Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hamada Nassar, Pria asal Palestina yang Nikahi Wanita Probolinggo

Fandi Armanto • Kamis, 20 Mei 2021 | 16:01 WIB
ANTAR NEGARA: Intan Kencana Putri bersama suaminya, Hamada Nassar (kiri). Pria asal Deir Al-balah, Palestina, menikahi Intan 2020 silam. (Foto: Agus Faiz Mulseh/Jawa Pos Radar Bromo)
ANTAR NEGARA: Intan Kencana Putri bersama suaminya, Hamada Nassar (kiri). Pria asal Deir Al-balah, Palestina, menikahi Intan 2020 silam. (Foto: Agus Faiz Mulseh/Jawa Pos Radar Bromo)
Konflik Palestina-Israel bergejolak, menjadi perbincangan hangat. Pro-kontra kerap terjadi, apalagi di sosial media. Tapi bagi Hamada Nassar, konflik itu membuatnya gusar. Apalagi, keluarga besarnya ada sana. Inilah cerita pria asal Palestina yang kini menikahi wanita asal Kota Probolinggo.

 

 

KERUPUK udang berjejer rapi di dalam toples. Kerupuk udang berada di meja prasmanan dekat dengan daging bumbu merah yang dipotong persegi panjang. Isi di dalam toples itu dinikmati tamu yang berkunjung ke sebuah rumah di Jalan Gubernur Suryo, Kota Probolinggo.

Di luar rumah dibawah pohon yang rindang, terlihat beberapa orang dengan anak kecil yang sedang bermain. Mereka bersenda gurau. Memang tak banyak orang yang datang pada acara tasyakuran pernikahan ini. Sebab hanya keluarga dekat yang diundang.

Nah, di sudut ruangan rumah, terlihat 2 pasang mata yang sedang berbunga-bunga. Salah satu pasang mata itu berwarna hazel.  Dialah Hamada Nassar 32, pria asal Deir Al-balah, Palestina.

Hamada, sapaan akrab pemilik hidung mancung ini melakukan pernikahan antarnegara dengan Intan kencana Putri, 22, perempuan asal Jalan Gubenur Suryo, Kanigaran, Kota Probolinggo. Keduanya memang sedang merayakan hari bahagia mereka, dengan sejumlah kerabat.

Hamada dan Intan adalah sepasang kekasih yang akhirnya memilih menikah. Pertemuan mereka terbilang cukup lama, sekitar 3-4 tahun lalu. Keduanya bertemu di di daerah Ancol, Jakarta. Melalui teman, mereka bertukar nomor handphone hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.

Jasa ekspor-impor menjadi pekerjaan Hamada. Sementara Intan, saat ini bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta.

“Pertemuannya di Ancol bersama teman, dan saat itu kami sedang makan. Dari sanalah kami bertukar nomor handphone, lalu komunikasi dan berlanjut melalui via seluler. Akhirnya memutuskan untuk menikah,” ujar pria yang terhitung 6 tahun berada di Indonesia ini.

Pria yang juga menggeluti trading ini belum cakap benar berbahasa Indonesia. Terdengar ucapkan yang dilontarkannya masih menggunakan bahasa Inggris. Sesekali berbahasa Arab. Saat berkomunikasi, istrinyalah yang menjadi penerjemahnya.

Pernikahan sejatinya sudah berlangsung sejak Oktober 2020 lalu. Namun syukuran atas pernikahan dilakukan Minggu (16/5) lalu.

Menikah di masa pandemi Covit-19 dan berada di situasi yang mencekam pada perang antara Palestina dan Israel, membuatnya resah. Apalagi, ibu Hamada masih berada di Palestina, tepatnya berada di tengah-tengah kota di jalur Gaza. Tidak hanya ibu saja. Sebagian saudara-saudaranya dan keluarga besarnya, juga masih ada disana.

