RIZAL FAHMI SYATORI, Sukorejo, Radar Bromo
KERONCONG tak dapat dipisahkan dari sosok Andria Mayang Sari, 35. ASN PPL di Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan itu sudah bernyanyi keroncong sejak SMA.
Meski kini sudah menjadi ASN, ibu satu anak yang tinggal di perumahan Bukit Alam, Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, itu tetap bernyanyi keroncong. Dia bahkan kerap tampil di sejumlah acara. Mulai hajatan, kegiatan seni dan budaya, di kafe dan tempat lain.
Kadang dia tampil sendirian. Namun, juga sering tampil bersama grup musik keroncong Irama Nada. Di grup yang terbentuk 1,5 tahun lalu itu, Mayang –panggilannya- didapuk sebagai vokalis.
“Saya bernyanyi keroncong sejak SMA. Karena kecintaan saya pada musik keroncong ini, sampai sekarang pun tetap bernyanyi,” tuturnya.
Mayang sendiri mengenal keroncong dari seorang teman sekampungnya yang seorang penyanyi keroncong. Saat itu di Desa Sadang, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, dia sering diajak temannya itu latihan.
Dia pun mau saja. Dari sana, Mayang sering latihan dan bernyanyi bareng bersama temannya. Hingga akhirnya, dia jatuh hati pada musik keroncong ini.
“Saat awal-awal menyanyi keroncong, rasanya sulit dan canggung. Beda dengan lagu pop atau dangdut atau genre musik lainnya. Sebab, menyanyi keroncong harus mampu mengatur napas dengan baik. Termasuk menyesuaikan nada dengan pakem,” katanya.
Meski berlatih bernyanyi keroncong sejak SMA, Mayang jarang ikut lomba. Dia lebih suka tampil di kafe, acara hajatan atau kegiatan khusus. Bahkan, hingga saat ini.
Baginya, tampil di sebuah acara untuk bernyanyi keroncong memiliki pertimbangan sendiri. Sisi komersial bukan jadi pertimbangan utamanya.
Yang paling penting, menurutnya, yaitu melestarikan budaya bangsa. Selain itu, untuk menyalurkan hobinya akan musik keroncong.
“Keroncong ini budaya kita. Dan saat ini penyanyi keroncong makin jarang dan berkurang. Karena itu saya terus bernyanyi agar keroncong tidak punah,” tutur wanita berjilbab istri dari Handria Neo Saputra itu.
Meski eksis tampil, toh Mayang sempat merasakan grogi juga. Saat tampil di pelataran Candi Jawi, Kecamatan Prigen, pada 2019 dia sempat grogi.
Saat itu, dia tampil pertama kali dengan grup keroncong Irama Nada. Tampil di sebuah acara kebuayaan yang besar, juga membuatnya grogi.
“Saat itu juga dilihat para senior keroncong. Jadi akhirnya grogi. Tapi, saya juga bangga bisa tampil maksimal di depan mereka,” tuturnya.
Saat ini, pengidola penyanyi keroncong Sundari Sukotjo tersebut hafal puluhan lagu keroncong. Dia pun terus berlatih di rumah saat tidak ada kegiatan apapun.
Biasanya, setiap hari dia menyempatkan berlatih menyanyikan dua hingga tiga lagu. Lalu, sepekan sekali dia latihan bersama grup keroncong Irama Nada yang diikutinya.
Tugasnya sebagai PPL dan aktivitasnya sebagai penyanyi keroncong sampai saat ini tidak saling menganggu. Sebab, bagi Mayang, aktivitas ‘manggung’ itu dilakukannya di luar jam kerja. Karena dilakukan di luar jam kantor itulah, teman sekantor menurutnya jarang yang mengetahui aktivitasnya itu.
Yang penting, menurutnya, bisa menyesuaikan waktu dan tempat. Sehingga, keduanya tidak saling berbenturan. Juga dukungan penuh dari suami dan putranya selama ini.
“Keroncong adalah napas saya. Rasanya enjoy dan nyaman saat menyanyikannya. Ke depan insyaallah terus eksis. Doakan saja ya,” ujarnya. (hn) Editor : Muhammad Fahmi