------------
SITUS Raos Pacinan mudah dijangkau. Untuk ke lokasi, pengunjung bisa menggunakan motor atau mobil dengan akses jalan yang cukup nyaman. Berupa jalan tanah dan paving.
Lokasinya sekitar 1,5 kilometer dari ruas jalan nasional Pasuruan–Mojokerto. Berada di areal pertanian tebu, sekitar 50 meter dari Kali Porong atau Sungai Brantas.
Hingga kini, kondisi situs yang termasuk bangunan cagar budaya itu masih terpelihara dengan baik. Lahan seluas 815 meter persegi ini tiap hari dijaga oleh seorang juru pelihara (jupel).
Di dalam situ sendiri terdapat bangunan segi empat seperti sebuah kolam. Di dalamnya terdapat sepasang Dwarapala atau dua patung raksasa penjaga pintu gerbang.
Menurut sejarahnya, bangunan segi empat itu awalnya sebuah pendapa. Namun, kini berubah bentuk menyerupai kolam.
“Ini bukan kolam sebenarnya. Dulu ini merupakan pendapa yang menghadap ke Kali Porong. Tepat di depan pendapa atau di pinggir kali, ada bekas bandar atau pelabuhan. Sekarang sudah rusak diterjang arus sungai,” terang Sumari, 60, jupel Situs Raos Pacinan.
Berdasarkan keterangan warga secara turun temurun, di bangunan menyerupai kolam itu dahulu tidak hanya terdapat sepasang Dwarapala. Tapi, juga ada patung-patung kecil lainnya. Namun, kini sudah raib.
Kolam itu sendiri terhubung langsung dengan Kali Porong. Karena itu, kondisi air di dalamnya juga sangat dipengaruhi oleh kondisi air di Kali Porong.
Meskipun hujan berjam-jam atau hampir seharian, kolam itu tidak pernah penuh terisi air. Begitu hujan reda, biasanya air langsung ikut surut.
“Namun, kalau Kali Porong debit airnya tinggi, kolam ini dengan sendirinya terisi air. Bahkan, hingga hampir penuh. Kalau debit air Kali Porong turun, air dalam kolam pun ikut surut. Bahkan, biasanya tidak terisi air,” tuturnya.
Situs itu sendiri diberi nama Raos Pacinan, karena lokasinya berada di Dusun Raos. Kemudian di sekitar bangunan cagar budaya ini, dulunya terdapat perkampungan Tionghoa atau Cina.
Arkeolog dari BPCB Jatim Wicaksono Dwinugroho menambahkan, situs Raos Pacinan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Tempat ini dibangun sekitar abad 13 Masehi di zaman Kerajaan Singasari.
“Saat itu, tempat ini oleh Raden Wijaya disebagai sebagai tempat transit. Di tepian sungai terdapat bandar atau pelabuhan kecil untuk bersandarnya kapal,” katanya.
Tempat ini juga merupakan tempat persembunyian Raden Wijaya. Kala itu dia dikejar oleh pasukan Tar-tar dari Mongolia di bawah kepemimpinan Kaisar Kubilai Khan.
“Jadi Raden Wijaya ini kabur ke Madura melewati Kali Porong. Sebelum ke Kali Porong, dia sembunyi di tempat ini dulu,” bebernya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin