IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo
KESIBUKAN terlihat di ruang produksi kerajinan rotan di Banyupahit, Desa Bendungan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Beberapa pekerja serius mengerjakan tugasnya masing-masing.
Ada yang kebagian membentuk rotan. Ada pula yang kebagian mengayam hingga menghaluskan rotan. Hampir setiap hari aktivitas itu berlangsung.
"Kami punya kurang lebih 12 pekerja. Mereka memiliki tugas berbeda," kata Muhammad Sholeh, pemilik usaha rotan setempat.
Warga Banyupahit itu merintis kerajinan rotan tersebut sejak 1982. Sebelumnya, ia memang seorang pekerja di perusahaan rotan yang ada di Kraton dan Bangil. Hingga akhirnya, ada rekannya yang mengajak kerja sama.
"Saya diajak untuk berbisnis membuka kerajinan rotan sendiri," kenangnya.
Ia memulai bisnis bersama tiga rekannya. Usaha tersebut dilakoninya di wilayah Pohjentrek. Hingga beberapa lama, usaha tersebut bubar karena masalah internal.
Bapak dua anak ini pun kemudian membuka usaha sendiri. Kala itu, hanya ada delapan karyawan yang dimilikinya. "Tahun 1990-an, saya mulai membuka usaha mandiri. Tidak bersama teman-teman," ceritanya.
Sempat pindah-pindah tempat usaha, mulai di Bendungan, Kecamatan Kraton; Mojoparon, Kecamatan Rembang. Hingga akhirnya menetap di Banyupahit, Desa Bendungan, Kecamatan Kraton, sampai sekarang.
Beragam produk dibuatnya. Ada kursi, dipan, meja, dan produk lainnya. Harganya, bisa ratusan juta per produknya. Dipan rotan, harganya di kisaran Rp 950 ribu.
Lelaki 51 tahun ini menambahkan, setiap minggunya bisa memproduksi puluhan produk. Meja misalnya. Bisa sampai 30 per minggu. Belum yang lain.
Produk-produknya itu dikirim ke Sidoarjo. Oleh pihak buyer lokal di sanalah, produknya kemudian dikirim ke luar negeri. Tidak hanya Asia. Tetapi juga merambah Eropa.
Seperti Inggris, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya.
"Kalau Asia, seperti ke Jepang. Saya juga memasarkan produk ke Bali," ulasnya.
Dari kerajinan yang ditekuninya itu, omzet puluhan juta hingga ratusan juta bisa dikantonginya. Terlebih, kalau pesanan sedang ramai-ramainya.
Tapi, yang namanya usaha tak selalu berada di atas. Dia juga pernah kelimpungan untuk membayar gaji 12 karyawannya. Hal itu terjadi lantara tagihan dari pabrik tak kunjung keluar hingga dua bulan.
"Akhirnya, saya gadaikan BPKB mobil untuk membayar karyawan," ujarnya.
Ia pun sempat merasakan nasib usaha yang tak jelas, saat awal-awal terjadinya pandemi Covid-19. Bahkan, usahanya itu nyaris tutup lantaran tak bisa menerima orderan.
"Tapi untungnya hanya sebulan. Setelah itu berangsur normal hingga seperti sekarang," pungkasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin