Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Panji Laras, Petilasan Anak yang Terbuang di Krucil

Jawanto Arifin • Sabtu, 27 November 2021 | 22:19 WIB
PENUH HISTORI: Perangkat Desa Pandanlaras berada di Petilasan Panji Laras. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
PENUH HISTORI: Perangkat Desa Pandanlaras berada di Petilasan Panji Laras. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
Legenda Panji Laras tidak hanya dimiliki satu daerah. Sejumlah daerah juga memiliki legenda tentang penyabung ayam itu. Termasuk Kabupaten Probolinggo. Bahkan, petilasan Panji Laras hingga kini terpelihara dengan baik di utara Gunung Argopuro di Kecamatan Krucil.

-------------------

SEBUAH petilasan dengan lantai batu tertata rapi di bawah pepohonan yang rimbun. Itulah petilasan Panji Laras di Dusun Krajan 1, Desa Pandanlaras, Kecamatan Krucil.

Petilasan itu berada di Pegunungan Desa Pandanlaras, di tebing yang cukup tinggi. Untuk menuju petilasan itu, pengunjung harus melalui sebuah tangga yang terbuat dari batu tertata rapi.

Di bawah petilasan terhampar lapangan cukup luas sebagai tempat parkir kendaraan. Mereka yang hendak ke lokasi biasanya memarkir kendaraan di lapangan ini.

“Ini pintu masuknya. Tidak jauh lokasinya, agak ke atas sedikit,“ kata Mustofa, salah seorang perangkat Desa Pandanlaras.

Petilasan itu sendiri dipercaya warga sebagai tempat bertapa Panji Laras. Menurut cerita para sesepuh desa, petilasan itu dahulu merupakan sebuah padepokan milik Pendeta Waskita.

Mustofa mengisahkan, legenda Panji Laras terjadi di zaman Kerajaan Jenggala. Saat itu, raja Panji Inukertapati memperistri Dewi Sekartaji. Namun, mereka tak kunjung memiliki keturunan. Raja akhirnya menikah lagi dengan Ni Kadalwerdi. Dengan harapan bisa memiliki keturunan.



“Usai menikah, istri mudanya ini memiliki niatan buruk terhadap Dewi Sekartaji. Dia mencoba untuk mengeluarkan Dewi Sekartaji dari kerajaan. Saat itu, di kerajaan wilayah barat,“ ujarnya.

Niat busuk istri muda raja ini semakin menjadi-menjadi. Sejumlah cara pun dilakukan. Sampai akhirnya, istri muda raja meminta kepada raja untuk membuang Dewi Sekartaji. Dengan dalih, Dewi Sekartaji sudah lama tidak memiliki keturunan alias mandul.

“Dewi Sekartaji lantas dibuang di sekitar Desa Pandanlaras. Dia dibuang di sebuah tebing sehingga tidak sadarkan diri,” katanya.

Dalam Keadaan tidak sadar, Dewi Sekartaji ditemukan oleh Pendeta Waskita. Pendeta itu menolong dan membawa Dewi Sekartaji ke gubuk yang saat ini menjadi petilasan Panji laras.

“Saat menemukan Dewi Sekartaji ini, pendeta juga menemukan telur ayam di sampingnya. Saat itu diketahui juga bahwa Dewi Sekartaji mengandung tiga bulan,“ ujarnya.

Sejatinya saat menemukan Dewi Sekartaji, pendeta sudah menaruh kecurigaan. Sebab, paras cantik dan pakaian yang digunakan tidaklah lumrah digunakan oleh orang biasa.

“Suatu hari, pendeta pun mencoba menanyakan asal usul Dewi Sekartaji. Dia pun mengaku istri raja yang dibuang karena difitnah istri muda raja,“ lanjutnya.



Di gubuk itu pula, Dewi Sekartaji akhirnya melahirkan anak lelaki dengan paras tampan dan diberi nama Panji Laras. Di waktu yang bersamaan, telur yang dipungut pendeta saat menemukan Dewi Sekartaji juga menetas. Sehingga, ayamnya juga disebut Panji Laras.

Waktu pun terus berputar. Panji Laras beserta ayamnya mulai besar. Dia tumbuh sebagai pemuda sakti yang suka sabung ayam. Saat melakukan sabung ayam, Panji Laras tidak pernah kalah.

“Setiap sabung, ayam Panji Laras ini tidak pernah kalah. Kemenangan Panji Laras itu pun didengar raja di daerah barat atau kerajaan,” ujarnya.

Raja yang mendengar kehebatan ayam milik Panji Laras pun penasaran. Sebab, raja ternyata juga suka sabung ayam. Dia akhirnya mengutus anak buahnya untuk mendatangi Panji Laras.

“Anak buahnya pun menemui Panji Laras dan menyampaikan bahwa raja ingin bertemu dengan ayam dan pemiliknya. Panji Laras pun diminta menemui raja,” ujarnya.

Mendengar permintaan itu, Panji Laras yang sebelumnya mengetahui asal usulnya, tidak langsung menyanggupi permintaan raja. Panji Laras menyanggupi bertemu raja jika raja mengetahui siapa dirinya.

Jawaban Panji Laras pun disampaikan pada raja. Raja pun semakin penasaran. Sehingga ia mengutus panglima perangnya menuju Desa Pandanlaras untuk menemui Panji Laras.



“Saat utusan keduanya datang, Panji Laras meminta raja harus mengakui dirinya sebagai anaknya,” ujarnya.

Raja pun semakin penasaran. Pada akhirnya raja mengadakan sabung ayam. Dia juga menyampaikan, jika Panji Laras memang anaknya, maka dia juga memiliki kedikdayaan atau kekuatan yang lebih dibanding manusia lainnya.

“Dengan woro-woro tersebut, Panji Laras pun datang mengikuti sabung ayam. Sesampainya di kerajaan, raja mengatakan jika dia bisa mengalahkan ayam milik raja, maka Panji Laras akan langsung diakui anaknya. Namun, jika kalah, maka akan dihukum mati,“ ujarnya.

Akhirnya, ayam Panji Laras pun menang. Usia menang, ayam Panji Laras pun berkokok dengan bahasa manusia.

“Ayam Panji Laras mengatakan bahwa Panji Laras adalah anak raja sendiri. Kemudian, diperkuat oleh ibu dan pendeta yang secara diam-diam datang ke kerajaan,” ujarnya.

Raja akhirnya mengakui Panji Laras sebagai anaknya. Tidak hanya itu, Panji Laras pun langsung dinobatkan menjadi penerusnya. Sementara istri mudanya ditinggal.



Menurut Mustofa, petilasan Panji Laras saat ini masih banyak didatangi oleh masyarakat. Terutama yang suka dengan sabung ayam. Tak jarang, masyarakat membawa tanah petilasan sebagai isyarat.

“Tanahnya dibawa terus diletakkan di kandang ayam. Tujuannya, biar ayam bisa jago saat bertanding,” katanya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#kecamatan krucil #desa pandanlaras #panji laras