SALAH satunya, Amri Heri Budiawan, 50, warga Desa Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Ia mengungkapkan dirinya terjun menjadi peternak burung baru dua tahun terakhir. Sebelumnya, ia beternak ayam.
Namun karena umur yang tidak muda lagi, ia memutuskan berhenti menjadi peternak ayam. Di awal beternak burung, ia sempat tertarik untuk memelihara Jalak Putih. Tapi niat ini diurungkan karena Jalak Putih termasuk hewan yang dilindungi.
“Nah kebetulan saat saya mencari ide untuk beternak apa, saya dapat informasi jika kenalan anak saya di Kota Malang memiliki usaha jual beli burung. Saya pergi ke Malang dan tertarik pada Parkit Australia, Sun Conoure dan Pineaple Conoure,”ungkap nya.
Ia membeli ketiga burung itu masing masing sebanyak satu pasang. Sepasang Parkit Australia dibeli seharga Rp 7 juta dan sepasang Sun Conoure dan Pineaple Conoure seharga Rp 4 juta. Kini, dirinya sudah memiliki 60 ekor Parkit Australia, 10 ekor Sun Conoure dan 5 ekor Pineaple Conoure.
Diakuinya, dari ketiga jenis burung yang dimilikinya itu, Parkit Australia dan Pineaple Conoure yang paling berkembang. Keduanya terus beranak pinak sementara Sun Conoure masih belum masuk tahap produksi. Namun perkembangan ketiga burung ini berjalan baik.
“Sama seperti memelihara ayam. Jadi saya merasa tidak ada bedanya dari saat dulu masih beternak ayam hingga sekarang beralih jadi peternak burung. Sama sama menikmati. Cuma beda jenis saja,”terang nya kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Produksi Burung Relatif Cepat dan Mudah
Banting setir dari beternak ayam menjadi beternak burung tidak membuat Amri kebingungan. Dengan cepat, ia bisa menguasai cara memelihara, memberi makan hingga merawat burung mencapai usia dewasa. Perawatan ketiga burung ini mudah seperti ayam.
Ia mengaku tidak ada kiat khusus untuk merawat ketiga jenis burung miliknya itu. Pengalamannya selama bertahun tahun saat memelihara ayam memberikannya kemudahan untuk merawat burung miliknya. Utamanya, Parkit Australia yang lama produksinya seperti ayam.
Ketiga burung nya itu diberi makanan millet dan pakan ayam GR 1. Makanan ini hanya perlu diletakkan di kandang sekali dalam sehari. Karena burung miliknya itu diternak, bukan sekedar untuk koleksi, maka ia tidak perlu menyiram atau meletakkan di bawah matahari.
“Kalau untuk mengikuti kontes, memang perlu disiram dan diletakkan di bawah matahari biar bulunya bersih dan bagus. Kalau saya kan untuk diternak, jadi tidak perlu setiap hari. Cukup dirutinkan saja,”jelas nya.
Amri menyebut Parkit Australia miliknya bisa berproduksi antara enam hingga tujuh bulan sekali. Selanjutnya, masa pengeraman dilakukan selama 21 hari. Usai bertelur, Parkit Australi bisa kembali berkembang biak dalam dua bulan.
Ini berbeda dengan Sun Conoure atau Pineaple Conoure yang baru bisa berproduksi dalam dua tahun. Namun masa pengeraman maupun pengembangbiakan sama seperti Parkit Australia. Meski begitu, ketiganya sama sama mudah dikembangkan.
“Agar kuat dan tidak mudah mati, telur yang baru menetas itu langsung saya ambil dan masukkan ke dalam kardus. Ini biasanya satu minggu usai kelahiran. Agar tetap hangat dan tidak mudah sakit, saya beri lampu di dalam kardus,” terang Amri.
Harga Jual Tinggi dan Pemasaran Mudah
Amri memang baru terjun ke dunia ternak burung pada 2019 lalu. Namun, meski terbilang belum lama, ia tidak pernah kesulitan dari awal terjun di bisnis ini. Pemasaran nya mudah didapat apalagi pecinta burung tidak pernah padam. Dan tentunya, harga yang menggiurkan.
Langganan burung miliknya tidak hanya berasal dari Kabupaten Probolinggo saja, namun dari luar kota, seperti Kabupaten Lumajang hingga Kota Surabaya. Dirinya hanya cukup memposting foto dan dimasukkan ke dalam media sosial (medsos).
Apalagi ia tergabung dalam grup pecinta burung di facebook. Harga yang dibanderol pun beragam. Misalnya untuk jenis Parkit Australia, jika masih anakan seperti baru menetas beberapa minggu, maka dijual Rp 500 ribu, namun jika sudah memasuki usia dewasa bisa dijual Rp 600-700 ribu.
“Pembeli ini cukup melihat postingan foto saya di facebook. Kalau memang tertarik, mereka bisa langsung datang ke rumah saya untuk melihat lihat. Kalau memang cocok dengan harga, bisa langsung dibawa pulang,”jelas nya.
Lain halnya dengan Parkit Australia, untuk Sun Conoure dijual dengan harga mulai dari Rp 1,2 juta sedangkan Pineaple Conoure dijual seharga Rp 2,5 juta untuk usia dewasa. Meski harga berbeda, namun ketiga jenis burung miliknya sama sama diminati oleh pecinta burung.
Ia mengaku sebenarnya banyak pembeli yang meminta indukan dari burungnya. Mereka bahkan berani untuk membeli dengan harga tinggi, namun ia selalu menolak karena ini kunci bisnis ternak miliknya. Ia hanya menjual anakannya saja.
“Ibarat nya petani itu indukan ini sawahnya, jadi yang saya jual itu padi nya. Kalau ada orang yang ingin terjun dalam bisnis ini, yang terpenting itu niat dan harus dilaksanakan sungguh sungguh. Jangan menyerah sebelum berhasil,” pungkasnya. (riz/fun) Editor : Fandi Armanto