Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita di Balik Situs Watu Banteng di Petungasri Pandaan

Jawanto Arifin • Sabtu, 26 Februari 2022 | 22:35 WIB
CAGAR BUDAYA: Situs Watu Banteng di Petungasri Pandaan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
CAGAR BUDAYA: Situs Watu Banteng di Petungasri Pandaan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
Bentuknya menyerupai sapi, namun hanya terdiri atas badan dan kaki. Tidak ada bagian kepala. Bagi warga di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, batu ini disebut Situs Watu Banteng. Sebuah benda cagar budaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

----------------------

Situs Watu Banteng berada di tengah tegalan di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Situs ini terbuat dari batu andesit.

Lalu di sebelah utara dan selatan situs, terdapat dua pilar berbentuk balok dengan bagian atasnya bulat. Terbuat dari batu andesit pula. Dan di sebelah timurnya terdapat benda cagar budaya lain, yaitu yoni tanpa linggo.

Teguh Hariawan, pemerhati sejarah asal Prigen menjelaskan, Situs Watu Banteng adalah arca nandi atau sapi. Warga sekitar menyebutnya dengan Situs Watu Banteng. Sebab, bentuknya menyerupai banteng tanpa kepala.

Berdasarkan bentuk situs itu, posisi sapi sedang duduk. Kemudian kaki depan ditekuk ke belakang, dan kaki belakang ditekuk ke depan. Lalu, ekornya terlihat, tapi kurang begitu jelas. Sedangkan bagian kepalanya tidak ada.

Sayangnya, situs ini telah dicat warna merah. Bekas cat itu bahkan masih menempel. Entah siapa yang mengecatnya.

“Nandi itu kendaraan Dewa Brahma dalam mitologi Hindu. Diduga kuat situs ini dari kerajaan Majapahit. Selama ini, belum pernah ada ekskavasi di lokasi areal situs ini,” tuturnya.



Lokasi situs Watu Banteng ini sekitar 400 meter dari Jalan A. Yani, Kecamatan Pandaan. Kemudian masuk ke perumahan Watu Banteng. Selanjutnya dari perumahan itu, jalan kaki melewati tegalan kosong.

Warga yang hendak ke lokasi situs biasanya memarkir kendaraan di sebuah tempat parkir di lokasi perumahan. Dari sana, terlihat jelas keberadaan situs. Situs ini dinaungi atap sederhana supaya lebih teduh. Atap itu dibangun dari swadaya warga sekitar.

“Bisa jadi, mungkin dulunya di lokasi situs Watu Banteng ini adalah kompleks pemujaan agama Hindu-Budha. Untuk memastikannya, perlu ekskavasi,” katanya.

Kenapa situs ditemukan di Lingkungan Macanan, Teguh membahasnya berdasarkan ilmu Toponimi. Ilmu yang membahas tentang nama-nama geografis, asal-usul nama tempat, bentuk, dan makna nama diri, terutama nama orang dan tempat.

Bisa jadi menurutnya, Macanan ada kaitannya dengan Macan Kuping. Macan Kuping hidup di zaman Pra Majapahit. Dia adalah buyut atau kepala Desa Pandaan.

“Namun, oleh masyarakat sekitar Situs Watu Banteng dikaitkan dengan legenda Kebo Suwayuwo. Cerita tutur yang beredar dari mulut ke mulut,” terangnya.

Hadi, warga setempat mengatakan, dulu di lokasi situs setiap hari selalu ada pengunjung datang. Terutama pada Kamis malam Jumat. Mereka ngalap berkah, sekaligus membawa sesaji berupa bunga dan dupa.



“Tapi, sekarang tidak seramai dulu. Masih ada, tapi jarang sekali. Karena sekitar bangunan situs berada sudah ramai berdiri permukiman,” tuturnya.

Warga sekitar percaya, bentuk asli situs sejatinya memiliki kepala. Namun, entah di mana saat ini kepala sapi itu. Warga juga percaya, apabila kepala arca nandi disatukan dengan badannya, maka arca nandi ini akan hidup lagi.

“Entah benar atau tidaknya, itu hanya sekadar mitos,” ujarnya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin
#benda cagar budaya #watu banteng