---------------------
MENGAPA menjadi ikon? Sebab kios atau bedak potong rambut di pasar Kebonagung, lokasinya berjejer dan memanjang hingga menuju Puskesmas Kebonagung. Ada puluhan tukang potong rambut di sana, dan mereka saling bersaing sehat. Tempat ini biasanya ramai saat bulan puasa, apalagi jelang Lebaran.
Bahkan banyak pemudik yang pulang ke Pasuruan, selalu menyempatkan diri untuk merapikan rambut di kios ini. Tak lengkap rasanya Lebaran, jika tak potong rambut di kios Pasar Kebonagung. Semenjak bangunan kios baru mulai difungsikan, suasananya lebih bersih.
Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana, jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00. Menjelang siang hari, puluhan kios nampak sibuk memotong rambut. Sebagian, ada yang sibuk memainkan handphone, sembari menanti pelanggan.
Salah satu kios dihuni Ariyan, 36, warga Kejayan. Ia berjoin dengan temannya di bedak tersebut. Kalau pagi Ariyan, dan menjelang sore digantikan kawannya.
"Silakan, mau potong jenis apa," katanya menyapa pelanggan yang baru masuk ke bedaknya. "Rapi saja ya," sahut pelanggan yang datang itu.
Ariyan sempat menawarkan gaya rambut baru. Termasuk menunjukkan model yang ditempel di tembok. Modelnya seperti tempat cukur kebanyakan adalah artis luar negeri. Namun, di tempatnya ditambahi foto pelanggannya sendiri, bahkan fotonya sendiri juga dipajang.
"Iya siapa tahu ada yang ingin meniru. Jadi saya pajang foto hasil karya saya," katanya sambil melakukan aktivitasnya.
Sebelum memulai mencukur, Ariyan, terlebih memberi kain untuk menghindari potongan rambut ke baju. Terkadang, Ariyan juga memberi ‘servis’ seperti kebanyakan tukang cukur lainnya, seperti memijat. Di kiosnya, juga disediakan tape, yang siap memutar lagu-lagu dari radio.
"Saya sudah lama melakukan kegiatan ini (jadi tukang cukur, Red). Kira kira mulai 2008 lalu. Tetapi, tidak di sini saja. Pindah-pindah," kata pria satu anak itu.
Namun dia berada di Kebonagung hampir setahun setengah. Dalam waktu itu, sehari, ia pernah mencapai rekor mendapatkan keuntungan Rp 700 ribu. "Paling apes sehari Rp 200 ribu. Itu sebelum pandemi ya," katanya.
Waktu itu, angan-angannya sudah banyak. Bahkan hingga terealisasi membeli motor secara kredit. Juga membeli cincin emas buat istri tercintanya.
Tapi pandemi melanda. Semenjak Covid-19 menjadi wabah, pemasukannya juga ikut menurun. Sekarang, sehari dia hanya bisa mendapatkan Rp 40 - 50 ribu per hari.
"Pokoknya pandemi ini merubah semuanya. Pendapatan saya tinggal sedikit. Ya mungkin takut mau keluar rumah. Jadi yang potong sepi," tuturnya.
https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/15/01/2021/kios-potong-rambut-pasar-kebonagung-mulai-ditempati-retribusi-tetap/
Bahkan di hari itu, Ariyan mengaku baru mendapatkan pelanggan 5 orang, mulai pagi hingga siang. Jika tidak ada pandemi, dia bisa mencukur lebih sepuluh orang. Kondisi itu, memperburuk perekonomiannya.
"Yang pasti perekonomian semakin menyempit. Tanggungan banyak. Motor ini sudah beberapa kali ditagih. Belum lagi susu anak," jelasnya.
Ariyan sejauh ini tidak mencari penghasilan lain. Sebab keahliannya memang mencukur. Dia sudah buka mulai membuka cabang. Tetapi, itu masih belum mendukung dan perekonomian rumah tangganya, diakuinya belum baik benar.
"Baru tiga minggu saya buka cukuran di Kejayan. Ya semoga bisa membantu penghasilan. Sementara hanya buka malam. Itu ya dapat utang uangnya," katanya.
Hal berbeda dikatakan Sulhan, tukang cukur lain di kios Pasar Kebonagung. Menurutnya, sejauh ini pendapatannya tidak berkurang. Karena dia sudah banyak memiliki pelanggan.
Dia pun bangga menjadi tukang cukur. Sebab, tukang cukur minim risiko dan keuntungannya banyak. “Tetep sama. Sehari semalam bisa 35 kepala yang saya cukur. Hitung saja per kepala sekitar Rp 13 ribu," katanya.
Menurutnya, menjadi seorang tukang cukur ada kesenangan sendiri. Yaitu ketika pelanggan yang dicukurnya puas. Dengan begitu, ia merasa bangga." Itu yang saya rasakan," jelasnya.
Ia juga melihat peluang dengan dijadikan kios potong rambut di Pasar Kebonagung. Meski ada banyak kios, para tukang potong rambut, selalu bersaing sehat. Bahkan saling berbagi rezeki.
Misalnya ketika ada pelanggan yang datang ke salah satu kios, namun sedang ada yang potong rambut. Nah, pelanggan tersebut tidak perlu menunggu antrean. Pelanggan bisa memilih kios lainnya, sehingga tukang potong rambut lain bisa kecipratan rezeki.
"Rejeki ada yang ngatur. Dan inilah yang terjadi. Meskipun seperti ini tetap ramai," ungkapnya.
Kini dengan bangunan yang baru, para tukang rambut di kios Pasar Kebonagung berharap, pandemi segera berakhir. Mereka rindu akan keramaian dan panen rupiah. Apalagi, bulan suci Ramadan akan tiba. Mereka berharap, pelanggan beramai-ramai datang, untuk merapikan diri, demi menyambut Lebaran.
Di Lebaran tahun lalu saat kios masih belum dibangun, mereka sudah merasakan dampak pandemi. Kios tak seramai biasanya. Jika bangunan kios sudah baru, mereka berharap juga ada rezeki baru. (sid/fun) Editor : Jawanto Arifin