Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Angga Ardiansyah-Bima Sakti, Belasan Tahun Jadi Penyiar Radio

Jawanto Arifin • Senin, 8 Februari 2021 | 15:11 WIB
LEBIH KEKINIAN: Bima Sakti (kiri) dan Angga Ardiansyah (kanan), menjadi penyiar Radio Ramapati selama belasan tahun. Keduanya terlibat dalam siaran radio masa dulu dengan radio kekinian yang lebih modern. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
LEBIH KEKINIAN: Bima Sakti (kiri) dan Angga Ardiansyah (kanan), menjadi penyiar Radio Ramapati selama belasan tahun. Keduanya terlibat dalam siaran radio masa dulu dengan radio kekinian yang lebih modern. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Tidak banyak orang yang menggeluti profesi sebagai penyiar radio selama belasan tahun. Di Kota Pasuruan, ada Angga Ardiansyah, 44 dan Bima Sakti, 44. Mereka selama ini dikenal sebagai penyiar radio milik Pemkot Pasuruan, Ramapati.

-------------

AWAL perkenalan Angga Ardiansyah dengan radio bermula saat ia mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Jember. Di sana, dia sempat menjadi penyiar salah satu radio swasta terkenal saat itu, Rosalina FM.

Cukup lama, empat tahun Angga jadi penyiar radio Rosalina FM. Dan pengalaman itu membuat Angga ingin berkiprah menjadi penyiar radio profesional.

Lulus kuliah, pria kelahiran Mei 1977 ini memilih tinggal di Pasuruan bersama kakeknya di Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso. Tak lama tinggal di Pasuruan, ia kenal dengan salah satu penjaga radio Ramapati bernama Mundino. Ia pun mencoba menjadi penyiar di sini sekitar tahun 2000.

"Namun saat itu, radio Ramapati masih belum FM (frekuensi modulasi). Saat itu masih AM (amplitudo modulasi). Saya sempat menjalani briefing selama dua bulan sebelum mulai jadi penyiar," ungkapnya.

Saat itu Angga mengasuh acara lagu pop setiap hari bakda Magrib. Selang tiga bulan, radio Ramapati pindah menjadi FM. Angga pun mengasuh acara ini hingga 2017.

Dia kemudian mengasuh acara dangdut koplo pada pukul 19.00 selama tiga tahun. Dan sejak 2020, ia menjadi reporter untuk Ramapati dan Kominfo Kota Pasuruan.

"Saat pertama jadi penyiar bayarannya hanya Rp 50 ribu per bulan. Tapi karena enjoy, saya menikmatinya. Apalagi penyiar radio ini memang profesi yang saya geluti sejak masih mahasiswa," jelasnya.

Berbeda dengan Angga, Bima Sakti menerangkan sudah menggeluti profesi sebagai master of ceremony (MC) dan presenter sejak masih SMA pada 1988. Bahkan, di rumahnya ia memiliki stasiun radio sendiri yang diberi nama Niko FM. Radio miliknya ini bisa didengar hingga wilayah Pandaan.

Lalu pada 2000, pria kelahiran Maret 1977 ini bergabung dengan Ramapati sebagai penerima telepon. Ia bertugas mencatat semua permintaan pendengar. Mulai lagu yang diminta hingga pesan yang disampaikan.

Namun, hal ini hanya dilakukannya selama enam bulan. Setelah itu, ia diminta menjadi marketing untuk mencari iklan bagi Ramapati.

"Sembari mencari iklan, saya menjadi penyiar untuk acara Oldies Indonesia. Yakni, tembang kenangan dan dangdut yang diputar pukul 12.00. Meski lebih berat justru saya senang karena bisa aktualisasi diri," terang pria asli Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, ini.

Angga mengaku dahulu menjadi penyiar radio layaknya artis. Setiap hari, ia sering didatangi oleh fans dan pendengar setia Ramapati.

Tak sekadar ingin bertemu. Mereka juga kerap minta tanda tangan, berfoto bersama, hingga membawa hadiah dan makanan. Mereka tidak hanya berasal dari areal Pasuruan. Namun ada yang dari Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

"Ada juga yang kirim ucapan lewat kartu pos. Isinya mengajak kenalan dan main ke rumahnya. Dan tidak hanya satu dua saja, setiap harinya saya bisa menerima sampai lima hadiah. Benar-benar berasa jadi artis," sebut lelaki kelahiran Sumenep, Madura ini.

Kondisi itu menurutnya, kadang memicu salah paham antarpenggemar. Pernah pada suatu waktu, ada dua penggemar datang bersamaan. Mereka sama-sama membawa hadiah.

Bima lantas menemui salah satu penggemar lebih dulu. Ternyata, penggemar yang lain salah paham dan cemburu. Bima dikira menyukai penggemar yang pertama.

"Tapi ada juga sesama penggemar malah jadian. Karena pernah ketemu pas datang ke Ramapati, mereka lantas bertukar salam. Akhirnya saling kenal dan malah pacaran," tutur pria yang tinggal di Perumahan Graha Indah, Kelurahan Krapyakrejo ini.

Meski saat ini radio tidak seperti dahulu, namun ia tidak takut kehilangan penggemar. Sebab, radio satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati sambil beraktivitas. Berbeda dengan televisi atau internet yang harus dilihat secara penuh. Bahkan, di home industry seperti bengkel atau kerajinan mebel, radio jadi sarana hiburan yang utama.

"Agar tidak ketinggalan zaman, Ramapati juga menyesuaikan. Sekarang sudah bisa didengarkan secara online. Dan penggemar juga bisa mengirim pesan melalui WhatsApp," pungkas bapak tiga anak ini.

Kepala Diskominfo Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat menyebut, mereka berdua aset yang menjadi jembatan penghubung antara radio masa dahulu menjadi media informasi kekinian. Sebagai pelaku di masa radio dulu, mereka diharapkan bisa meningkatkan performa Ramapati sebagai media informasi.

"Saat ini Ramapati bukan hanya sekadar menjadi radio, tapi juga media informasi. Baik terestrial dan digital. Banyak anak muda di sana yang kami minta untuk mengelola informasi pemkot agar menjadi kekinian," terang Kokoh. (riz/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#penyiar radio #ramapati fm #profesi penyiar radio