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, itu dengan suara khasnya saat mengalunkan lagu dangdut. Terutama genre koplo. Bahkan, beberapa penonton mengira Sodiq tetap akan mendendangkan lagu dangdut dalam konser jazz di halaman gedung bersejarah itu.

Namun, Sodiq memukau penonton dengan lagu Perdamaian yang dikemas dengan iringan musik jazz. “Saya pikir akan nyanyi dangdut. Ternyata bisa juga bawakan lagu jazz,” kata Arif, salah seorang penonton.

Di penghujung konser, Tri Utami mengajak ratusan penonton bernostalgia ke tahun 1980-an dengan lantunan lagu Esokkan Masih Ada. Sorot lampu berpendar temaran menghiasi panggung yang berlatar belakang gedung peninggalan kolonial Belanda. Benar-benar sesuatu yang sangat baru di Kota Pasuruan.

Memang, gedung yang dibangun pada 1857 tersebut dulunya menjadi pusat kesenian orang-orang Belanda. Namun, selama pemerintahan Republik, hampir tidak pernah ada konser musik di gedung itu. Dedy mengakui, bangunan yang merupakan cagar budaya itu memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Dan itu yang perlu diketahui anak-anak zaman sekarang,” katanya.



Ia berharap konser semacam itu menjadi event tahunan. Dan bila penyebaran Covid-19 sudah berakhir, bisa dinikmati masyarakat umum. Apalagi dengan melibatkan pelaku UMKM seperti kemarin.

“Karena secara tidak langsung, orang tertarik menonton konsernya, tapi juga harus beli produk UMKM,” terangnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Yanuar Afriansyah menyebut, ada 30 pelaku UMKM yang dilibatkan dalam pameran tersebut. Pihaknya memang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga. Sehingga menginisiasi konser musik dengan mewajibkan tamu undangan membeli produk UMKM.

“Ini terobosan yang tujuan besarnya untuk mengembangkan sektor UMKM kita. Kami ingin mengajak tamu-tamu yang hadir bahwa bentuk cinta terhadap produk lokal itu ya dimulai dari kita sendiri,” beber Yanuar.

Dia mengklaim, penjualan produk UMKM dalam setengah malam selama konser berlangsung mencapai lebih dari Rp 30 juta. Hal itu disebutnya sudah merupakan sesuatu yang luar biasa.

“Karena memang waktunya singkat ya. Seandainya saja ada waktu tiga hari, pasti omzet pelaku UMKM kita lebih besar,” ujarnya. (tom/hn) Editor : Ronald Fernando
#gedung harmonie