Sehingga untuk tetap memastikan keluarganya baik-baik saja, ia tetap intens berkomunikasi melalui panggilan video. Minimal 1 kali dalam sehari. Dengan waktu yang tidak tentu, lantaran perbandingan waktu Indonesia dengan Palestina terpaut 9 jam.

“Setiap melakukan video call, dentuman ledakan sangat terdengar. Sebab lokasi rumah di sana (Palestina, Red), tepat berada di tengah-tengah jalur Gaza. Sebenarnya resah saat melakukan video call. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk memastikan keadaan keluarga,” ujarnya melalui terjemahan istrinya.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, pria anak ke-6 dari 7 bersaudara ini baru selesai melakukan video call dengan keluarganya. Saat itu pula, tidak jauh dari rumahnya sekitar 3 meter bom yang meluncur dan meledak di samping rumahnya.

“Kehancuran bangunan banyak sekali. Tubuh-tubuh yang tertindih bangunan masih banyak yang belum bisa diambil. Setiap video call, pasti ada ada bom yang meluncur dan sangat terdengar,” ujar pria yang sudah tinggal di Turki tersebut.

Tepat sejak Hamada menikah tahun lalu, keluarganya yang berada di Palestina masih belum dapat mengunjungi Indonesia. Keluarganya, belum bertemu dengan mertuanya untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan Hamada dan Nassar.

“Tidak ada yang datang dari keluarga (Palestina,red). Sebab kondisi masih belum memungkinkan. Selain Covid-19, perang juga membuat semuanya serba sulit,” ujar pria yang memelihara jenggot itu.

Ia menyebutkan, adanya pandemi Covid 19 menyebabkan untuk mendapatkan visa sangat sulit. Tidak hanya untuk keluar dari wilayah Palestina, masuk pun juga sulit. Ditambah lagi bandara penerbangan yang dekat dengan wilayah rumahnya, sudah hancur di bom oleh Israel.

“(Sebenarnya) Bisa pulang tapi melalui Cairo Airport. Cukup jauh dari rumah. Jika ingin bepergian ke luar negari, harus jauh-jauh hari mempersiapkan dokumennya. Minimal 6 bulan,” ujar Intan menerjemahkan.

Hamada juga bercerita banyak, dampak dari peperangan yang terjadi di Palestina. Salah satunya saat ibundanya harus kehilangan buah hati sebanyak 9 kali. Akibat radiasi ataupun getaran yang ditimbulkan oleh bom yang diluncurkan Israel, ibunya mengalami keguguran.

“Jika hidup semua, saya 16 bersaudara. Namun 9 keguguran karena getaran yang dihasilkan oleh bom yang meledak,” ujar pria yang ayahnya sudah lama meninggal tersebut.

Photo
Photo
BAHAGIA: Intan Kencana Putri bersama suaminya, Hamada Nassar yang berasal dari Deir Al-balah, Palestina. Nampak Rahmadiah Toto(tengah), ibunda Intan. Foto: Agus Faiz Mulseh/Jawa Pos Radar Bromo)

Hamada juga menceritakan, sebelum ke Indonesia, dia sempat mengira bahwa NKRI adalah negara yang miskin. Namun saat sampai ke Indonesia, penilaian tersebut terbantah. Dia mendapati banyak bangunan-bangunan yang tinggi dan fasilitas-fasilitas umum yang bagus.

Kisah Hamada Nassar Bisa Tonton Disini

“Selain orang-orangnya baik hati, penting adalah banyak dari warga Indonesia yang sangat menjunjung tinggi kedamaian. Saya sangat senang dengan orang Indonesia,” ujarnya.

Setelah melakukan pernikahan antarnegara ini, Hamada menyebutkan, dia masih belum memastikan akan kembali ke Turki atau tinggal di Indonesia. “Jika selama 2 tahun peluang untuk membuka usaha besar, maka akan menetap di Indonesia. Jika tidak, maka akan kembali ke Turki,” ujarnya. (mu/fun) Editor : Fandi Armanto
#pria palestina nikahi wanita probolinggo #palestina dibom #konflik yahudi #israel-palestina