Petirtaan Belahan atau Sumber Tetek berada di kaki Gunung Penanggungan. Di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Petirtaan ini dikenal dengan sumber airnya yang dipercaya berkhasiat. Tidak heran, para pengunjung Sumber Tetek selalu menyempatkan mandi di kolam yang ada. Atau sekadar cuci muka di pancuran yang airnya keluar dari (maaf) payudara patung Dewi Laksmi. Bahkan, banyak yang membawa jeriken untuk mengambil air dari petirtaan.
Arkeolog dari BPCB Jatim Wicaksono Dwinugroho menjelaskan, Petirtaan Belahan ada kaitannya dengan prasasti Cungrang di Dusun Sukci, Desa Bulusari. Petirtaan ini dibangun pada zaman Empu Sindok, Kerajaan Medang di tahun 924 Masehi atau abad ke-10.
“Jadi, petirtaan ini ada sejak Era Empu Sindok dari kerajaan Medang. Dipakai hingga era Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Kini jadi tempat ritual masyarakat,” bebernya.
Menurutnya, sejumlah sumber sejarah menyebut, Petirtaan Belahan adalah tempat air suci bagi para petapa. Tempat itu merupakan sebuah fasilitas dari asrama atau padepokan Pawitra.
Sebelum naik ke Pawitra atau Penanggungan, para petapa mampir dulu ke tempat ini untuk melakukan ritual. Ritual dilakukan di Petirtaan Belahan ini karena airnya dianggap suci.
“Jadi, tempat ini bukan candi, tapi merupakan petirtaan dari asrama pawitra di Gunung Penanggungan. Masih berhubungan dengan situs gapura belahan,” katanya.
Adapun air yang mengalir di Petirtaan Belahan bersumber dari mata air di kaki Gunung Penanggungan. Dialirkan ke kolam dengan ukuran 5x4 meter melalui patung Dewi Laksmi dan Dewi Sri yang berdiri di sana. Kolam itu sendiri lantainya terbuat dari bebatuan andesit. Sedangkan tembok sekeliling kolam terbuat dari batu bata merah.
Lalu, di antara patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi ini, dulu terdapat patung Dewa Wisnu naik garuda. Kini, patung tersebut disimpan di museum.
Kondisi Petirtaan Belahan menurut Wicak –panggilannya–, adalah bentuk asli. Tempat itu belum pernah sekalipun dipugar. Beberapa dinding batu bata di belakang patung dewi atau di sisi barat kolam saat ini sudah ada keretakan.
Sekdes Wonosunyo Anshori mengatakan, Petirtaan Belahan oleh warganya dijadikan punden atau tempat sedekah. Saat sedekah desa, sedekah diletakkan di pelataran atau halaman tempat tersebut.
“Tidak hanya sedekah desa, warga kalau mau gelar hajatan lebih dulu tumpengan kecil di Sumber Tetek ini,” ujarnya.
Tiap hari, selalu ada pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Mereka biasanya mandi ritual, juga mengambil air dari pancuran tetek patung Dewi Laksmi untuk dibawa pulang.
Sebab, airnya dipercaya punya banyak khasiat. Antara lain, pengasihan, awet muda, jabatan, kesehatan atau pengobatan, dan jodoh.
“Paling ramai pengunjung datang pada Kamis Kliwon malam Jumat Legi. Juga bulan Sura. Mereka datang untuk mandi ritual di kolam. Setelah selesai biasanya mereka bawa air dari pancuran di kolam,” ucapnya.
Namun, kini Sumber Tetek ditutup sementara karena penerapan PPKM Darurat. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin