--------------
PADA 1913, menara air di jantung kota itu mulai dibangun. Tidak lama setelah Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan akan membangun jaringan pipa air minum yang berdekatan dengan jalur pantai di Pasuruan.
Sebenarnya, ada dua menara air yang dibangun waktu itu. Pertama, menara air yang kini berada di wilayah Kota Pasuruan. Dan kedua, terletak di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.
Tetapi, menara air di dekat Alun-alun Pasuruan itu lebih besar. Tak hanya bangunannya, tetapi juga biayanya. Yakni, 89.500 gulden. Enam kali lipat lebih mahal dibanding menara air di Lekok. Fondasinya dibentuk dengan abu bekas letusan Gunung Arjuno yang sudah mengeras. Dan seiring waktu, strukturnya memadat hingga menjadi lapisan padas.
Pembangunan menara air itu cukup beralasan. Pemerintah Kolonial Belanda menganggap Pasuruan sebagai daerah strategis. Hingga kemudian penjajah memutuskan berdirinya Kotapraja Pasuruan berdasarkan Staatsblad 1918 Nomor 320 dengan nama Staads Gemeente Van Pasoeroean.
Sektor perdagangan dan jasa maju pesat. Kota Pasuruan berubah menjadi hunian eksklusif bagi penjajah. Dan tentu, padatnya aktivitas saat itu membuat pemenuhan kebutuhan dasar seperti air cukup mendesak. Membangun menara air setinggi lebih dari 20 meter menjadi satu-satunya jalan.
Dalam bahasa Belanda, bangunan itu disebut watertoren. Orang Pasuruan kini lebih mengenalnya sebagai pet ledeng. Tapi, apapun namanya, bangunan itu direncanakan bisa menampung air dari sumber Umbulan di Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.
Air ditarik menggunakan pompa ke tandon di atas menara untuk memberi tekanan pada sistem distribusi. Daya tampung menara air itu sekitar 750 meter kubik. Sedangkan kebutuhan air di Kota Pasuruan dalam 24 jam pada seabad yang lalu sebanyak 3.293 meter kubik.
Kesalahan Konstruksi yang Memalukan
Jaringan pipa saluran air sudah terpasang. Tetapi, tidak dengan kompensatornya. Menara air itu ternyata belum benar-benar siap difungsikan, meski pekerjaan konstruksinya sudah rampung.
Sang arsitek, Ir Asger Smith mulai mencium aroma kegagalan dari proyek yang mahal itu. Dia mulai menyelidiki persoalannya. Dan tidak butuh waktu lama untuk tahu: ternyata fondasi bangunan itu tidak cukup kokoh! Kekuatan fondasinya tidak seimbang untuk menahan beban menara beton yang dibangun menjulang.
Yang mengerikan, bangunan itu ambles! Algemeen Handelsblad, sebuah majalah perdagangan pada terbitan 19 Oktober 1924 melaporkan menara air itu ambles sekitar tiga meter.
Berbagai cara dilakukan. Para pekerja mengebor sekeliling fondasi. Berusaha membuat struktur fondasinya lebih kokoh. Menghabiskan berkarung-karung pasir hanya untuk memadatkan lapisan fondasi. Namun, semua sia-sia.
Kesalahan konstruksi itu jelas membuat Ir Asger Smith kehilangan muka. Tapi, yang patut diacungi jempol dari sosok yang satu ini adalah rasa tanggung jawab. Dia masih berusaha menyempurnakan pekerjaannya.
Asger Smith mengajukan beberapa peralatan. Dia berencana melakukan pengeboran lebih dalam untuk menjamin kekuatan fondasi menara air.
Tapi, Pemerintah Hindia Belanda menolak usulan Direktur Penyediaan Air Batavia tersebut. Alasannya, biaya yang sudah dikeluarkan untuk proyek itu sudah sangat besar. Ditambah perbaikan-perbaikan, menara air itu menghabiskan sekitar 90.000 gulden. Angka yang cukup fantastis di zaman itu.
Gaji guru muda di Sekolah Sarekat Islam saja, tulis Tan Malaka dalam buku SI Semarang dan Ondewijs (1922), hanya sebesar 40 gulden sebulan. Bila biaya makan seorang dewasa saat itu adalah 8 sen sehari, maka anggaran pembangunan menara air itu sebenarnya bisa untuk mengenyangkan 1.125.000 orang.
Alhasil, menara air itu beroperasi dengan bentuknya yang tidak sesuai rencana. Bahkan, Algemeen Handelsblad menulis bangunan itu sempat menjadi lelucon di kalangan banyak orang.
Fondasinya yang ambles membuat bangunan itu tampak miring. Menara air itu digambarkan sebagai varian dari menara Pisa di Itali. Pasoeroean's dànsende toren. Menara dansa Pasuruan.
Cerita itu terus berkembang. Konon, Asger Smith yang menjadi orang paling bertanggung jawab dalam pembangunan menara air itu tak kuat menanggung malu dengan gunjingan semacam itu.
Dia disebut-sebut mengakhiri hidupnya di salah satu tangga menara. Tetapi, ada cerita lain menyebut bukan Asger Smith yang tewas. Melainkan, pekerja yang terjatuh dari atas menara.
Masih Berfungsi setelah Republik Berdiri
Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Dewan Kebudayaan Kota Pasuruan Roem Latif mengatakan, menara air itu masih berfungsi setelah Republik Indonesia berdiri. “Tahun 1960-an itu masih dipakai,” kata Roem Latif.
Menurutnya, menara air itu mesti dilestarikan. Apalagi sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Beberapa kali era pemerintahan berganti, rencana pemanfaatan menara air itu hanya sebatas rencana.
Padahal, kata Roem Latif, bangunan itu cukup ikonik. Dari atas menara, kawasan Kota Pasuruan bisa terlihat jelas. Mulai dari kawasan permukiman, hingga hamparan laut Madura di sisi utara kota. Tetapi, sekarang kondisinya makin tak terawat.
“Dan satu-satunya bangunan tertinggi di Pasuruan. Saya pernah mengusulkan agar dijadikan museum daerah sebelum kondisinya menjadi berubah rupa, berubah makna, dan menjadi rumah tak bertuan,” ujar Roem Latif.
Direktur PDAM Kota Pasuruan Robert Balbut mengaku tak tahu persis kapan terakhir kali menara air itu beroperasi. Setidaknya, sejak ia menduduki kursi direktur, menara air itu sudah tidak dipakai. “Jadi sejak 2016 saya masuk memang sudah tidak berfungsi bangunan itu,” katanya.
Setelah itu, Pemkot Pasuruan mengusulkannya menjadi aset yang perlu dilestarikan. Menara air menjadi salah satu dari 11 objek bangunan dan kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya di Kota Pasuruan. Tetapi, sampai sekarang, menara air itu masih seperti dulu. Kondisinya makin tak terurus. (muhamad busthomi/hn) Editor : Jawanto Arifin