Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hafal Alquran di Usia Muda Zarin Diganjar Hadiah Umroh dari Pondok

Jawanto Arifin • Kamis, 13 Mei 2021 | 02:00 WIB
MASIH BELIA: Zarin (tengah) memegang hadiah trofi dan hadiah umrah atas hafal 30 juz Alquran bersama orang tuanya, Siti Aminah 51, dan Nur Nuhud (kanan-kiri Zarin). Ikut juga Hanifudin, (kemeja Dongker) dan Khoirul Idawati (hujab biru) pengasuh Pesantren
MASIH BELIA: Zarin (tengah) memegang hadiah trofi dan hadiah umrah atas hafal 30 juz Alquran bersama orang tuanya, Siti Aminah 51, dan Nur Nuhud (kanan-kiri Zarin). Ikut juga Hanifudin, (kemeja Dongker) dan Khoirul Idawati (hujab biru) pengasuh Pesantren
Di usianya yang masih muda, yakni 15 tahun, Cahaya Fairuza Azzarine Ramadan, sudah tuntas menghafalkan Alquran. Dia sudah menghafal 30 juz kitab suci tahun 2018 silam. Temponya juga terbilang sebentar. Delapan bulan. Dari sanalah mendapati predikat penghafal tercepat dan termuda.

---------------

BARU beberapa pekan Cahaya Fairuza Azzarine Ramadan berada di rumahnya, tepatnya di Desa/Kecamatan Gading. Dia baru pulang dari La raiba Hanifida, Jombang, pondok pesantren tempatnya menghafal Alquran

Potensi dan kecerdasan Zarin, sapaan akrab putri dari Siti Aminah, 51, dan Nur Nuhud, 51, sudah terlihat sejak masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kholafiyah Hasaniah. MI yang diasuh langsung oleh kedua orang tuanya, sudah memberikan pelajaran menghafal Alquran. Sejak itu ia sudah menghafal Juz Amma atau juz 30.

Lulus MI pada 2018, kedua orang tuanya mengajak Zarin ke pesantren La Raiba Hanifida, Jombang. Saat berada di sana ibunda Zarin menawarkan apakah anaknya tersebut mau untuk mondok di pesantren tersebut. Di luar dugaan ternyata Zarin mau.

Menurut Siti Aminah, ibunda Zarin, semasa masih sekolah di rumah, sempat ada ungkapan dari anaknya bahwa anaknyalah yang nanti bersedia untuk menjadi guru Tahfidzul Quran di lembaganya. Mengingat saat itu, yayasan yang dikelolanya sudah memiliki rumah Tahfiz Darul Quran Cahaya Quran, masih kebingungan pengajar tahfiz.

“Sebelumnya di tahun-tahun merintis rumah tahfiz, disini kebingungan pengajar. Anak saya saat itu bilang, sudah Umi, jangan bingung pengajar. Biar Zarin saja yang menghafal. Agar Umi tidak perlu bingung mencari tenaga pengajar. Mungkin dari sanalah motivasinya terbangun,” ujar wanita yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kholafiyah Hasaniah tersebut.

Photo
Photo
BENTUK PENGHORMATAN: Zarin saat menerima hadiah dan dicium oleh Khoir Idawati, pengasuh la Raiba Hanafida, Jombang. (Foto: Dok. Pribadi)

Perempuan asal Malang tersebut mengatakan, anaknya berhasil menghafal tuntas Alquran pada tahun pertamanya masuk pesantren. Tepatnya pada tahun 2018. Kira-kira saat usia Zarin masih 13 tahun.

Di saat anaknya mondok selama 11 bulan, ia bersama suaminya diminta untuk datang ke pondok oleh pihak pesantren. “Kami pada saat itu tidak tahu, kalau anak kami sudah menuntaskan hafalannya. Ditambah lagi mendapat predikat paling cepat dengan waktu 8 bulan dan paling muda. Ketika itu, air mata sudah tidak dapat dibendung,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Dari hasil prestasi yang didapatkan Zarin, pihak pesantren menghadiahkan perjalanan umroh kepada anaknya. Namun lantaran pada dua tahun ini masuk pada pandemi Covid-19, hadiah umrah tersebut masih belum tuntas dilakoninya.

Kebanggaan terus mengalir pada kedua orang tua Zarin. Sebelum Ramadan kali ini, penampilan Zarin menjadi pengajar saat memberikan materi pada pelatihan menghafal cepat Asmaul Husna bagi Guru Raudlatul Adfal (RA) dan MI se-Kabupaten Probolinggo, dan di MAN 2 Probolinggo. Disana juga terdapat guru Zarin yang sebelumnya mengajar pelatihan menghaf Asmaul Husna.

“Ini anak saya mengajar pelatihan menghafal cepat Asmaul Husna. Disana saya juga baru tahu bahwa materi penghafalannya sangat menyenangkan. Dulunya yang mengajar Zarin untuk menghafal, juga ikut di pelatihan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Zarin, remaja yang memiliki cita-cita menjadi mufassiroh (Penafsir) menuturkan bahwa semasa masih menghafalkan, dirinya sangat suka menghafal dalam keadaan sepi. Selain itu, sama seperti penghafal lainya, jenuh dan malas juga sempat menghampiri dirinya.

“Saat malas, ingat sama target hafalan. Baru semangat lagi. Memang ingin menghafalkan Alquran,” ujarnya.

Perempuan yang berencana melanjutkan studi di Pesantren alyasini Pasuruan ini mengatakan metode penghafalan dilakukan dengan menghafal surat pendek terlebih dahulu, untuk kemudian menghafal juz 30. Lalu dilanjut juz 1 hingga selesai.

“Ada metode percepatan rumus primer dan sekunder. Dari 13 jam pelajaran, 4 jamnya materi tahfiz. Setorannya dilakukan setiap hari dua lembar,” ujar perempuan yang juga pernah meraih juara 1 nasional KSN (Kompetensi Sain Madrasah) Mapel Bahasa Indonesia Tahun 2017 lalu tersebut.

Selain itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini memiliki rencana untuk melanjutkan studi universitasnya di luar negeri. “S1 ingin di Indonesia dulu. Kemudian S2-nya ingin di luar negeri (Kairo Mesir,red),” ujarnya. (agus faiz musleh/fun) Editor : Jawanto Arifin
#metode menghafal quran #menghafal alquran #hafiz probolinggo