MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo
PUNCH pad terpasang di kedua pergelangan tangannya. Di hadapannya, berdiri seorang atlet muda. Beberapa pukulan ia ayunkan tepat mengenai target sasaran. Cukup keras. Sesekali diselingi tendangan.
Sementara di sudut ruangan yang lain, sejumlah atlet sibuk berlatih kecepatan pukulan. Setiap atlet diberi waktu 20 detik berlatih pukulan dengan samsak. Latihan berlangsung selama 20 menit. Istirahat sebentar. Kemudian berlatih lagi dengan durasi yang sama.
Pemandangan itu terlihat ketika Serka Mar Nisful Laili melatih atletnya di sasana Keris Samudera Muaythai Camp yang berada di kompleks Gedung Pancasila, Kota Pasuruan. Sedikitnya ada 30 atlet di bawah binaannya. Di antara puluhan atlet tersebut, yang paling muda berusia 13 tahun.
“Memang tidak ada batasan untuk ikut latihan di sini,” kata pria asal Purworejo, Kota Pasuruan, tersebut.
Menurutnya, usia tak menjadi persoalan utama dalam bela diri muaythai. Porsi latihan juga disesuaikan dengan kategori setiap atlet. Mulai dari yang paling junior di kategori pemula. Kemudian kategori kadet, junior, dan senior.
“Bedanya kalau pemula dan kadet hanya materi basic, karena tulangnya belum terbentuk,” katanya. Di samping itu, atlet kategori kadet dan pemula juga tak boleh menyerang kepala ketika bertarung.
Nisful sendiri sudah menjadi pelatih muaythai sejak 2012. Saat itu, dia pula yang merintis cabang olahraga bela diri asal Thailand di Kota Pasuruan. Namun, jauh sebelumnya, Nisful sebenarnya sudah akrab dengan olahraga bela diri.
Saat muda, dia pernah menggeluti olahraga karate dan wushu. Bahkan pada 2001, Nisful berkesempatan mengikuti SEA Games di Kuala Lumpur.
Lantaran itu, Nisful punya cukup pengalaman dengan olahraga bela diri. Mulai dari yang low contact seperti karate, kemudian berlanjut dengan bela diri full contact di wushu, hingga akhirnya memilih muaythai yang notabene lebih ekstrem.
Berbekal keahliannya dalam olahraga bela diri itu pula yang mengantarkan Nisful menjadi anggota TNI AL. Dia lolos dalam penerimaan tamtama TNI AL pada 1993.
“Harus saya akui memang keahlian bela diri itu ada nilai lebih pada saat mendaftar di TNI. Karena saat itu kan belum ada jalur prestasi,” ungkap bapak satu anak ini. Baru pada 2009, Nisful mengikuti pendidikan bintara.
Kini, dia bertugas di Batalyon Howitzer-2 Marinir atau Yonhow-2 Mar. Di kesatuan dinasnya, Nisful juga merupakan prajurit yang ditugaskan di training center. Sehingga setiap harinya, dia berkonsentrasi melakukan pembinaan atlet-atlet dari Korps Marinir. Sore harinya, selepas berdinas dia meluangkan waktu melatih atletnya di sasana.
Sebagai seorang pelatih bela diri, Nisful diharuskan selalu bersikap lugas kepada anak asuhnya. Sebab, menjadi seorang atlet muaythai tidak hanya mengandalkan ketangguhan fisik. Yang tidak kalah penting ialah memahami teknik dengan baik. Serta, memiliki mental petarung.
Semua itu, bisa didapat dengan berlatih keras dan sungguh-sungguh. Serta juga rasa ingin tahu yang tinggi. “Kalau sudah punya rasa ingin tahu, mereka akan lebih mudah memahami teknik,” beber Nisful.
Di samping itu, Nisful juga selalu menekankan agar anak asuhnya memiliki keberanian yang tinggi. “Keberanian itu penting. Kalau sudah nggak punya nyali, mau latihan bagaimanapun, berat,” ucap suami Juni Wahyuningsih itu.
Meski begitu, Nisful mengaku beruntung. Sebab, selama ini dia tak pernah menjumpai atlet yang cengeng. “Mungkin mereka sudah punya tekad yang besar sejak awal. Sehingga sampai saat ini saya tidak pernah ketemu atlet yang cengeng,” bebernya.
Dia yakin, seberat apapun latihan yang mesti dijalani atletnya tak akan sia-sia. Terbukti, beberapa atletnya sudah menoreh prestasi. Mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
Yang membanggakan, sedikitnya ada lima atlet binaan Nisful juga sudah menjadi anggota TNI dan Polri. Semua mendaftar dari jalur prestasi. Termasuk tujuh atlet lain yang juga mendapat beasiswa di perguruan tinggi negeri.
“Yang tidak ternilai bagi saya menjadi pelatih adalah ketika berhasil mengantarkan anak-anak meraih masa depannya,” ujarnya.
Nisful juga tak menarik biaya bagi atletnya yang berlatih di sasana Keris Samudera Muaythai Camp. Mulai dari pendaftaran hingga selama latihan. Pengalamannya menimba ilmu di Ponpes Nurul Hidayah Tumpang Malang, merupakan titik balik bagi Nisful untuk urusan yang satu ini.
Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Hampir setiap hari, Nisful mengamati gurunya di ponpes tempatnya nyantri. Hingga keseharian sang guru yang memulai aktivitas sejak pukul 03.30 hingga pukul 22.00.
“Dari kiai saya itulah akhirnya mengambil pelajaran tentang keberkahan ilmu,” kata Nisful.
Dia memegang ajaran Islam tentang pahala yang senantiasa mengalir hingga liang kubur sekalipun. Yakni, anak saleh, amal jariah, dan ilmu yang bermanfaat.
“Saya ingin ilmu yang saya berikan ke atlet-atlet saya ini bermanfaat. Makanya saya tidak menarik biaya sama sekali selama latihan,” katanya. (hn) Editor : Jawanto Arifin