------------------
SEBUAH bangunan menyerupai aula berdiri di Dusun Punden, Desa Kregenan, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Banguann itu berpagar bata kuno. Di dalamnya ada lima makam.
Itulah sentana atau istana. Dan salah satu makam yang ada sentana, diyakini warga setempat sebagai makam Syeh Maulana Ishaq.
Abu Ali, 67, juru kunci makam mengatakan, warga mengenal Syeh Maulana Ishaq sebagai salah satu ulama dari Aceh yang menyebarkan agama Islam. Menurut beberapa sumber, Syeh Maulana Ishaq adalah ulama yang mengislamkan Samudra Pasai, daerah Sumatera dan Aceh.
“Dari Aceh, kemudian menyebarkan Islam ke tanah Jawa. Nah, sampai di sini beliau singgah untuk beristirahat,“ ujar Abu.
Selanjutnya, Syeh Maulana Ishaq melanjutkan perjalanan ke wilayah timur Probolinggo. Dalam perjalanan itu, beliau singgah di Besuki, Pecaron di Situbondo, dan sampai di Banyuwangi.
“Di lokasi-lokasi yang disinggahi itu juga ada makam yang dipercayai sebagai makam Syeh Maulana Ishaq. Sama seperti di sentana,” ujarnya.
Sesampainya di Banyuwangi, lanjut Abu, Syeh Maulana Ishaq bertemu dengan raja Blambangan. Di sana, Syeh Maulana Ishaq menikah dengan putri raja Blambangan. Yakni, Dewi Sekardadu. Kemudian dikaruniai seorang putra.
“Dari hasil pernikahan dengan Dewi Sekardadu ini, Syeh Maulana Ishaq dikaruniai anak bernama Syeh ‘Ainul Yaqin atau biasa disebut Raden Paku atau Joko Samudro. Raden Paku adalah salah satu dari Wali Sanga atau dikenal dengan sebutan Sunan Giri,” ujarnya.
Dari sekian cerita yang beredar, menurut Abu, usai dari Banyuwangi Syeh Maulana Ishaq kembali ke Aceh. “Banyak versi memang. Ada yang bilang dimakamkan di sini. Ya, itu makamnya. Ada juga yang mengatakan usai perjalanannya, beliau kembali ke Aceh,“ ujarnya.
Kata sentana, menurut Abu, diambil dari kata Istana. Sebab, jika dibandingkan dengan semua petilasan. Petilasan Syeh Maulana Ishaq yang paling megah adalah petilasan di Kregenan.
“Makanya dinamakan sentana yang artinya Istana. Jadi, diambil gampangnya, menjadi sentana. Jadi di sini dipercaya sebagai Istana Syeh Maulana Ishaq,” ujarnya.
Abu sendiri telah menjadi juru kunci sentana selama 11 tahun. Dia adalah juru kunci ke-14 setelah dipilih oleh kepala desa setempat.
“Sampai juru kunci kedelapan, itu adalah juru kunci turun menurun. Kalau saya bukan juru kunci turun temurun. Saya dipilih oleh kepala desa,” ujarnya.
Ada Mata Air Penyembuh Penyakit
Selama berada di Sentana, Syeh Maulana Ishaq dipercaya meninggalkan sebuah mata air. Bukan mata air biasa. Mata air itu diyakini bisa menyembuhkan segala penyakit.
Letaknya di sekitar masjid yang di bangun tahun 1960-an. Tidak heran, sampai saat ini masih banyak warga yang datang untuk mengambil air tersebut.
“Ngalap barokah. Jadi, mata air ini adalah peninggalan Syeh Maulana Ishaq, salah satu waliyullah. Sekarang sumbernya ada di masjid itu. Masjid didirikan pada 1960,” kata Abu Ali, juru kunci makam.
Ali menyebutkan, banyak cerita kekeramatan yang ada di santana. Salah satunya, di sebelah selatan pintu masuk menuju makam ada dua pohon beringin tinggi menjulang.
“Beringin itu biasa disebut beringin lanang wedok (laki-perempuan). Dulu beringin ini besar sekali. Bahkan, akses jalan sempit sekali. Hanya cukup dilewati satu orang. kemudian dipangkas sebagian beringinnya,” tuturnya.
Cerita kekeramatan yang lain yaitu, kuda putih yang sewaktu-waktu muncul dan mengelilingi makam. Kuda tersebut berjalan di atas pagar.
“Ada orang yang pernah melihat ada kuda putih memiliki sayap berkeliling, berjalan di atas pagar ini,” ujarnya.
Warga juga bercerita, banyak benda atau makhluk hidup yang melintas di atas makam akan jatuh. Misalnya, ada pesawat jatuh saat melintas di atas makam pada masa penjajahan Belanda. Pesawat itu jatuh di depan pintu makam.
“Nyangsang (nyangkut) di beringin itu. Tapi, itu dulu. Jadi apa-apa yang melintas di atas makam ini akan jatuh. Misalnya ada burung terbang di atasnya, maka burung akan jatuh dan mati. Dulu banyak burung yang jatuh di sini,“ ujarnya.
Hingga kini sentana masih sering dikunjungi. Baik warga dari dalam maupun luar daerah. Mereka yang datang biasanya melakukan tahlil dan berdoa dengan berharap barokah.
“Kadang rombongan dari luar daerah, Dari Bogor, Jawa Barat, Bekasi. Kadang ada yang bermalam dan bawa peralatan masak sendiri,“ ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin