Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Swadesi Bangil, Pusat Kuliner Tersohor yang Dulunya Gedung Kesenian

Jawanto Arifin • Minggu, 20 Februari 2022 | 22:17 WIB
LENGANG: Kawasan Swadesi yang sudah tidak seramai dulu lagi. Inset, foto lama Gedung Dwikora sebagai pusat kesenian yang ambruk. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
LENGANG: Kawasan Swadesi yang sudah tidak seramai dulu lagi. Inset, foto lama Gedung Dwikora sebagai pusat kesenian yang ambruk. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
SWADESI merupakan salah satu ikon Kota Bangil. Bahkan, kawasan rest area itu menjadi inspirasi bagi H Ahmad Hilmy, seorang musikus yang juga anggota DPRD Jatim untuk menciptakan sebuah lagu.

Swadesi juga menyimpan kisah panjang. Sebelum menjadi seperti sekarang, siapa yang menyangka kawasan tersebut pernah berevolusi beberapa kali. Mulanya tempat yang masuk lingkungan Wetan Alun merupakan kawasan untuk umum. Namun, kemudian menjadi tempat seni dengan dibangunnya Gedung Dwikora. Sampai akhirnya bangunannya berubah fungsi menjadi pertokoan dan rumah makan seperti sekarang.

Tokoh Masyarakat Bangil Ustad Basyir Hamid mengungkapkan, dulu, area Swadesi itu pemakaman umum. Banyak warga Kelurahan Kersikan dan sekitarnya yang dikubur di wilayah setempat. Makam itu memanjang sampai ke belakang pertokoan sekarang. mendekati sungai di Wetan Alun.

Pada sekitar tahun 1964, pemerintah Orde Lama yang kala itu dikuasai Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) PKI membangun Gedung Dwikora. Gedung itu didirikan di atas tanah makam muslim umum itu.

Sempat ada penolakan dari kalangan ulama dan masyarakat. Sebab, keberadaan gedung seni itu dikhawatirkan menjadi sarang maksiat. Ada tari-tarian dan kesenian lain yang dikhawatirkan hanya memunculkan mudarat.

Menurut Ustad Basyir, salah satu ulama yang getol menolak pendirian Gedung Dwikora itu adalah KH Akhmad Suyuti asal Pandean, Kelurahan Mendalan, Kecamatan Bangil. ”Beliau tidak setuju tanah makam dijadikan gedung untuk kesenian,” kata ustad yang juga Humas Masjid Agung Jamik Bangil tersebut.

Hal itu terus disampaikan Kiai Suyuti di setiap kesempatan dalam pengajian. Meski ada penolakan, pemerintah kala itu tak menghiraukan. Buktinya, pembangunan gedung tetap berjalan hingga rampung. Padahal, di belakang gedung itu masih ada batu-batu nisan makam.



Beragam kegiatan seni dan budaya digelar di tempat itu. Seakan-akan tidak mendengarkan penolakan dari ulama dan masyarakat. Sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Atap Gedung Dwikora tiba-tiba ambruk. Padahal, bangunan tersebut tergolong baru berdiri.

Penyelidikan pun dilakukan. Masyarakat kemudian menyimpulkan bahwa seruan Kiai Suyuti benar adanya. Bahwa pendirian Gedung Dwikora itu tidak baik. Apalagi, ada makam yang dikeramatkan. Yakni, Makam Syarifah Khadijah atau Mbah Ratu Ayu yang ditemukan oleh Habib Husein bin Muhammad Ba'abud. Posisinya berada di sebelah barat Gedung Dwikora.

Makam umum muslim tersebut kemudian dirawat oleh KH Hasyim Muzamil, seorang kiai terkenal warga Wetan Alun atas perintah Habib Husein bin Muhammad Ba'abud.

