ARIF MASHUDI, Lumbang, Radar Bromo
RUMAH itu terlihat cukup asri. Sejumlah tanaman bonsai dan tanaman hias lain memenuhi halaman depan rumah, yang terletak di tepi jalan Dusun Krajan, Desa Tandonsentul, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, itu.
Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana, tampak seorang lelaki berambut gondrong diikat kuncir. Di siang hari yang cerah itu, lelaki itu tampak sibuk memotongi ranting-ranting kecil bonsai. Sesekali, ia juga membersihkan tanaman yang telah dibentuk itu.
Achmad Jheyz namanya. Namun, lebih akrab disapa Jheyz. Usai 15 menit asyik dengan bonsainya, bapak satu anak itu pun mengajak Jawa Pos Radar Bromo ke kebun bonsainya. Jaraknya, hanya sekitar 200 meter dari rumahnya. Tapi, lokasinya masih masuk jalan gang kecil.
Di lahan itu, puluhan tanaman bonsai milik Jheyz dibudidayakan. Ada yang ditanam ke pot besar, pot kecil, dan ditanam ke tanah. Tanaman bonsai itu pun banyak jenisnya. Mulai jenus Serut, Ulmus, Ficus, Sancang, hingga Loa. ”Jenis-jenis ini, sangat cocok di daerah lereng Gunung Bromo, termasuk Lumbang,” kata pria kelahiran Probolinggo 12 Agustus 1985 itu.
Jheyz memasang kawat pada ranting-ranting bonsai. Agar bisa dibentuk sesuai keinginannya. Bahan yang digunakan, bukan kawat biasa. “Ini kawat almunium yang dipakai untuk membentuk tanaman bonsai. Lebih lentur,” jawabnya, sambil melanjutkan mengikat ranting bonsai.
Jheyz mengaku, dirinya suka dengan tanaman bonsai sebenarnya sudah lama, sejak SD. Namun, dirinya hanya sekadar suka. Tidak sampai menggeluti secara langsung. Hingga akhirnya, pada 2014 lalu, dirinya diajak untuk terjun dan fokus dalam dunia tanaman bonsai. Nah, sejak itu dirinya mulai belajar.
”Tanaman bonsai itu mengajarkan kesabaran, seni, dan usaha. Karena, tanaman bonsai itu membutuhkan keuletan dan kesabaran untuk menjadikan bonsai yang menarik,” katanya.
Disebut mengajarkan kesabaran, karena untuk menjadikan bonsai siap jual, dibutuhkan waktu relatif lama. Paling cepat 5 tahun. Baru bisa terlihat tanaman bonsai itu siap jual dan layak miliki nilai.
Namun, kalau sudah jadi, harganya bisa berlipat-lipat. Soal harga, bervariasi. Dilihat dari bentuk dan keunikan bonsai itu sendiri. Biasanya, harga rata-rata bonsai berkisar antara Rp 5-35 juta. Dan yang termahal, bisa mencapai Rp 75 juta.
”Kalau harga itu tergantung peminat atau pembelinya, Mas. Jika pembeli itu suka dengan bonsai itu, berani jual dengan harga mahal. Saya pernah jual bonsai milik teman seharga Rp 75 juta. Kalau punya saya sendiri, pernah ada yang laku ke Kalimantan, dengan harga Rp 25 juta,” ungkapnya.
Untuk pemasaran bonsai, dikatakan Jheyz, dirinya memanfaatkan media sosial. Karena itu pula, dirinya pernah mengirim dan menjual bonsai hasil karyawanya ke Asia Tenggara, seperti Malaysia.
Jheyz mengaku, dirinya pun kini bergabung dengan komunitas pecinta bonsai di Kabupaten Probolinggo. Bonsai yang dimiliki, mulai dari hasil dongkel ataupun pembibitan sendiri. Dirinya pun menjual bibit bonsai, ukuran yang masih kecil biasa dijual dengan harga sekitar Rp 25 ribu.
Untuk bonsai hasil dongkel itu, biasa diburu di hutan. Namun, saat berburu bonsai dari dongkel di hutan harus bersabar. Terkadang sudah berburu ke hutan, tidak dapat hasil. Biasanya, bonsai hasil dongkel itu dirawat dan dibentuk menjadi cantik, hingga siap jual.
Menurutnya, kondisi tanah lereng Gunung Bromo yang subur, sangat pas untuk budi daya bonsai. (mie) Editor : Jawanto Arifin