----------------
GAYANYA santai. Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di SMKN 1 Bangil, ia hanya mengenakan setelah kemeja dan celana jins. Namun, kesan kasual itu tidak akan pernah tampak ketika ia bertugas di Liga 1. Ia selalu memakai setelah jas lengkap dan sepatu pantofel.
Khoirul Anam, 54, memang memiliki profesi ganda. Di sekolah ia merupakan guru olahraga. Di luar, adalah pengawas pertandingan sepak bola Liga 1.
“Sudah sejak 2007 saya menekuni profesi sebagai pengawas pertandingan atau match commissioner,” ungkap Anam -sapaannya.
Profesinya itu tidak lepas dari dunia sepak bola yang begitu dicintainya. Saat muda, Anam merupakan pemain sepak bola. Dia pernah merumput sebagai gelandang serang di Assyabaab Bangil saat usia 18–20 tahun. Baru kemudian pindah ke Persekabpas Pasuruan sekitar tahun 1995.
Kelahiran Pasuruan, 4 Oktober 1967 ini lantas memilih gantung sepatu sebagai pemain. Ia kemudian menekuni dunia hakim pertandingan atau wasit.
“Karena menjadi pesepak bola memiliki batasan usia. Tapi, saya tidak mau lepas dari dunia bola. Makanya, saya bertekad tetap berkiprah di sepak bola, meski bukan sebagai pemain,” kenangnya.
Maka sejak 1996, ia menekuni profesi wasit. Dari wasit lokal hingga mengantongi lisensi C2. Menjelang C1 atau nasional, ia didekap cedera. Sehingga tidak memungkinkan baginya melanjutkan kiprah sebagai wasit.
“Akhirnya, saya tidak melanjutkan profesi sebagai wasit. Pada 2001 saya resmi mundur dari profesi wasit,” tandas suami dari Eni Dwi Astuti ini.
Tidak lagi menjadi wasit, semangatnya untuk berkiprah di dunia sepak bola tak pernah pudar. Ia pun melanjutkan karirnya di pengurusan tim. Persekabpas Pasuruan menjadi tempatnya berlabuh.
“Sejak 2001 saya masuk dalam jajaran pengurusan Persekabpas hingga 2007,” tuturnya.
Pada tahun yang sama, ia mulai mengikuti penataran pengawas pertandingan di Surabaya. Ia sempat bertugas mengawasi laga di daerah. Hingga pada 2009, ia mengikuti kursus lagi untuk tingkat nasional.
Meski lulus, ia tak serta merta mendapatkan tugas mengawasi pertandingan. Tugas tersebut baru didapat pada tahun 2012. “Saat itu saya mendapat tugas mengawasi pertandingan Divisi Dua atau setingkat Liga 3 tingkat nasional. Pertama saya waktu itu,” kisahnya.
Pada 2013–2015, tugasnya menanjak. Dari yang semula Divisi Dua, naik ke Divisi Satu. Namun, pada 2016 kiprahnya harus terhenti. Menyusul adanya dualism pada pengurusan PSSI.
Baru pada 2017, liga sepak bola di Indonesia kembali digulirkan. Dia pun bertugas seperti semula. Saat itu, dia menjadi pengawas pertandingan di Liga 2 sampai 2019.
Tahun berikutnya, kastanya naik. Tidak lagi mengawasi jalannya laga Liga 2. Tapi, fokus pada Liga 1. “Sejak 2020 sampai sekarang, saya menjadi pengawas pertandingan Liga 1,” ulas bapak tiga anak tersebut.
Sebagai pengawas pertandingan, tugas yang diemban bukan hanya saat laga. Dia juga harus mengawasi kondisi sebelum pertandingan. Bagaimana kesiapan stadion, sarana, dan prasarana penunjang dan yang lainnya.
Begitu juga, ketika pertandingan usai. Ia tidak boleh pulang duluan. Sebelum memastikan tim tamu pulang dengan aman. “Makanya, H-2 sebelum pertandingan kami sudah harus di lokasi untuk mengecek semua kesiapan pertandingan,” terangnya.
Apapun yang ditemukan sebelum pertandingan hingga berakhirnya pertandingan, haruslah dicatat. Karena, catatan itu menjadi laporan kerjanya untuk disampaikan ke PT Liga maupun PSSI Pusat.
Bila ditemukan ada kesalahan, tentu hukuman harus ditanggungnya. Hukumannya pun tidak ringan. Bisa tidak diberi tugas untuk menjadi pengawas pertandingan. Karena itulah, laporan yang dibuat tidaklah boleh asal. Harus sesuai, karena pertanggungjawabannya besar.
Anam sendiri pernah didatangi panitia pertandingan agar tidak mencatat suatu kondisi. Saat itu, ada laga di Aceh malam hari. Hasilnya, tuan rumah menang. Tapi, ada penonton yang terprovokasi. Hingga memicu aksi pelemparan ke tengah lapangan.
Hal itu membuat panitia pelaksana panik. Maklum, denda yang dikenakan tidaklah murah. Sekali lemparan bisa Rp 25 juta.
“Mereka datang dan meminta agar pelemparan itu tidak ditulis. Sampai mohon-mohon dengan sangat. Tapi, saya jelaskan kalau tidak saya tulis, saya yang kena. Apalagi ada kamera. Akhirnya mereka menyadari meski dengan rasa kecewa,” tuturnya.
Tak selamanya menjadi pengawas pertandingan “dihormati”. Pernah, ia juga diteror oleh oknum suporter. Mereka datang ke hotel untuk mengganggunya.
“Ya, sambil mengancam. Awas kamu, seperti itu. Tapi, Alhamdulillah tidak pernah terjadi apa-apa. Semuanya lancar,” pungkasnya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin