Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dedy S Mubarok, Pembuat Maket-Diorama yang Sering Kebanjiran Pesanan

Jawanto Arifin • Selasa, 16 Maret 2021 | 15:17 WIB
BUTUH KETELATENAN: Dedy Surya Mubarok menunjukkan diorama buatannya. Dia juga mahir membuat maket bangunan dengan skala kecil. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
BUTUH KETELATENAN: Dedy Surya Mubarok menunjukkan diorama buatannya. Dia juga mahir membuat maket bangunan dengan skala kecil. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
Sedari remaja, Dedy Surya Mubarok gemar dengan visualisasi tiga dimensi. Dia pun mulai menekuni hobinya dengan menggunakan bahan sekadarnya. Namun kini skill yang ia dapatkan secara otodidak itu menjadi ladang mengumpulkan pundi-pundi uang.

--------------

IA berkreasi di satu sisi ruang tamu rumahnya yang terletak di gang sempit di Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Ruang kerjanya itu hanya dibatasi dengan sekat tak sampai dua meter. Bersebelahan dengan ruang tamu.

Di sanalah, Dedy Surya Mubarok menggeluti lembaran-lembaran polimer termoplastik atau PVC. Hanya berbekal papan milimeter blok, pemuda berusia 23 tahun itu membentuk lembaran PVC menjadi ukuran kecil dan beragam.

Bentuknya menyerupai pintu rumah, jendela, dan atap. Ukurannya tentu jauh lebih mini dibandingkan bentuk asli. Dedy memang terbilang mahir membuat maket bangunan ataupun diorama.

Dia mengaku, semua itu diawali dari kesenangannya berkreasi dengan visualisasi tiga dimensi. “Mulai SMA sudah senang bikin miniatur-miniatur,” kata Dedy.

Bedanya, dulu ia membuat miniatur bangunan sekadarnya. Dia membuat maket dengan mencontoh bangunan yang sudah jadi. Bahan yang digunakan juga paling bagus hanya kertas karton.

Lama-lama, Dedy tak hanya tertarik membuat miniatur hanya untuk menyalurkan hobi. “Saya jadi sering ngikuti komunitas diorama di facebook,” kata Dedy.

Akhirnya, Dedy mencoba lebih serius membuat maket maupun diorama. Sebuah pameran yang digelar di P3GI pada 2016, menjadi titi mangsa bagi Dedy untuk merintis usahanya. Meski saat itu, produk yang ia pamerkan masih jauh dari harapan.

Photo
Photo
ADA SKALA: Contoh diorama buatan Dedy Mubarok. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Waktu itu kan masih belajar, jadi hasilnya juga masih kacau,” terangnya.

Namun ia tak mengira bahwa ajang pameran itulah yang kemudian menjadi titik awal usahanya. Beberapa bulan setelah pameran, ia mendapat pesanan maket bangunan salah satu sekolah SMA swasta di Kabupaten Pasuruan.

“Sebenarnya itu sudah pesanan ketiga, tapi itulah yang memakan biaya besar dan waktu yang tidak sebentar,” ujar Dedy.

Dia merampungkan maket bangunan dengan tiga lantai selama tiga bulan. “Dari segi omzet ya lumayan, karena waktu itu masih awal banget. Lumayan bisa buat belanja bahan lagi dan melengkapi peralatan,” katanya.

Misalnya saja untuk membeli peralatan air brush. “Dulu belum punya, akhirnya untuk mewarnai maketnya saya garap ke orang lain air brush-nya,” tuturnya.

Menurutnya, membuat maket atau diorama intinya tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama memerlukan ketelitian. Sebab, miniatur yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan desain. Memiliki bentuk yang presisi. Serta menampakkan detail sekecil apapun.

“Bedanya kalau diorama lebih real, misalnya warna agak kekusaman. Kalau maket yang untuk konstruksi memang dibuat detail, tapi rapi,” katanya.

Maket yang dibuatnya, biasanya berskala 1:100 agar bangunan lebih nampak detail. Namun ada juga pemesan yang meminta skala lebih kecil. Mulai dari 1:150 hingga 1:200.

Sedangkan untuk diorama ukurannya jauh lebih kecil. Sebab, diorama tidak dimaksudkan memberikan gambaran mengenai objek bangunan tanpa melihat objek aslinya. Melainkan hanya menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan.

Photo
Photo
BANYAK DIORDER: Pemesan diorama buatan Dedy sampai luar Jawa. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Sekarang yang paling banyak pesanan ya diorama. Karena memang untuk kolektor miniatur,” kata Dedy.

Bentuk yang dipesan juga lebih beragam. Seperti warteg, stasiun, atau bahkan rumah milik pemesan sendiri.

“Kalau yang diminta itu diorama rumah pribadi, biasanya saya minta foto dari berbagai sisi,” kata Dedy.

Namun tak semua pemesan menyertakan ukuran rumahnya secara detail. “Kebanyakan itu saya ngira-ngira sendiri. Jadi ukuran ujung tembok dengan pintu, atau antara pintu dengan jendela misalnya. Itu yang akhirnya lama saat membuat gambar,” jelasnya.

Meski baru lima tahun melakoni usahanya, Dedy sudah seringkali kebanjiran pesanan. Dia selama ini menawarkan produknya melalui marketplace maupun media sosial.

Pemesannya datang dari berbagai daerah. Tak hanya di Jawa. Diorama buatannya bahkan telah sampai ke Kalimantan hingga Sumatera.

“Kalau harga tergantung skala dan kerumitan saja. Kalau ukurannya kecil seperti warteg ya sekitar Rp 100 ribu dua biji. Kalau bentuk rumah kisaran Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu,” pungkasnya. (tom/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#pembuat maket #seniman pasuruan #pembuat diorama