Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Peternakan Parkit Australia Datangkan Pundi-Pundi Rupiah

Jawanto Arifin • Sabtu, 20 November 2021 | 23:22 WIB
MENGUNTUNGKAN: Heri Budiawan mengecek kondisi burung parkit Australia, hasil budi dayanya. Setiap dua bulan ia mampu menjual belasan pasang anakan burung. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
MENGUNTUNGKAN: Heri Budiawan mengecek kondisi burung parkit Australia, hasil budi dayanya. Setiap dua bulan ia mampu menjual belasan pasang anakan burung. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
Kebanyakan orang memanfaatkan waktu senggang saat libur kerja dengan beristirahat. Mengembalikan energi yang terkuras. Beda dengan Heri Budiawan, 50. Ia memilih mengisi waktu luangnya dengan beternak Parkit Australia. Tak disangka, kini mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah.

ACHMAD ARIANTO, Kraksaan, Radar Bromo

SEORANG pria berkacamata terlihat sibuk memberi pakan puluhan burung di sebuah rumah di Jalan Wahidin, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Puluhan pasang burung dalam kandang itu satu persatu diberi pakan. Sejumlah kandang yang kotor juga dibersihkan.

Itulah aktivitas Heri Budiawan, saat memiliki waktu senggang. Awalnya, Heri mengaku tak biasa memelihara burung. Namun, setelah liburan bersama rekan kerjanya ke Malang, ia tiba-tiba kepincut terhadap dua pasang burung yang menurutnya cantik dan unik. Warnanya begitu cerah. Suara begitu nyaring.

“Liburan saya melihat burung seperti kakak tua mini. Saya lihat-lihat kok bagus, akhirnya bertanya kepada rekan. Setelah dijawab, kok menarik untuk dipelihara, akhirnya saya membeli dua pasang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Kamis (18/11).

Sesampai di rumah, dua pasang burung itu dikurung dalam sangkar. Masing-masing berukuran 2 x 1 meter. Perawatannya dilakukan ala kadarnya. Tidak ada yang istimewa. Mulai dari memberi pakan hingga pembersihan kandang.

Namun, rasa ingin tahunya terhadap burung peliharaannya membuat Heri banyak memburu ilmu baru. Mencari informasi tentang burung peliharaannya kepada sejumlah komunitas burung. Ia juga mengakses informasi melalui YouTube. Semakin banyaknya ilmu yang diperoleh, membuatnya semakin tertarik. Termasuk untuk mengembangbiakkannya.

“Saya baru tahu setelah bertanya kepada teman-teman bahwa burung saya itu merupakan Parkit Australia. Sepasang jenis tompel dan sepasang lagi jenis white face. Sebelumnya saya pikir parkit biasa,” ungkapnya.



Dalam memelihara burung ini, kata Heri, tidak ada perlakuan khusus. Hanya saja pakan berupa melet putih dan konsentrat BR-1 harus tetap tersedia. Tempat pakannya tidak boleh sampai kosong. Begitu juga dengan air minumnya. Kebersihan kandang juga harus diperhatikan agar tidak mudah terkena penyakit.

Selang tiga bulan memelihara parkit, rupanya secara bergantian burung yang dibelinya bertelur. Perkembangan ini membuatnya semringah. Ia mengaku berjodoh dengan dipeliharaannya, sehingga mampu berkembang biak. Telur burung itu pun dipisah dalam sebuah sangkar khusus yang dibuat di sisi kandang.

Heri semakin berhati-hati merawatnya. Mulai dari pemberian pakan, kondisi pakan, dan kehangatan sangkar diperhatikan. Setelah mengerami selama 21 hari, telur menetas. Anakan burung itu pun diawasi dengan seksama agar tidak mati saat proses pembesaran.

“Dua pasang burung sama-sama bertelur empat dan semuanya menetas. Tentu membuat saya senang,” bebernya.

Setelah berusia sekitar 3 bulan, anakan burung dipisahkan dengan induknya. Dimasukkan ke kandang berbeda untuk dikembangbiakkan kembali. Lagi-lagi, upayanya berhasil. Kini, ada sekitar 50 pasang burung yang sedang dikembangbiakkan.

Rupanya Parkit Australia yang dimilikinya, membuat sejumlah rekannya tertarik. Mereka pun membelinya untuk dikembangbiakkan. Heri tidak berkeberatan. Bahkan, ia tak pelit untuk berbagi ilmu. Terutama terkait cara memelihara burung agar tumbuh sehat dan mampu berkembangbiak.



Satu ekor anakan burung yang dipeliharanya saat sudah berusia 2 bulan dijual seharga Rp 450 ribu. Harga itu akan naik saat usia burung sudah lebih tua dan mulai mengeluarkan bulu yang cantik.

Tak jarang ia juga menjual indukan burung. Sepasang burung jenis tompel dihargai Rp 1,8 juta dan jenis white face Rp 2,3 juta. Harga ini sepadan dengan keunikan, corak, serta struktur tubuh burung yang tegap dan sehat.

“Lumayan hasil yang diperoleh bisa untuk membeli pakan dan tambahan kandang. Ke depan saya ingin tambah lagi populasinya. Selain mudah untuk diternakkan, juga menguntungkan. Mudah-mudahan harganya bisa tetap stabil,” harapnya. (rud) Editor : Jawanto Arifin
#parkit australia #budi daya burung