Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Majda Qudsiyatul Malikh Sejak SD Sudah Mulai Menghafal Alquran

Jawanto Arifin • Rabu, 21 April 2021 | 15:21 WIB
MAHASISWI: Gaya Majda Qudsiyatul Malikh yang kini berkuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim. (Foto: Dok Pribadi)
MAHASISWI: Gaya Majda Qudsiyatul Malikh yang kini berkuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim. (Foto: Dok Pribadi)
Status Majda Qudsiyatul Malikh adalah mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di usianya yang masih belasan tahun, dia sudah menjadi hafizah. Berkat kegigihannya dia kini hafal 30 juz.

--------------

PUTRI pasangan suami istri (pasutri) Mohammad Sholeh dan Julaecha, warga Dusun Selokambang, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan ini, sudah mulai menghafal saat dia menjadi santri. Dia adalah santri di Ponpes Tahfidzil Quran Nurul Qudus, Selorawan, Cangkringmalang, Beji.

“Saya mulai menjadi hafizah sebenarnya sejak kelas IV MI. Selesai dan hafal sampai dengan 30 juz pada kelas III SMP. Atau enam tahun lamanya,” ujar Majda sapaan akrabnya.

Keinginannya menjadi hafizah berawal dari motivasi orang tua. Latar belakang keluarganya berorientasi agama. Sebab itulah saat dia masih duduk di kelas III madrasah ibtidaiyah sudah di tempatkan di pesantren.

Majda pernah mondok di Ponpes Al Hidayah, Karangploso, Malang. Di sana dia hanya bertahan enam bulan. Kemudian pindah ke Ponpes Tahfidzil Quran Nurul Qudus, Selorawan, Cangkringmalang, Beji. Di ponpes inilah, dirinya kemudian berhasil menghatamkan dan hafal Alquran 30 juz.

Photo
Photo
Menurut Majda, menjadi hafiz membuat kehidupannya harus selaras dengan kitab suci. (Foto: Dok Pribadi)

Ada proses yang dilalui selama itu. Baginya membutuhkan semangat yang tinggi. Sewaktu menghafal dia mengaku, kadang tidak bisa masuk-masuk hafalannya.

Pernah suatu ketika, suaranya hampir habis. Karena selalu mengulanginya. Dia bahkan pernah jatuh sakit dan rawat inap di rumah sakit hingga beberapa pekan.

Akan tetapi, itu semua tidak menjadikannya patah semangat. “Saya kuatkan keyakinan dan istiqomah. Akhirnya berhasil menghatamkan 30 juz hafalan. Saya diwisuda 21 April 2018, kala itu masih kelas X di SMKN 1 Beji,” katanya.

Perjuangannya untuk hafal Alquran 30 juz, ia tempuh menggunakan sejumlah metode. Antara lain bin-nazar, tahfiz, talaqqi, takrir dan tasmi’. Kelima metode tersebut telah diterapkan semua, semasa dirinya di Ponpes Tahfidzil Quran Nurul Qudus.

“Pertama kali menghafalkan juz 30 surah An Naba’, dan terakhir juz 20 surah An Naml. Bagian terpenting dalam proses menghafal adalah semangat juang besar, untuk menghafalkan Kalamullah yang mulia, menjaga dan menghafalkannya,” ujar anak pertama dari dua bersaudara ini.

Kian menekuni hafalan Alquran, ia pun semakin mengerti akan keistimewaan para penghafal quran. Salah satunya adalah menjadi ahlullah atau keluarga Allah. Karena orang yang hafal Alquran tidak akan jauh dari kitab sudi, termasuk saat dia menjalani hidupnya. Sehingga ia akan selalu taqorrub ila Allah. Kemudian penghafal Alquran, juga dijauhkan dari pikun.

“Dengan rajin menghafal, pikiran seorang penghafal sudah kuat. Karena terbiasa mengulang bacaannya. Selain itu, penghafal Alquran jauh lebih teliti karena otaknya sudah terlatih dengan ayat-ayat Alquran,” bebernya.

Selepas lulus dari SMK, kini ia menempuh studi sarjana strata satu di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dia mengambil jurusan pendidikan bahasa arab, dan kini menginjak semester dua. Selama menempuh studi kuliah, dia sekaligus mondok di Ponpes Sabilurosyad, Gasek Karang Besuki, Sukun, Kota Malang.

“Meskipun sudah kuliah, saya tetap aktif hafalan quran. Alhamdulillah juga diamanahi membantu nyemak di pondok,” tuturnya.

Sedikit motivasi darinya, untuk para sahabat yang mungkin lelah menghafal juga enggan untuk bangkit. Apalagi buat yang baru, atau masih ragu-ragu memulai hafalan.

“Ingatlah setiap hari baru adalah kesempatan untuk mengubah hidupmu. Seorang pemenang adalah pemimpi yang tidak menyerah. Jadi jangan ragu untuk mengepakkan sayapmu itu!,” cetusnya. (rizal fahmi syatori/fun) Editor : Jawanto Arifin
#hafiz pasuruan #mahasiswi uin maulana malik ibrahim