-------------------
RANUWURUNG adalah nama sebuah desa di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Letaknya di jalur pendakian Gunung Argopuro.
Sekitar 20 kilometer ke arah selatan Kota Kraksaan, lokasi Desa Ranuwurung berada di perbukitan cukup tinggi. Di tengah desa, tepatnya di pinggir lembah, permukiman warga terlihat jelas.
Menurut warga setempat, lembah itu dulu sebuah danau atau ranu yang luas. Sekitar 30 hektare. Warga menyebutnya Ranuwurung. Atau danau yang urung.
Namun, kini kondisinya telah mengering dan berubah menjadi lahan pertanian. Bekas ranu yang berada di Dusun Ranon itu bernama Ranuwurung. Jika diartikan adalah danau wurung atau tidak jadi.
Berdasarkan cerita turun temurun warga setempat, dulu di lokasi Ranuwurung tinggal seorang bidadari cantik. Saat itu, kondisinya masih berupa hutan belantara.
Di hutan itu juga tinggal jin. Bertubuh hitam dengan tinggi sekitar 3 meter.
“Kalau warga sini biasa menyebutnya gendoruwo. Nah, jin ini kemudian jatuh cinta pada bidadari itu. Dia melamar bidadari itu menjadi istrinya,” terang Bambang Hermanto, sekretaris Desa Ranuwurung.
Alih-alih menerima, bidadari tersebut merasa takut. Dia lantas mencari cara untuk menolak keinginan jin tersebut.
“Bidadari itu mengiyakan lamaran jin ini. Namun, dia mengajukan sejumlah syarat,” terang Bambang.
Salah satu syarat yang diajukan, yaitu meminta dibangunkan ranu untuknya mandi. Ranu itu harus dibuat dalam waktu semalam saja. Yaitu, dimulai saat matahari terbenam hingga ayam berkokok pada pagi hari.
“Karena rasa cintanya, jin itu menyanggupi syarat yang diajukan bidadari tersebut. Dia pun mulai menggali di lokasi ranu saat ini,” ujarnya.
Namun, upayanya membuat ranu sia-sia. Belum selesai ranu dibuat, ayam sudah berkokok.
“Karena pembangunan ranu tidak berhasil, bidadari pun tidak mau diperistri,” katanya.
Meski gagal, di tengah ranu setengah jadi itu ternyata keluar sumber mata air. Air pun semakin meninggi, sehingga membentuk ranu.
“Tempat itu pun disebut Ranuwurung. Karena sudah ada airnya. Nama Ranuwurung diambil dari kisah pembangunan ranu itu sendiri,” lanjutnya.
Pada masa kolonial belanda, sepasang suami istri tinggal di selatan Ranuwurung. Warga menyebutnya Pak Sise dan Bu Sise. Merekalah orang pertama yang menempati desa ini.
Pasutri tersebut berasal dari Pulau Madura. Kini, makam mereka berada di selatan Ranuwurung. Kondisinya pun masih terawat.
Di sisi lain, keberadaan Ranuwurung sering memakan korban. beberapa orang meninggal tenggelam di sana. Terutama saat musim hujan.
“Korban meninggal terakhir terjadi tahun 1999. Karena itu, warga akhirnya tidak mau lagi ada ranu di tempat itu,” katanya.
Saat musim hujan, volume air di ranu memang sering meninggi. Saat itu, kedalaman ranu mencapai 7,5 meter. Ranu bahkan sering dipakai warga untuk bersampan.
“Warga bisa memakai sampan atau perahu kecil untuk mengelilingi danau. Tapi, masyarakat sudah tidak menghendakinya lagi. Karena banyak memakan korban,” lanjutnya.
Untuk mewujudkan hal itu, pada 2015 warga setempat membuat aliran pembuangan untuk air danau. Air dari danau dibuang ke sungai Rondoningo di barat desa.
Selain pertimbangan keselamatan warga, pertimbangan lain karena makin banyak permukiman warga di sekitar ranu.
“Saat ini ada 21 kepala keluarga di sekitar ranu. Jika air naik, rumah warga ini juga bisa tenggelam,“ katanya.
Agar warga desa selalu selamat, pemerintah desa setempat rutin mengadakan selamatan desa setiap tahun. “Bujuk Sise pembabat alas desa juga kami sebut saat selamatan desa. Berharap keberkahan dan keselamatan desa,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin