Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjuangan Ajak Anak-Anak Tinggalkan Gadget lewat Dolanan Anak Desa

Jawanto Arifin • Selasa, 4 Januari 2022 | 23:22 WIB
DOLANAN ANAK DESA: Sejumlah bocah asyik main dolanan anak desa yang dipelopori oleh Komunitas Ndonesia Negeri Dolanan Anak Desa. (Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
DOLANAN ANAK DESA: Sejumlah bocah asyik main dolanan anak desa yang dipelopori oleh Komunitas Ndonesia Negeri Dolanan Anak Desa. (Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
Menjaga interaksi sosial di era transformasi digital saat ini bukan hal mudah. Namun, juga tidak sulit dilakukan. Salah satu caranya, mengalihkan anak dari gadget dan mengenalkan mereka pada permainan nonindividu. Seperti yang dilakukan Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa.

AGUS FAIZ MUSLEH, Krejengan, Radar Bromo

Hompimpa Alaium Gambreng.” Mantra pembuka terdengar dari puluhan anak pagi itu. Mereka meneriakkannya dengan penuh keyakinan dan penuh canda tawa.

Beberapa detik kemudian, puluhan anak itu berlarian di sebuah halaman rumah yang lapang. Di Dusun Lamur, Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.

“Main apa ini. Ayo cepat main,” kata anak perempuan saat hendak memulai permainan.

Di sisi lain, langkah kaki sejumlah dalang dari Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa Jatiurip terdengar cepat. Terburu-buru menyiapkan alat permainan yang mudah didapat di kehidupan sehari-hari. Seperti sarung, batu, dan bambu.

Riuh suara anak-anak kembali terdengar, saat sejumlah anak bermain balap sarung. Permainan pertama yang dimainkan. Balap sarung ini dimainkan antarkelompok. Tiap kelompok beranggota masing-masing lima anak.

Mereka lantas membentuk lingkaran sembari menggenggam tangan teman di sebelahnya. Sarung kemudian dikalungkan pada salah satu anak. Sarung ini harus dipindah bergantian dari satu anak ke anak yang lain.



“Sarung yang dikalungkan harus dipindah dari satu anak ke anak lainnya. Tapi, tanpa melepas genggaman,” Kata khairul Umam, 25, salah satu penggagas komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa Jatiurip.

Ragu bercampur senang, terlihat jelas dari raut wajah sejumlah anak yang bermain. Ragu, karena mereka jarang bermain mainan seperti itu. Apalagi, selama bermain mereka harus berinteraksi dengan anak lain.

Yang mereka kenal selama ini kebanyakan gadget. Dimainkan di rumah, tanpa terlibat interaksi dengan anak lain.

Tidak hanya balap sarung yang dimainkan pagi itu. Ada enam permainan tradisional lain yang dimainkan sampai siang. Mulai uncal sarung, balang watu, wenga, bakiak panjang, damparan, dan klompen batok.

“Ini adalah permainan tradisional sejumlah daerah. Seperti Wenga, permainan yang menggunakan bambu yang diserut. Kemudian di tumpuk dan harus dihancurkan. Ini permainan tradisional Papua,“ kata Umam.

Umam menyebut, sebagian dari anak-anak yang bermain saat itu adalah mereka yang kerap bermain di Sanggar Sejati Desa Jatiurip. Sanggar belajar yang dibuat oleh sejumlah pemuda desa setempat.

Permainan tradisional itu sengaja dipilih agar interaksi sosial di kalangan anak-anak tetap terjaga. Sehingga bisa membangun keguyuban dan emosional sebagai makhluk sosial.



Inisiatif kegiatan permainan tradisional itu muncul dari hasil renungan pemuda Jatiurip tentang anak-anak yang lebih suka main gadget. Mereka menilai gadget memberikan dampak negatif yang semakin lama kian terasa pengaruhnya.

Misalnya, terlena saat bermain sampai tak kenal waktu. Membuat anak jadi sosok individual. Bahkan, sampai memengaruhi emosional anak.

“Dirasa atau tidak, interaksi dan kehidupan sosial anak berkurang saat mereka fokus main HP. Bahkan, ada yang mudah emosi, suka marah-marah dan kurang menghargai sesama,” kata Ainun Najib Afandi, salah satu penggerak komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa.

Karena pemikiran itu, muncul inisiatif mengajak anak-anak untuk bersosialisasi. Caranya, mengajari mereka permainan yang mengutamakan interaksi. Pilihan itu juga terinspirasi dari kegiatan Komunitas Kampung Lali Gadget (KLG), Sidoarjo.

Mereka lantas memanfaatkan liburan tahun baru untuk mengajak anak-anak bermain. Selain untuk melestarikan permainan tradisional, juga untuk menjaga anak-anak dari persebaran Covid-19.

Memang baru anak-anak Desa Jatirurip yang diajak. Dari keseluruhan anak yang bermain, tak sedikitpun terlihat anak-anak yang membawa atau memegang gadget. Hal itu bukan karena permintaan dari dalang, namun secara sadar dan sukarela mereka tidak membawa gadget.



Dari kejauhan, Asmi, salah satu orang tua anak yang bermain mengaku sangat bersyukur. Bahkan, Asmi merasa permainan itu lebih pas untuk anak-anak, daripada sekadar main HP.

Syokkor, tang anak tak man dekman. Tak main HP meloloh. Pole preien tak agelejer (Syukur, anak saya tidak ke mana-mana, tidak main HP terus. Ditambah lagi, liburan tahun baru tidak keluyuran),” Ujarnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#dolanan anak #ajak anak tinggalkan gadget