Kawasan sekitar makam dipugar. Dibangunlah waktu itu musala. Lahan-lahan kosong di sekitarnya dipakai untuk perluasan area makam dan musala. Hingga saat ini, makam Mbah Ratu Ayu masih terpelihara dengan baik. Banyak peziarah datang dari berbagai daerah. Banyak pula pengajian dan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Pemerintah era Orde Baru waktu itu kemudian mengalihkan fungsi kawasan tersebut. Yang semula merupakan Gedung Dwikora diubah menjadi pusat kuliner makanan khas Bangil bernama Swadesi. Itu terjadi sekitar 1973-1974 silam.

Pusat kuliner dan rest area sangat ramai. Rumah makan berdiri berjajar. Tempat parkir luas disediakan. Wisatawan dan musafir dari berbagai daerah ramai berkunjung ke lokasi tersebut. Mereka menikmati beragam variasi menu. Nama depot-depotnya pun tersohor. Ada Bejo Untung, Lestari, Ayam Goreng Bariting, sampai masakan khas Timur Tengah di Rumah Makan Cairo.

Di kanan-kiri depot itu, ada warung-warung kecil milik masyarakat. Mereka berjualan nasi goreng, masakan Jawa, rujak kikil, es campur, sampai susu telur madu jahe (STMJ). Pengunjung pun ramai karena tempat itu juga dilalui bus-bus antarkota dalam provinsi dan antarprovinsi.



Sebagian masih ada sampai sekarang. Ada pula yang tutup karena sepi atau berganti generasi. Beberapa perbaikan dilakukan. Termasuk lahan parkir yang kini berupa paving. ”Swadesi merupakan rest area yang dibangun oleh bupati waktu itu bekerja sama dengan Kecamatan Bangil. Pembangunannya dilakukan sekitar 1973 atau 1974 lalu,” ujar Ustad Basyir.

 

Dulu Sangat Terkenal, Kini seperti Mati Suri

Sebagai rest area, Swadesi banyak diisi pelaku usaha. Termasuk usaha rumah makan. Deretan rumah makan berdiri di kawasan tersebut. Menurut Ustad Basyir, makanan yang disajikan pedagang di Swadesi benar-benar kondang pada dasawarsa 1980 dan 1990-an.

Bahkan, ada rumah makan di Jakarta yang bernama Sate Bangil. Sate Bangil sangat terkenal. Sate kambing muda sangat lezat dan sate kambing sapi yang empuk. Ada pula nasi briani, krengsengan, kopi arabia, dan sebagainya. Sate dan gule asal Bangil itu seakan tidak ada tandingannya. Bus wisata, mobil pribadi, rombongan motor gede, maupun pejabat suka mampir ke sana.

Namun, kondisinya berbeda dengan sekarang. Suasana keramaian dan parkiran kendaraan yang penuh jarang terlihat lagi. Kondisinya saat ini sepi. Depot dan rumah makan tersohor tidak dikenal lagi.

”Sekarang memang memprihatinkan. Minim perhatian,” imbuhnya.

Di sisi lain, Mukhlis, warga Kersikan, yang memiliki dengan salah satu bangunan di Swadesi mengaku saat ini ada enam pedagang atau rumah makan di Swadesi. Itu belum termasuk minimarket yang berdiri beberapa tahun terakhir.

Kondisinya memang jauh berbeda dengan era 90-an silam. Waktu itu, kawasan Swadesi sangat ramai dan dikenal di mana-mana. Kini sepi. Salah satu faktor penyebabnya, menurut Mukhlis, adalah adanya median jalan di jalan raya depan Swadesi. Ditambah pembangunan jalan tol Gempol-Pasuruan. Usaha rumah makan di kawasan Swadesi tambah kembang kempis.

”Saya pernah mencoba meneruskan usaha orang tua. Ternyata tidak mampu bertahan. Antara pengeluaran dengan pemasukan tidak imbang. Akhirnya sementara dikelola teman,” bebernya. (one/far) Editor : Jawanto Arifin
#swadesi bangil #pusat kuliner bangil